Bali at its best

Siapa dari kalian yang belum pernah ke Bali? pasti gak ada kan. Bahkan untuk kalangan wisatawan asing Bali mungkin lebih dikenal daripada Indonesia sendiri. Sebuah destinasi yang tak kenal musim – selalu ramai dikunjungi. Dengan pilihan yang tidak terbatas membuat salah satu pulau terbaik di dunia dari berbagai versi tidak cukup hanya sekali dikunjungi. Banyak dari kita ke Bali hanya bersantai di pinggir pantai, hang out di seminyak, berbelanja di Legian atau menikmati indahnya fasilitas villa di Ubud (seperti yang saya lakukan sebelumnya) padahal banyak sekali aktifitas yang dapat dilakukan disana yang akan membuat perjalanan ke Bali bukan hanya liburan rutin semata.

Seperti pada bulan Februari kemarin saya bersama rekan-rekan instagram saya seperti @kadekarini @asokaremadja @debucung dan @fernandchrs kebetulan diajak untuk bergabung dengan @thebaliactivities untuk menikmati Bali dengan cara yang sedikit berbeda dari kebiasaan saya. Mulai dari mengikuti kegiatan sea walking, arung jeram hingga spa di tempat yang lumayan premium, nggak cuma itu aja berbagai macam resto pun kami jajali yang belum kami ketahui sebelumnya.

Day 1

Kami tiba siang hari di Bali dari berbagai macam maskapai penerbangan dan diputuskan untuk berkumpul di restoran THE KITCHEN yang terletak di teras samping Sense Sunset Hotel Seminyak dekat dengan Bali Deli. Bingung naik apa dari Aiport Ngurah Rai ke pusat kota, saya memutuskan untuk naik Uber yang saat itu baru beroperasi di Bali. Satu persatu teman saya muncul dan kami segera memesan makanan dan minuman di The Kitchen. Menu makanan yang saya pesan saat itu Smoked Paprika Butterfish (Rp. 75.000) dan minumannya Cucumber Punch (Rp.38.000). Ditemani dengan dekorasi yang aktraktif ditambah semilir angin khas Bali membuat kerasan berlama lama disana. Hidangan modern western dan Asian fusion menjadi tema makan siang saat itu. Panasnya Bali saat itu dapat disejukan dengan minumannya yang dicampur secara kreatif dari buah-buahan segar.

Tak terasa waktu bergulir cepat dan kami segera menuju hotel untuk segera check in karena penerbangan pagi kami membuat badan rasanya enak untuk merebah sejenak. Lagi lagi kami menggunakan Uber menuju hotel, selain tidak repot harganya pun lebih murah dibanding model transportasi serupa. Akhirnya kami tiba juga di hotel TERRACE at KUTA. Hotel yang pernah menjajaki posisi wahid di Tripadvisor ini memang memberikan beberapa poin plus bagi yang menginap disana. Selain fasilitas yang lumayan lengkap (kolam renang, rooftop, dll), posisi di tengah legian dan harganya yang terjangkau membuat hotel ini menjadi pilihan tepat bagi yang ingin men-eksplore Bali dengan maksimal. Setelah mendapatkan kamar kami pun segera menulusuri sudut sudut hotel yang cukup photogenic. Setelah jeprat jepret sana sini di lingkungan hotel kami pun segera ke rooftop untuk menikmati indahnya sunset pulau dewata. Berpikir masih ada waktu untuk merasakan empuknya kasur hotel ini saya bergegas untuk tidur sejenak.

Ditengah lelapnya tidur sore kala itu kamar kami mendapat telfon karena harus bersiap-siap untuk makan malam. Memang ya kalau lagi liburan itu bawaanya lapar terus. Akhirnya kami meluncur untuk makan malam di KUKUSAN Steam Buns. Restoran kecil yang terletak di tepi jalan Gatot Subroto ini terlihat tidak begitu menonjol. Namun saya berani bertaruh kalau makanan disini sangat unik dan lezat. Dari judulnya terlihat kalau makanan khas yang dijual disini adalah roti kukus atau sejenis bakpao yang ditemani berbagai macam isian mulai dari beef rendang, red curry duck dan masih banyak lagi. Minumannya pun juga unik, beberapa disajikan dalam rantang berisikan buah-buahan yang menyegarkan.

Malam makin larut perut makin membucit saatnya kembali ke hotel untuk tidur nyenyak..

Day 2

Masih belum mau lepas dari kasur tapi pagi pagi kami harus bergegas sarapan karena hari ini kami akan melakukan aktifitas dalam rangkaian @thebaliactivities yang lumayan menguras tenaga. Setelah sarapan kami berkendara sekitar 1.5jam menuju wilayah karangasem untuk melakukan rafting!! Yeay yang model begini nih bikin liburan makin seru. Sesampainya di base kami diberi pengarahan mengenai trick dan safety saat melakukan rafting. Sudah gak sabar lagi akhirnya kami dibagi dalam 2 kelompok yang masing-masing boat berisi 4-5 orang. Perjalanan sepanjang 16 km menelusuri sungai deras yang akan memacu adrenalin. Setengah perjalanan terasa sedikit berat karena kami harus sering mengayuh karena debit airnya yang belum cukup deras. Sesekali kami harus merebahkan badan karena di depan kami ada pohon yang jatuh melintang. Beberapa air terjun cantik pun kami lewati. Suhu yang sejuk di Karangasem membuat keringat tidak mengucur deras. Sampai akhirnya cuaca berubah drastis dari cerah ke gelap dan akhirnya hujan deras. Bukannya takut karena hujan malah perjalanan rafting akan semakin seru karena debit air semakin meningkat. Kami tidak perlu bersusah payah mengayuh karena kapal dengan sendirinya meluncur dengan cepat. Ditengah hujan deras kami pun sampai pada titik kapal kami akan meluncur melewati jurang setinggi 4 meter. Sensasi yang luar biasa menegangkan pada saat kapal kami terjun bebas menerjang derasnya arus sungai. Meskipun salah satu teman kami sempat terjatuh keluar dari kapal namun secara keseluruhan aktifitas ini sungguh berkesan. Akhirnya perjalanan sepanjang 16km pun usai dan kami digiring ke base untuk mandi dan makan siang.

Badan tentu saja terasa capek dan pegal setelah arung jeram – masih dalam rangkaian @thebaliactivities – sejatinya kami pergi untuk memanjakan diri dan melenturkan badan yang masih kaku di Puri Tirta Spa yang terletak di Sanur. Layaknya masuk ke taman bermain bagi kaum kerajaan disini terdapat kolam renang dengan pemandangan alam yang indah, tempat tunggu bagi anak kecil lengkap dengan mainannya juga bar untuk sekedar ngobrol selepas memanjakan diri. Ditemani lagu yang membuat rileks saya pun memilih paket spa 1 jam. Teknik pemijatan yang professional dibalur dalam minyak almond membuat badan saya segar bugar dibuatnya. Dan tak kalah penting tempatnya itu sangat bersih baik area indoor maupun outdoor.

Perut pun mulai keroncongan akhirnya kami memutuskan untuk makan malam di daerah Sanur. Sanur mungkin dikenal sebagai area yang kurang cocok dengan kehidupan anak muda. Tapi jangan salah sekarang area ini memiliki sebuah Restaurant/Bar layaknya di daerah seminyak lengkap dengan club jika malam sudah larut, Nu Lazer namanya. Mungkin inilah salah satu magnet bagi anak muda yang menetap di Sanur, Designya yang modern ditambah menu makanan-minuman yang sangat variatif membuat tempat ini ramai dikunjungi. Tak hanya itu saja alunan musik elektronik dan chill pun siap menemani pengunjungnya.

Day 3

Keseruan dalam @thebaliactivites belum usai. Hari ini kami isi dengan kegiatan seawalking. Saya pribadi belum pernah tau apa itu sea walking sebelumnya. Pagi setelah sarapan kami segera menuju Puri Santrian hotel and resort tempat dimana kegiatan seawalking dimulai. Seperti biasa, sebelum memulai aktifitas ini kami diberi pengarahan mengenai instruksi keselamatan dalam melakukan kegiatan tersebut. Agaak deg degan sih, bukan karena takut tapi ngebayangin bakal keren banget nih jalan didasar laut ditemenin ratusan hingga ribuan ikan hias berwarna warni.

Kami pun digiring ke pinggir laut dan segera memakai helm kedap udara untuk menyelam. Awalnya agak berat beban helm tersebut kalau diudara, namun jika sudah di dalam air tidak terasa memakai helm. Perlahan lahan kami berjalan didasar laut dan ikan pun segera menghampiri kami, tangan pun tak tahan untuk segera menyentuh mereka. Tak hanya ikan yang berwarna warni di dasar laut pun terdapat batu karang yang berwarna warni sebagai sumber penghidupan ikan tersebut.

Tak terasa waktu sudah habis untuk menikmati indahnya biota laut pantai sanur ini. kami pun segera menuju Cafe Smorgas untuk menikmati makan siang. sudah tentu sehabis aktifitas seawalking perut tak lagi bisa diajak kompromi. Dengan hidangan yang kebanyakan khas Swedia kami pun memesan hidangan yang unik khususnya snadwich khas Swedia. Ternyata di kawasan Sanur ini banyak resto enak dan tempat wisata yang menarik ya.. selama ini saya cuma berkutat di Seminyak atau Kuta.

tak terasa hari ini merupakan waktu untuk berpisah, sebuah pengalaman baru berlibur di Bali bagi saya. Lain waktu saya mau lagi mencoba lagi hal2 yang seru dari @thebaliactivities seperti bersepeda dll. bukan hanya kegiatannya yang atraktif namun harganya yang kompetitif dibanding penyedia jasa liburan yang lain. see you again Bali!!

Emilie Nicolas; The next big thing in music industry

Pernah gak sih ketika dengar sebuah lagu pertama kalinya, seketika itu juga kepala dan badan merasakan sensasi yang tidak biasa? Mau senang, sedih atau campur aduk masing-masing pasti punya kesan tersendiri terhadap musik favoritnya. Seperti itu juga ketika gw mendengarkan lagu dari Emilie Nicolas, musisi yang berasal Norwegia. Awal tahu musisi ini sebenarnya dari salah satu idola gw sejak tahun 2013, Lorde yang sengaja ngetweet salah satu hits dari Emilie Nicolas – Pstero yang dianggapnya “share our little secrets”.

Bukan rahasia lagi kalau kita sebagai penggemar electro pop melihat Scandinavia sebagai sarang musisi electro. Makin kesini makin kreatif musiknya, tapi coba dengar deh lebih detail negara mana yang lebih ngepop dan mana yang lebih ngesynth. Norway yang mengusung Röyksopp dimana Swedia telah mengangkat Robyn, Tove Lo, The Cardigans, Swedish House Mafia, Avicii dan masih banyak lagi memasuki tangga lagu pop internasional. Tapi bisa dilihat juga mana yang lebih dekat hubungan industri musiknya ke Amerika? Hahah duh kenapa gw jadi kesannya bias ya.. anyway let’s take a closer look to this underdog!

Dibesarkan oleh keluarga pecinta seni di luar kota Oslo (Trondheim) sejak tahun 1988, Jazz dan Bossa Nova memiliki pengaruh kuat dalam aransemen musiknya. Karena latar belakang itulah jadi agak susah menebak ritme dalam sebuah lagunya, or it’s just me? Bisa dibilang bukan lagu yang karaoke-able. Kadang sebuah lagu hanya cocok untuk didengarkan daripada dinyanyikan, cocok buat yang isi kepalanya kebanyakan halusinasi. Karakter suara yang imut namun dingin ditambah kekuatan vokal yang konstan membuat penampilannya di dalam sebuah koser melebihi ekspektasi penontonnya.

Bukan hanya vokalis yang menjadi bintangnya tapi juga sang penabuh drum elektronik sekaligus produser di album Like I’m a Warrior, Eivind Helgerød mencuri perhatian penikmat album ini. Penampilannya di setiap konser yang spektakuler dengan pengahayatan yang mendalam membuat suasana konser Emilie Nicolas selalu mendapat respon yang sangat positif.

Note: sementara album Like I’m a Warrior hanya tersedia di iTunes store Norway, Spotify dll. Direncanakan release internasional awal tahun depan.

The Melting Pot Jakarta The Real Cheese Fondue

Apa sih yang bikin kamu kangen Swiss selain pegunungan Alpine dengan segala keindahan negerinya? Sudah pasti kangen juga dengan Cheese Fondue nya yang khas itu. Memang masih menjadi perdebatan mengenai asal muasal dari cheese fondue ini, ada yang menyebut dari Prancis ataupun Swiss. Untuk membuatnya adil saya berkesimpulan kalau makanan ini berasal dari Negara Swiss yang berbahasa Prancis dengan kata lain Swiss bagian selatan, toh tetanggaan juga.

Cheese fondue memiliki arti keju yang meleleh cocok dihidangkan sebagai makanan tengah untuk kongkow bersama teman atau keluarga. Keju lumer dalam mulut berjalan hangat hingga ke dalam perut cocok disajikan pada saat musim dingin ditemani segelas white wine. Konon apabila makan cheese fondue hindari minuman yang dapat membuat keju menggumpal seperti minum jus, beer bahkan air putih, gak masuk akal sih tapi daripada beresiko mending minum teh hangat, white wine atau kirsch yang lebih disarankan.

P1010060
Cheese Fondue restaurant in Luzern, Swiss.
P1010061
Garlic Cheese Fondue

Kerinduan saya akan cheese fondue ini akhirnya terbayar oleh hadirnya sebuah restoran yang menyajikan cheese fondue original di tengah pusat perbelanjaan Jakarta. Tak perlu lagi melamun tentang lezatnya cheese fondue, sekarang tinggal datang ke The Melting Pot  Fondue Restaurant di Plaza Senayan dan voila hangatnya lelehan keju gurih sudah siap tersaji. Tak hanya kelezatan cheese fondue yang akan didapat disini, pengalaman meracik serta filosofinya membuat restoran ini patut dikunjungi.

Penasaran akan apa yang ditawarkan dari restoran ini saya mencicipi hidangan mulai dari pembuka hingga penutup. Uniknya cheese fondue disini diposisikan sebagai starter atau pembuka daripada sebagai hidangan utama (saya pun baru tahu kalau sebelum salad ada makanan pembuka sebelumnya seperti keju, yoghurt dll dalam hal table manner). Urutan makanannya adalah sebagai berikut:

  • Cheese Fondue: berbagai jenis menu disajikan sesuai dengan selera pelanggan. Bagi yang suka dengan rasa keju gurih yang kuat bisa mencoba menu Cheddar (Cheddar + Emmenthal), Rp.108K pp. Bagi yang ingin mencoba keaslian cita rasa cheese Fondue sebenarnya bisa mencoba Classic Alpine Swiss ( Gruyere, Raclette dan keju Fontina), Rp. 128K pp.
  • Salad: Restoran ini memiliki dressing house blend untuk saladnya yaitu untuk The Melting Pot House Salad, Rp. 68K yang menurut saya agak creamy dan manis. Karena lebih suka sensasi asam di dalam salad saya lebih menyukai California Salad dengan saus Raspberry Vinaigrette nya ditambah keju Gorgozola yang beraroma kuat, Rp. 64K.
  • Entrée: Sebagai menu utama disini disajikan hidangan mulai dari seafood, ayam hingga daging merah. Setelah memilih jenis makanannya kita dipersilahkan untuk memilih metode memasaknya: Mojo (direbus dengan kuah sayuran beraroma bawang putih dan jeruk yang kuat) Rp. 68K, Coq Au Vin (direbus dalam anggur merah dengan aroma rempah , herbal dan jamur) Rp. 98K dan Bourguignonne (digoreng dalam mangkuk penuh minyak Canola dan dibungkus oleh adonan khasnya) Rp. 88K. Saya pun memilih bourguignone yang notabene paling heboh metode masaknya.
  • Dessert: sebagai penutup saya sempurnakan dengan Chocolate Fondue. Ada 2 jenis penyajian chocolate Fondue disini: Yin & Yang (paduan white dengan milk/dark chocolate dibuat secara manual dengan tangan terampil chefnya) dan Caramel Nut Flambéed (meskipun sangat manis atraksi kobaran api diatas lelehan coklat membuat saya memilih ini).

Buat yang ingin mencoba semua menu diatas dapat memilih set menu mulai dari harga Rp.468K++ sampai Rp. 598K++. Boleh bangga karena The Melting Pot yang berasal dari negri Paman Sam memilih Jakarta sebagai cabang pioneernya di Asia. Keramahan dan informatifnya pramusaji ditambah suasana restoran yang nyaman tidak hanya dapat melepas lapar tapi juga penuh dengan pengalaman . Keaslian cita rasa keju asli dari negara asal nya membuat menu masakannya jadi tidak asal asalan.

 

The Melting Pot Fondue Restaurant Jakarta

Jl. Asia Afrika No.8 Level P5 Unit CP516

Jakarta 10270

Phone/Fax: 021 5790 6057 / 57906056

Operational Hours: 11.30 – 23.00 (Sun – Thu) & 11.30 – 00.00 (Fri – Sat/Public Holiday/Eve)

MLDare2Fly (Flyboarding)

MLDare2fly

Ketika banyak kompetisi di digital media menawarkan begitu banyak hadiah. Namun yang satu ini patut diacungi jempol. Gak tanggung tanggung 5 pemenang dari kompetisi MLDare2Fly telah diberangkatkan ke Bali selama 3 hari 2 malam dengan kegiatan utama yaitu menjajal Flyboarding selama 2 hari berturut turut di Tanjung Benoa. Tapi gak cuma itu aja penginapan di hotel kelas atas dan kegiatan lainnya pun bisa dibilang jor joran mulai dari beach club hopping buat makan siang atau hanya leyeh leyeh menikmati sunset sampai menghabiskan malam di club paling exclusive di Bali saat ini. Dan yang gak kalah seru saya termasuk dalam salah satu pemenangya, yess! *wink wink*

Continue reading MLDare2Fly (Flyboarding)

5 Kedai Kopi Terbaik di Tangerang Selatan

Budaya kopi sedang berkembang pesat di seantero Indonesia sejak beberapa tahun yang lalu. Tidak ketinggalan masing masing kota memiliki kedai kopi unggulannya ketika ibukota Jakarta sudah jenuh akan persaingannya. Contohnya di Tangerang selatan yang letaknya tidak begitu jauh dari pusat ibukota, tiap beberapa bulan ada saja kedai kopi baru bermuculan. Namun apakah semua sesuai dengan kriteria bagi penikmat kopi sebenarnya?

Continue reading 5 Kedai Kopi Terbaik di Tangerang Selatan

Trekking di New Zealand

Terlepas dari mudahnya akses untuk menikmati keindahan alam di New Zealand. Trekking di New Zealand merupakan agenda wajib yang dilakukan para pelancongnya. Selain akan terpana akan keindahan alam yang berbeda dari gambar yang teresebar pada umumnya, pengalaman trekking akan merubah cara pandang kita menikmati sebuah anugrah Tuhan, semakin kita berkorban semakin dalam kesan yang akan membekas. Bukankah itu tujuan kita traveling, demi mendapatkan kesan yang begitu mendalam agar dapat menghibur isi otak yang penuh dengan segala kekhawatiran?

DSC_0234

Continue reading Trekking di New Zealand

Scenic Road New Zealand

Cara terbaik untuk menikmati New Zealand adalah dengan menggunakan kendaraan bermotor. Tidak diragukan kalau kondisi jalan yang mulus dan sepi menambah kenyamanan berkendara di seluruh New Zealand. Sangking sepi nya gak kerasa kalau kecepatan mobil sering melebihi batas yg ditentukan, hati2 aja sama speed camera atau polisi yg sedang berpatroli karena siap menyergap anda yg melanggar aturan hahaha.. Pemandangan yang luar biasa cantik dan habitatnya akan setia menemani perjalanan selama menelusuri landscape disana.

Berikut beberapa scenic road  New Zealand yang tidak boleh dilewatkan selama road trip:

  1. Desert Road (North Island).

Rute sepanjang 10km ini terletak di Street Highway 1 (SH1) yang berawal di Rangipo dan berakhir di Waiouru. Dalam perjalanan ini kita akan melewati pegunungan vulkanik Ruapehu, Tongariro dan Ngaruhoe yang merupakan pegunungan tertinggi di North Island. Tidak hanya itu keunikan padang rumput yang menghampar luas membuat perjalanan ini begitu berbeda dengan pemandangan NZ pada umumnya karena memiliki iklim mikro khusus. Jangan heran kalau musim gugur sudah turun salju disini padahal kalau dilihat dari letak geografis nya yang masih di North Island kecil kemungkinan turun salju nya dan kalau Winter jalanan ini sering ditutup.

Jika perjalanan dilanjutkan ke arah selatan (Wellington) maka kita juga akan melewati Manawatu scenic drive, disini kita akan melewati sungai2 jernih dan lembah2 hijau yg depenuhi domba2.

Continue reading Scenic Road New Zealand

NEW ZEALAND II (SOUTH ISLAND)

South Island

Hari ketujuh (Bleinheim – Arthur’s Pass)

Pagi2 kami terbangun jam 7 gara2 kicauan burung yang ber-tubi2 padahal masih kurang tidur. Tanpa menolak panggilan alam saya pun keluar mobil dan mendapati suasana pagi yang begitu segar dan cerah. Sambil minum kopi di pinggir Lake Elterwater ditemani angsa2 hitam dan lagu kesukaan sambil halu halu manis, duh jadi kangen kesana lagi 🙁

Gak kerasa sudah lewat jam 9 dan kebetulan sudah 2 hari gak mandi. Berkat Campermate saya pun menemukan public shower yang terletak di kolam renang di kota Bleinheim. Cukup membayar 6 NZD dapat air panas sepuasnya, suegerrr! Selesai mandi kami pun menuju destinasi berikutnya yaitu Arthur’s Pass. Sepanjang perjalanan kita akan melewati garis pantai timur NZ yang begitu dramatis, Kaikoura namanya. Di NZ ini jalan nya kan mulus dan jarang kendaraan, walhasil gak kerasa saya ngebut sampai diatas 100km/jam. Kebetulan ada polantas yg lagi sembunyi, yaudah kena speed ticket lah karena melebihi kecepatan maksimum. Denda yg harus sy bayar 80NZD dan lucunya saya tidak bisa bayar di tempat melainkan bayar melalui website dan dikasih waktu 28 hari dr tanggal kejadian (kata polisi nya, saya punya uang buat makan siang jadi gak perlu bayar di tempat, wkwkkw jadi inget polisi indo J). Eh lagi nulis begini jadi inget juga kalau belum bayar hahaha..mudah2an belum lewat 28 hari nih. Kami pun berhenti sejenak di pinggir pantai kaikoura sambil minum2 cantik.

Perjalanan kami lanjutkan menuju Castle Hill. Singkat cerita, Castle Hill pada tahun 2002 dinobatkan sebagai “Spiritual Center of the Universe” oleh Dalai Lama. Dalai Lama tidak menyukai energi yg ada di kota Chrischurch dikarenakan katedral yg dibangun di sana mengambil batu dari Caste Hill, akhirnya Dalai Lama dibawa ke tempat sumber batu tadi dan dia merasakan energy spiritual yang luar biasa dan terkesima akan landscape nya. Hmm.. bukan nya mau ikut2an Dalai Lama, saya juga mengalami hal yg tidak biasa mengunjungi tempat ini, gak tau kenapa bawaannya merinding banget (serem) apa karena udah sore dan sendirian ya makanya merinding. Teman saya yang menunggu di parkiran katanya juga agak diganggu dengan suara yg mengagetkan dari luar di toilet tempat mobil kami parkir hirr.. Horror tapi keren! Lah piye? Karena keadaan sudah semakin gelap kami segera mencari camp site untuk menginap kali ini kami menginap di Lake Pearson Moana Rua Camp Ground (gratis). Wah lumayan rame nih kali ini campsite site, lebih dari 10 mobil menginap disana, tenaang.. Tak kami sadari sebenarnya malam itu sedang ada Aurora Australis, sebuah fenomena cahaya malam hari berwarna warni yg terlihat biasanya pada saat musim dingin, sesuai namanya fenomena ini terjadi di bagian selatan kutub – berlawanan dengan Aurora Borealis (northern lights).

Continue reading NEW ZEALAND II (SOUTH ISLAND)

NEW ZEALAND II (NORTH ISLAND)

NEW ZEALAND AGAIN

Woooh.. Akhirnya saya bisa kembali lagi ke tanah yg menurut saya menyerupai surga (kayak udah pernah aja? yah setidaknya ini lah gambaran saya mengenai indahnya surga). Meskipun bagi sebagian orang agak mubazir mengunjungi sebuah tempat untuk kedua kali nya namun rasa rindu dan memiliki tempat ini begitu besar di dalam diri saya membuat perjalanan ini semenarik perjalanan saya pertama kali atau bisa dibilang berbeda. Bedanya apa? 1. Kali ini saya mengunjungi 2 pulau utama NZ yaitu North dan South Island. 2. Dari segi waktu jelas lebih lama hampir 3 minggu. Meskipun lebih lama mudah2an ditulis lebih ringkas padat dan tetap informatif yak.. Amin.. 3. Pergi di musim gugur yg mana waktu pertama kali musim dingin. 4. Kali ini saya lebih banyak trekking alias naik gunungnya meskipun agak memberi kesan horror sih.. mau tau gimana horornya ya baca deh sampe abis hehe..

Continue reading NEW ZEALAND II (NORTH ISLAND)

Aceh Sabang

Conclusion

Terbarat namun tak sekuler, tersakiti namun tak mendendam.

Sebuah propinsi yang dulunya diperlakukan khusus oleh pemerintah ini memberikan kesan tersendiri bagi saya. Budaya, sejarah, tragedi dan keindahan alam bercampur aduk membuat suasana hati pada saat itu bingung memposisikannya, mau euforia tapi lagi di Masjid, mau stay composed tapi di pantai..

Relapse

Membuka lembaran baru di awal 2015 saya mulai dengan perjalanan yang agak berbeda sedikit dari kebiasaan sebelumnya. Perjalanan kali ini di latar belakangi rasa penasaran saya untuk berpergian dengan sebuah grup yang pesertanya buanyak banget yang tidak saya kenal sebelumnya dalam kehidupan nyata. Kebetulan perjalanan ini di arrange oleh Getlost Magz under Panorama roof atau sebaliknya yah? hehe.. Trip kali ini dilakukan dalam 4 hari 3 malam dengan jadwal yang sangat padat. You won’t miss any attraction kalo ikut trip Getlost Magz ini dan keren nya mereka merekrut guide lokal yang mumpuni juga *standing ovation. Kalau dari segi harga, paket nya bisa dibilang kompetitif gak perlu keluar duit lagi selain beli souvenir atau keperluan pribadi lainnya karena semua sudah termasuk. Kalau pergi sendiri sih saya yakin bakal lebih dari harga paket yang saya ambil.

Sebagai pribadi yang pemalu agak bingung sebenarnya masuk kedalam sebuah komunitas yang sudah terbentuk sebelumnya. Namun dengan sedikit sentuhan palu kecil saja akhirnya es pun pecah. Beruntung orang orang yang ada semuanya ramah dan hangat. Beberapa diantaranya pun menjadi sahabat. Banyak hal postif yang di dapat dari perjalanan kali ini membuat saya semakin toleran dan terbuka pikirannya.

Highlighted Trip

Untuk detail itinerary bisa di liat disini

Hari Pertama: Highlight hari ini diawali dengan mengunjungi Musium Tsunami. Sebuah bangunan modern yang didanai oleh pihak asing dengan arsitek anak bangsa (Ridwan Kamil) mempunyai memori tersendiri, siap siap mental aja sih apalagi setelah menonton video theater nya. Sebuah musium yang mengungkap tragedi Tsunami terbesar sepanjang sejarah (korban). Sejenak kami di musium tersebut terpaksa harus mengejar ferry untuk menyebrang ke pulau Sabang. Sesampai di Sabang pun kami mengunjungi beberapa spot sunset seperti Monumen “I Love Sabang” dan Sabang Hills.  Hari pun sudah gelap sekitar jam 7.30 malam (siklus mataharinya agak mundur sejam dibanding Jakarta) kami pun segera menuju tempat menginap dan makan malam disana, Freddie Sumur Tiga namanya. Surgaaa!! beneran ini hotel keren abis. Posisi diatas tebing, punya pantai pribadi, dengan lounge yang terbuka.


Continue reading Aceh Sabang

%d bloggers like this: