ETAPORAMA
DSC_0398.jpg

STORIES

stories about traveling, music, lifestyle by etaporama

Aceh Sabang

Masjid Raya Baiturrahman Aceh
Terbarat namun tak sekuler, tersakiti namun tak mendendam.

Sebuah propinsi yang dulunya diperlakukan khusus oleh pemerintah ini memberikan kesan tersendiri bagi saya. Budaya, sejarah, tragedi dan keindahan alam bercampur aduk membuat suasana hati pada saat itu bingung memposisikannya, mau euforia tapi lagi di Masjid, mau stay composed tapi di pantai..

Relapse

Membuka lembaran baru di awal 2015 saya mulai dengan perjalanan yang agak berbeda sedikit dari kebiasaan sebelumnya. Perjalanan kali ini di latar belakangi rasa penasaran saya untuk berpergian dengan sebuah grup yang pesertanya buanyak banget yang tidak saya kenal sebelumnya dalam kehidupan nyata. Kebetulan perjalanan ini di arrange oleh Getlost Magz under Panorama roof atau sebaliknya yah? hehe.. Trip kali ini dilakukan dalam 4 hari 3 malam dengan jadwal yang sangat padat. You won't miss any attraction kalo ikut trip Getlost Magz ini dan keren nya mereka merekrut guide lokal yang mumpuni juga *standing ovation. Kalau dari segi harga, paket nya bisa dibilang kompetitif gak perlu keluar duit lagi selain beli souvenir atau keperluan pribadi lainnya karena semua sudah termasuk. Kalau pergi sendiri sih saya yakin bakal lebih dari harga paket yang saya ambil.

Sebagai pribadi yang pemalu agak bingung sebenarnya masuk kedalam sebuah komunitas yang sudah terbentuk sebelumnya. Namun dengan sedikit sentuhan palu kecil saja akhirnya es pun pecah. Beruntung orang orang yang ada semuanya ramah dan hangat. Beberapa diantaranya pun menjadi sahabat. Banyak hal postif yang di dapat dari perjalanan kali ini membuat saya semakin toleran dan terbuka pikirannya.

Highlighted Trip

Untuk detail itinerary bisa di liat disini

Hari Pertama: Highlight hari ini diawali dengan mengunjungi Musium Tsunami. Sebuah bangunan modern yang didanai oleh pihak asing dengan arsitek anak bangsa (Ridwan Kamil) mempunyai memori tersendiri, siap siap mental aja sih apalagi setelah menonton video theater nya. Sebuah musium yang mengungkap tragedi Tsunami terbesar sepanjang sejarah (korban). Sejenak kami di musium tersebut terpaksa harus mengejar ferry untuk menyebrang ke pulau Sabang. Sesampai di Sabang pun kami mengunjungi beberapa spot sunset seperti Monumen "I Love Sabang" dan Sabang Hills.  Hari pun sudah gelap sekitar jam 7.30 malam (siklus mataharinya agak mundur sejam dibanding Jakarta) kami pun segera menuju tempat menginap dan makan malam disana, Freddie Sumur Tiga namanya. Surgaaa!! beneran ini hotel keren abis. Posisi diatas tebing, punya pantai pribadi, dengan lounge yang terbuka.

Hari Kedua:

Setelah menikmati sunrise di area hotel kami pun bergegas menuju area area scenic mulai dari pantai, danau hingga titik Nol Kilometer Indonesia. Jiwa raga hari ini pun harus fit karena dijadwalkan untuk melakukan snorkling  di Pulau Rubiah. Kalau untuk urusan alam bawah laut memang Indonesia Raya juaranya, meskipun karang disitu tidak terlalu berwarna warni namun jumlah ikannya banyak sekali jadi yaa pinter pinter cari spot lah ya..

Hari ketiga:

Sebelum kita pindah tempat kembali ke Aceh kita menyempatkan untuk mengunjungi Air Terjun Pria Laot. Setelah berpanas panasan beberapa hari ini lumayan menyejukan juga perjalanan menuju air terjun ini, apalagi kalau jalan sendirian di tengah hutan melalui bebatuan besar, menyebrangi sungai. Sempet deg deg an sih karena saya jalan sendiri waktu itu, ditinggal karena kelamaan motret hehehe.. (sengaja). Selesai dari Air terjun kami menuju ke Bunker Jepang, meskipun namanya terkesan angker (emang serem sih) namun pemandangan disini luar biasa indahnya menatap lautan lepas laut Andaman. Selesai tempat ini kami segerakembali ke Aceh dan langsung mengunjungi Boat diatas rumah dan PLTD yang masing terbawa arus tsunami setinggi 20 meter ke area pemukiman warga. Miris sekali mendengar kesaksian dari seseorang survivor yg pada saat itu rela menjelaskan kronologinya, meskipun saya tahu tidak mudah untuk menceritakan kejadian yang begitu traumatis. Malam hari ini pun ditutup dengan pembagian door prize dari para sponsor perjalanan ini sekaligus merayakan ulang tahun salah satu peserta trip ini. Hahaha seru yak udah dapet jalan2nya dapet hadiah pula, balik modal!! Setelah euforia dapet door prize saatnya memanjatkan puji syukur kepada Tuhan YME dengan mengunjungi Masjid Baiturrahman dan sholat Isya disana. Meskipun sudah larut malam masjid ini tidak luntur kemegahannya. FYI, lantai marmer nya wangi lho padahal kan sudah diinjak ratusan orang pada hari itu.

Hari Keempat:

Belum puas mengunjungi Masjid Baiturrahman pagi hari kami kembali kesana, kali ini ramai sekali mungkin karena hari minggu jadi banyak juga yang lari di sekitaran Masjid ini. Termasuk beberapa teman saya yg mnenyempatkan lari disini, kalau saya sih mending cari sarapan lokal di samping masjid deh.. mudah2an barokah yah. Selepas check out dari hotel Grand Nangroe kami pun menunaikan salah satu kegiatan yang cukup unik dalam rangkaian sebuah perjalanan yaitu program CSR Menanam bakau yg disponsori oleh Teh Kotak dalam kampanyenya Thanks To Nature. I am glad to be part of it. Akhirnya perjalanan pun ditutup dengan mengunjungi toko souvenir di kota Banda Aceh sebelum kami menuju airport.

Akhir kata sebuah pengalaman baru lagi untuk saya pribadi ikut serta dalam sebuah grup tur besar yang megasyikan ini. Nambah teman, sahabat dan pengalaman baru.