ETAPORAMA
DSC_0398.jpg

STORIES

stories about traveling, music, lifestyle by etaporama

Berburu Makanan di Singapore

Menjadi kiblat peradaban modern asia tenggara akankah Singapore kedepannya menjadi kiblat makanan asia tenggara setelah banyak mendapatkan segudang pengahargaan Michelin Star untuk beberapa makanan kiosnya?

Beberapa waktu yang lalu saya menyempatkan diri ke Singapore untuk menjajal beberapa restoran yang telah viral di media mulai dari Singapore: The Layover with Anthony Bourdain hingga The Michelin Guide Singapore 2016 yang kali ini menganugerahkan banyak kios jajanan yang harganya relatif murah. Anthony bourdain sendiri merupakan Chef, penulis dan TV personality yang terkenal akan kesukaanya terhadap makanan exotic dan keberaniannya mencicipi hidangan yang menguji nyali seperti testikel kambing hingga mata anjing laut tapi justru menurutnya makanan yang paling menijikan adalah Chicken Mcnugget. Kemunculannya di media merupakan bentuk kekesalannya terhadap beberapa celebrity chefs akan komersialisme yang dilakukan sebelumnya yang menurut dia jauh dari nilai otentik dan original. Sedangkan Michelin Guide sendiri merupakan sebuah penghargaan yang diberikan kepada sebuah restoran atau juru masak di dunia yang dinilai oleh beberapa juri miliknya, dari beberapa aspek yang lebih luas (kualitas, teknik memasak, pelayanan, harga dan konsistensi). Bintang Michelin merupakan sebuah pencapaian “agak mulia” bagi para pemilik restoran atau juru masak di dunia -meskipun memiliki kontoversi- karena dapat meningkatkan nilai jual yang fantastis dari sebuah karyanya. Khusus untuk kios jajanan yang harganya relatif murah (dalam standar negaranya) Michelin Guide mengkotakannya dalam anugerah Bib Gourmand.

Oleh karena hal tersebut saya memutuskan untuk pergi ke singapore hanya untuk mencicipi hidangan yang telah direkomendasi mereka, lagipula Singapore bukan lagi sebagai tujuan wisata lambang supremasi, warga Indonesia bisa datang tiap minggunya layaknya mereka liburan keluar kota sejenak. Berikut Restoran yang saya datangi selama di Singapore 3 hari 2 malam:

Anthony Bourdain’s:

  • Tian Tian Chicken Rice.

Address: 1 Kadayanallur St, #01-10/11, Maxwell Food Centre, Maxwell Food Centre, Singapore 069184.

MRT Station: Chinatown

Price: S$4 untuk chicken rice, S$12 untuk setengah ayam utuh diluar nasi.

Antrian di Tian Tian Chicken Rice

Antrian di Tian Tian Chicken Rice

Jangan salahkan Anthony Bourdain mengapa kios makanan ini mengular antriannya. Sejak kemunculan dalam program No Reservation dan mendapat penghargaan lainnya tempat ini menjadi incaran baik warga lokal mauput turis international untuk mencicipi hidangan Chicken Rice yang melegenda. Kalau sudah sampai di Maxwell Food Center mudah sekali untuk merujuk tempat ini karena terlihat antriannya yang paling panjang – agak miris melihat kios lainnya yang menjual makanan yang serupa. Luangkan sekitar 30 menit untuk mengantri di luar jam makan siang, kalau jam makan siang siap-siap berperang dengan pekerja kantoran yang sekali pesan bisa 5 bungkus atau lebih. Saya waktu itu memesan setengah ayam utuh dan nasi seharga S$12, kalau hanya chicken rice aja sih S$4, maklum anaknya cangok.

Tian Tian Chicken Rice half menu

Tian Tian Chicken Rice half menu

Kesaksian: Rasa daging ayamnya sih datar banget dengan tekstur kulit yang lumer di lidah tapi ketika ditambah saus rahasia mereka yang berminyak itu jadi terasa gurih, uniknya daging disajikan dingin dengan saus yang hangat. Kalau dari nasinya, super wangi dan terasa kuat gurih kelapanya namun sangat berminyak. Overall it’s only worth15 minutes line. Diluar itu pesan saja chicken rice disebelahnya – saya rasa enaknya bakal sama saja. :p Siapa yang harus dimaafkan? Lidah saya yang terbiasa oleh rasa yang kuat atau memang originalitas rasa yang memang tidak perlu segitu kuatnya?

  • Bismillah Briyani

Address: 50 Dunlop St, Singapore 209379 (Little India)

MRT Station: Rochor

Price: S$15 untuk Mutton Briyani, S$8.5 Chicken Briyani, S$4 Mango Lassi.

Mutton Biryani

Mutton Biryani

Dikenal sebagai nasi biryani dari India bagian selatan yang otentik, sebagai penggemar nasi biryani yang berkuah kari (dalcha) restoran ini tak luput dari incaran saya. Juga Dikunjungi oleh Anthony Bourdain dalam program the Layover; Singapore namun restoran ini tidak begitu ramai dikunjungi saat saya makan siang disana, mungkin karena baru buka juga sekitar jam 11 siang. Restoran ini memiliki slogan “Making money is our secondary objective. Making good tasting and least unhealthy food is primary. Taste counts but your health matters most”. O ow.. alarm saya mulai berbunyi “masakan sehat biasanya kan gak begitu enak ya?”. Sekali lagi maafkan saya yang terkesan skeptis.

Kesaksian: Agak terkejut ketika mencoba nasi biryani ini. Mungkin harapan saya terlalu tinggi akan rasa rempahnya yang kuat, yang pada kenyataanya berbeda, bukan tidak enak tapi berbeda! Berwarna agak pucat dan tanpa dalcha (kuah kari bercampur kol etc), sebagai pengganti menggunakan semacam yoghurt dengan daun ketumbar (yes luckily coriander beats everything). Yang saya mengerti tentang nasi basmati adalah makin kering nasinya semakin bagus kualitasnya sehingga menyerap rempah lebih baik dan juga karena teksturnya mirip makan kapas membuatnya tidak cepat kenyang. Apa yang saya rasa saat itu adalah kaldu kambing nya yang lebih kuat daripada rempahnya dan tekstur nasi yang agak basah membuatnya cepat kenyang. Tapi yang membuat perut saya senang adalah kualitas daging domba yang lembut dan kuantitas yang melimpah yang bersembunyi di dalam nasinya. Dipercaya menggunakan nasi basmati kualitas tinggi dengan proses memasak turun temurun dan menggunakan rempah rempah kualitas wahid tak heran satu porsi Mutton Biryani dihargai S$15.

Apakah ini sebenarnya Dum Biryani yang asli sehingga lidah saya yang terbiasa makan nasi biryani murahan salah menduga? Yang berharap ada kuah kari untuk mengalahkan originalitas rempah pada nasi basmati siap-siap kecewa.

Michelin Guide Singapore 2016:

  • Hong Heng Fried Sotong Prawn Mee

83 Seng Poh Rd, Tiong Bahru Food Centre, #02-01, Singapore 168898

MRT Station: Tiong Bahru

Price: S$3 (small). S$4 (Medium). S$5 (Large)

Michelin guide baru baru ini sekitar bulan Juli 2016 menaruh kios jajanan ini sebagai peta makanan Bib Gourmand di Singapore. Dari sekian banyak hokkian mie di Singapore - mungkin ratusan apakah mereka para juri mecoba satu persatu? Untungnya meskipun sudah mendapat predikat dari Michelin Guide kios ini tidak begitu ramai, terbukti dua kali kesana tanpa antrian yang berarti. Satu hal yang membuat saya terkesan akan kios ini adalah kawasannya, yaitu Tiong Bahru. Kalau bukan karena tempat makan ini mungkin saya tidak akan pernah menghunjungi kawasan Tiong Bahru yang ternyata memberikan kesan mendalam (sampai 2 kali kesana). Lupakan Haji Lane yang sudah over exposure dengan mural ala ala nya. Disini kita bisa menikmati jalanan yang relative sepi dan besar dihiasi pohon rindang dengan arsitektur art deco yang seragam pada pemukimannya dengan sesekali menemukan mural yang membuat kesan tidak dipaksakan.

Kesaksian: Terlepas dari penjurian Michelin star yang entah mengunakan juri warga local atau orang barat yang katanya taste-less. Namun saya akhirnya menemukan makanan - atau tempat? favorit saya selama di Singapore. Antrian yang terbilang nihil membuat ular yang ada di perut saya tidak sempat naik ke otak untuk merubah nafsu makan saya. Mie dengan kuah kental gurih dengan sedkit adukan telur bercampur dengan potongan udang dan sotong tersaji mengepul panas dalam sebuah piring melamin bernoda. Disajikan dengan condiment berupa sambal yang menurut saya mengandung terasi ditambah potongan jeruk limau untuk menghilangkan rasa amis, mungkin. Jangan pula berharap rasanya segurih mie tek tek karena keseimbangan rasa khas makanan hokkien dengan seafood begitu sempurna dengan sedikit godaan pedas dan wangi limau membuatnya begitu pas, tidak berlebih tidak sensasional. Sebenarnya porsi kecilnya cukup besar untuk satu orang, tapi karena rasanya cukup ringan membuat porsi medium bisa saya lahap sendiri, tergantung sebesar apa ular di perut anda.

  • Hong Kong Soy Sauce Chicken

Smith St Food Centre #02-127, Singapore

MRT Station: Chinatown

Price: S$2 untuk Hong Kong Soya Sauce Chicken Rice, S$2.5 Hong Kong Soya Sauce Chicken Noodle S$2.5 Hong Kong Soya Sauce Chicken Hor Fun.

Hong Kong Soy Sauce Chicken Noodle
Hong Kong Soy Sauce Chicken Noodle

Juru masak yang sebenarnya berasal dari Ipoh ini akhirnya juga mendapatkan penghargaan tertinggi di bidang kuliner yaitu Michelin star atau tepatnya Bib Gourmand. Tak hanya enak, menurut warga local untuk satu potong ayam utuh dihargai hanya S$14 yang mana di tempat lain bisa dua kali lipatnya. Dimana lagi anda bisa mendapat makanan berpredikat Michelin Star dengan cukup merogoh kocek S$2? Terletak di lantai 2 gedung Chinatown food center - bukan di gangnya yang penuh dengan makanan target turis, kios ini memiliki antrian yang sangat panjang dan lama. Luangkan waktu setidaknya 1 jam untuk mengantri. Meskipun mengantri seperti anda ketahui barisan disana sangat teratur, jika saja ada yang menyelak mungkin dilempar langsung ke bui (berani macam macam dengan orang lapar? Singaporean? kelar). Mengantri 1 jam dalam godaan kilau kulit ayam kecoklatan cukup membuat saya sedikit kesal. Untungnya masa penantian pasti ada akhirnya. Saya pun memesan HK Soya Sauce Chicken Rice dan HK Soya sauce noodle total S$4.5, di Singapore!

Hong Kong Soy Sauce Chicken Noodle/Rice

Hong Kong Soy Sauce Chicken Noodle/Rice

Kesaksian: Pada saat chicken rice disajikan saya cuma bisa terheran “hah begini doang”? Dalam arti, ada nasi bentuk kobokan, lalu beberapa potongan ayam yang tulangnya besar lalu kuah soy sauce disiram diatas nasi. Apa bedanya sama nasi semur ya? Betul saja ketika dirasa, tidak ada spesialnya sedikitpun, nasi – kecap – ayam yasudah tak perlu dideskripsikan. Baiklah mungkin itu diatas standar S$2 orang Singapore. Lain ceritanya dengan HK soya sauce noodle. Meskipun tidak disajikan diatas hotplate namun tampilannya saja sudah menggoda. Mie kuning panas dilumuri soya sauce jauh lebih banyak ditambah potongan ayam yang kebetulan lebih berdaging dan ada sayurannya. Yang menjadi sensasi pada menu ini adalah tekstur mie nya yang licin lalu pecah di lidah, macam selasih, ya gak sih? Saya bisa menghabiskan mie dengan sausnya saja tanpa binatang di sampingya, sangking enaknya. Berbicara mengenai sausnya saya rasa ini cocok dengan lidah saya atau mungkin kalian juga yang terbiasa dengan perisa buatan, kuat sekali. Membuat saya berpikir bahwa juri Michelin Guide tidak selamanya tasteless atau mungkin sangking tasteless nya tidak bisa membedakan mana yang menggunakan perisa buatan mana yang tidak. Jadi antrian 1 jam tadi bisa saya maafkan.

Sebenarnya ada incaran tempat makan di Singapore lainnya yang menurut saya patut dicoba atas saran warga local seperti Ho Guan Satay Bee Hoon di Changi Village namun saat saya kesana sedang libur dan juga Hamid’s Biryani di Geylang yang saat saya datangi sedang renovasi. Mungkin lain waktu disaat semuanya buka saya akan berkunjung kesana lagi. Sampai jumpa di perjalanan dan cerita berikutnya ya..

note: Jangan salahkan selera, kalo kata teman saya jika selera kita sama semuanya masuk surga dong..