ETAPORAMA
DSC_0398.jpg

STORIES

stories about traveling, music, lifestyle by etaporama

Cambodia

kamboja

Kali ini Saya akan bercerita pengalaman saya jalan2 ke Kamboja / Cambodia / Khmer. Sebelum menentukan tujuan kami ke Kamboja sebetulnya saya lebih pengen pergi ke Hanoi, Vietnam. Namun tiket yang tersedia tidak memungkinkan alias mahal, akhirnya kami putuskan untuk pergi ke Phom Penh dan Siem Reap aja dengan menggunakan Air Asia dengan harga tiket total 2.5 jt-an/ orang (July 5 - July 9 2012), tiket dibeli secara terpisah JKT-KL-JKT dan KL-PP, SS-KL.

Hari pertama

Kami pergi ke KL pagi hari sekitar jam 8, sampai di KL jam 11 dan lanjut terbang ke Phnom Penh jam 3 sore. Perjalanan JKT ke KL sih lancar2 aja, namun saat terbangdari KL ke Phnom Penh pesawat yg kami gunakan mengalami masalah, selama 30 menit tidak bisa naik2 pesawatnya dan bunyi mesin jetnya juga bikin drop, mati nyala mati nyala (Bayangin aja perasaan antara hidup dan mati selama 30 menit, feels like forever!), setelah 30 menit terbang akhirnya diputuskan untuk kembali ke KL lcc. Dengan perasaan yang sangat was2 pada saat akan mendarat, pesawat tersebut mendarat dengan kasar dan berhenti dengan sangat mendadak, membuat kami seluruh penumpang hanya menunduk dan berdoa. Pesawat ini standby di runway hampir 1.5 jam menunggu mobil derek. Selama menunggu itu awak pesawat pun tidak menjelaskan apa2 kepada penumpang apa yang sedang terjadi.

Akhirnya setelah menunggu ada juga petugas bandara yang datang dan mengevakuasi kami. Setelah proses evakuasi selesai kami dipindahkan ke pesawat yang baru sehingga membuat kami telat sampai di Phnom Penh sampai 3-4 jam. Setibanya di Int’l Airport di Phnom Penh kami menuju kemigrasian untuk keluar airport dan segera mencari money changer. Info: mata uang yang berlaku disana USD dan Riel, tapi justru USD lebih familiar dan dihargai. Jadi cukup bawa USD saja.

Di terminal sudah berjejer airport taxi dengan tarif yang standar menuju pusat kota Phnom Penh yaitu 9 USD dan kalo naik tuk tuk 7 USD. Kami menginap di hotel Amanjaya Pancham Hotel, Posisinya tepat di sebelah Wat Ounalom dan di depan sungai Mekong. Setelah check in kami bergegas untuk cari makan malam, dan salah satu top list restaurant disana ada di sebelah hotel tempat kami menginap. Kalau dari segi rasa mirip dengan masakan Thailand.

Hari kedua

Setelah sarapan kami pun pergi ke receptionist untuk mengkonfirmasi tur yang akan kami ambil yaitu, Killing Fields (Choeng Ek) dan Tuol Sleng (Security Prison 21/S21) tour. Harga paket tournya ini berkisar 60 USD (Private tour 8 jam) kendaraan Harrier lengkap dengan supir, akan lebih murah jatuhnya kalo lebih banyak peserta nya. Kami berangkat pukul 10 dan tujuan kami pertama adalah Killing Fields, karena letaknya yang agak dipinggir kota. Perjalanan kesana kita akan melewati pinggiran kota Phom Penh yang mirip banget dengat keadaan pinggiran Jakarta, padat, sangat berdebu dan jalanan nya rusak.

Sebelum saya melanjutkan cerita ini saya ingin memberitahu bahwa hal ini bukanlah hal yang menyenangkan untuk diceritakan ataupun dibaca!! Kalian bisa skip ke Hari Ketiga jika tidak ingin membaca ini.

Sejarah Singkat: Khmer Rouge mengambil alih pemerintahan Kamboja 1975 -1979. Pada saat itu mereka telah melakukan genocide (pembasmian suatu kaum) kepada lebih dari 2 juta penduduk Kamboja yang menjadi korban. Pemerintahan yang dipimpin oleh Pol Pot ini didukung oleh kaum petani dan masyarakat bawah umumnya karena kekesalan mereka kepada pemerintahan sebelumnya. Sasaran genocide pun tertuju pada kaum bourgeois, cendekiawan, orang2 yang pro-Western, dosen2 dan lebih parahnya pemakai kacamata pun ikut menjadi sasaran karena dianggap pintar. Kota yang pertama kali ditaklukan adalah Phnom Penh, pada saat itu kota tersebut dikosongkan dan dihancurkan dari bangunan2 modern karena Pol Pot berniat membangun Negara itu dari awal dengan ideology ke agrarian, sekolah2 pun dibumi hanguskan (Back to year zero!). Mereka menyebar isu bahwa Amerika akan membom Atom kota phnom penh dan disarankan untuk segera mengungsi ke daerah persawahan diluar kota Phnom Penh, setelah kota tersebut bersih dari manusia mulai lah tank2 milik khmer merah menghancurkan gedung2, rumah2 mereka, sedangkan warga yang telah mengungsi di persawahan tadi dipakasa berkerja untuk untuk bercocok tanam padi. Kebanyakan dari mereka meninggal akibat kerja paksa, gizi buruk dan tidak adanya layanan kesehatan. Rezim ini berakhir ketika kalah berperang melawan Vietnam pada tahun 1979. 

Tibalah kami di Killing Fields, sebelum masuk kita lebih baik menyewa Audio Guide di pintu depan karena didalam area tidak ada tour guide (gak boleh berisik untuk menghormati tempat sakral tsb), kita harus membayar 5 USD untuk menyewa audio guide dan map area tsb. Petualangan horror pun dimulai, saya hanya akan menceritakan sedikit apa yang terdapat disana ya, karena seharusnya kalian berkunjung ke tempat ini secara langsung. Secara umum tempat ini adalah lahan luas rindang dikelilingi sawah, tapi semakin kita masuk kedalam area tersebut semakin mistis hawanya, karena bakal ditemukan banyak sekali kubangan2, yang ternyata itu adalah hasil ekskavasi/penggalian lubang2 mayat yang ditumpuk menjadi satu. Killing Fields ini intinya adalah salah satu tempat konsentrasi pembunuhan massal pada regime Pol Pot memimpin. Korban yang berada disini kebanyakan wanita dan anak2 kecil. Disini terdapat Pohon yang dijadikan untuk membunuh anak kecil dengan cara kaki diikat, dipegang dan dibenturkan kepalanya hingga tewas layaknya sedang mengayuh stick baseball, sungguh kejam! Ada pula sebuah pohon yg digunakan untuk menggantungkan speaker2 pengeras lagu khas komunis kamboja sehingga suara jeritan korban dapat dikelabui dengan music dari speaker tersebut. (Di Walkman yg saya gunakan terdengar suara musik yang keras cempreng juga suara mesin diesel yg bersisik) benar2 mencekam!! Disini pun masih banyak ditemukan pakaian2 korban karena sebetulnya kejadian ini masih terbilang baru sekitar tahun 1979. My Deepest condolences to all the victims, Rest in Peace!

Selesai dari Killing Fields perjalanan kami teruskan ke Tuol Sleng (Security Prison 21 / S21). Jika dilihat dari luar bangunan ini layaknya bangunan sekolah biasa dengan pos keamanan di depan, di pos ini lah saya menyewa tour guide local seharga 10 USD. Awalnya yang kami lihat adalah taman bermain yang indah dilengkapi kursi2 santai, lapangan olahraga dan 3 gedung utama. Kami pun menuju lapangan utama disitu terdapat papan yg memuat peraturan2 yang berlaku di penjara ini, tulisannya sbb:

1. You must answer accordingly to my question. Don’t turn them away.

2. Don’t try to hide the facts by making pretexts this and that, you are strictly prohibited to contest me.

3. Don’t be a fool for you are a chap who dares to thwart the revolution.

4. You must immediately answer my questions without wasting time to reflect.

5. Don’t tell me either about your immoralities or the essence of the revolution.

6. While getting lashes or electrification you must not cry at all.

7. Do nothing, sit still and wait for my orders. If there is no order, keep quiet. When I ask you to do something, you must do it right away without protesting.

8. Don’t make pretext about Kampuchea Krom in order to hide your secret or traitor.

9. If you don’t follow all the above rules, you shall get many lashes of electric wire.

10. If you disobey any point of my regulations you shall get either ten lashes or five shocks of electric discharge.

Benar2 peraturan yang sangat tidak manusiawi!! Faktanya jauh lebih parah dari yang disebutkan diatas. Setelah itu kami memasuki gedung pertama, dimana gedung ini adalah gedung yang paling di awetkan. Disini terdapat ruang penyiksaan pada saat interogasi. Korban dipaksa untuk telanjang, disetrum, dicabut kukunya, disetrika, dicabut pentilnya,  dan juga derendam air mendidih sampai mereka menjawab dengan benar. Alat2 yang digunakan untuk menyiksa pun masih lengkap tersimpan di kamar tersebut.

Lalu dilanjutkan ke gedung yang kedua, dimana terdapat kamar yang digunakan untuk menahan para tawanan (orang2 pintar, orang kaya dan keluarganya, dll). Kamarnya luasnya 1 x 1.5 meter, diisi satu tawanan, tidak disediakan toilet, jika ingin buang air kecil atau besar disediakan box besi, kaki dipasung, tawanan hanya diberikan makan 2 kali dengan bubur encer dan 2 gelas air satu hari, tidak disediakan alas tidur.

Gedung ketiga kurang lebih sama dengan gedung kedua namun pada saat ini dijadikan sebagai museum untuk menyimpan dokumentasi foto para korban. Untungnya pihak Khmer Rouge sengaja mendokumentasikan para tawanan/korban dengan maksud tidak terlewat satu pun sasarannya dan untuk mencari jejak keturunanya yang pasti akan dihabisi juga. Karena mereka sangat takut akan dendam para keturunannya.

Seluruh gedung ini terbungkus oleh kawat berduri, selain untuk mencegah tawanan kabur dan juga untuk menghindari tawanan bunuh diri sehingga pihak Khmer tidak akan mendapatkan informasi yang cukup. Di halaman bermain pun terdapat 3 tiang gantungan dan 3 kendi, yang pada masa itu digunakan untuk mencelup kepala korban ke dalam air panas sampai tidak sadarkan diri.

Gedung sekolah (Penjara) ini pun ditemukan oleh tentara Vietnam yang sedang membebaskan kamboja dari penguasa khmer merah, pada saat ditemukan masih ada mayat2 yang katanya masih baru disiksa, para prajurit dan interrogator sudah mengetahui bahwa penjara ini akan diserbu oleh tentara Vietnam jadi ya pada kabur duluan. Tentara Vietnam pun membuat makam yg layak bagi mayat2 tersebut di halaman sekolah yang sampai saat ini makamnya sangat terawat. Dan mereka pula lah yang menemukan dokumentasi foto para tawanan dan korban yg sengaja disimpan rapih oleh pihak khmer rouge.

Kejadian2 yang ada disini dilukiskan oleh seorang seniman yang pada saat itu menjadi tawanan khmer rouge, namun karena dianggap skillnya bermanfaat bagi pemimpin penjara saat itu (Mechanic Genset saat itu) dia tidak disiksa dan bisa melarikan diri. Sejak itu lah dia memulai untuk mengilustrasikan kejadian2 mengerikan di dalam penjara ini menurut pengalaman nya.

Sampai sini aja saya ceritanya, bikin pusing!

Selesai tour pun kami melanjutkan untuk makan sore di restoran Perancis terkenal Comme a la Maison karena memang dulunya Kamboja ini kan Jajahan Perancis, jadi ya banyak resto Perancis disini.

Hari ketiga

Kami memustuskan untuk menggunakan private car (camry) dari hotel menuju Siem Reap yang ditempuh dalam waktu 5-6 jam, sungguh membosankan karena pemandangan selama perjalanan tidak begitu istimewa, dataran yg sangat rata dan luas yg sebagian besar hanya ditanami padi. Sebenarnya ada banyak Bus yang melayani rute ini namun menurut saya busnya kurang nyaman untuk perjalanan 5-6 jam dan sepenglihatan saya selama perjalanan ada beberapa bus yg mogok di jalanan, untung saya pake mobil biasa hehehe.. Kami berangkat dari Phnom Penh jam 1 siang, sampai di Siem Reap pukul 6 sore.

Kami menginap di Royal crown hotel yg posisinya dekat dengan Night Market. Kota Siem Reap ini kalo boleh saya gambarkan mirip dengan kota Bogor, banyak pohon besar dan rindang tapi disini plusnya ada sungai cantik. Setelah check ini pun kami jalan2 keluar hotel untuk cari makan dengan menggunakan tuk tuk di area Night Market. Setelah makan malam kami berpikir untuk menikmati klub malam yang ada di Pub Street, cukup banyak pilihannya dengan kebanyakan music yg dimainkan layaknya disko2 di Jakarta seru sih karena crowdnya kebanyakan expat dibandingkan warga lokalnya sendiri.

Hari Keempat

Hari ini kami mengambil tour Angkor wat ditemani oleh seorang guide tour. Tour ini biaya nya 50 USD per orang ( Angkor wat pass sendiri 25 USD) jadi ya menurut saya sepadan lah.. Secara umum saya tidak begitu terpesona dengan Angkor Wat, karena di Indonesia menurut saya punya yang lebih fenomenal yaitu Borobudur. Adapun yang menarik bagi saya yaitu KUIL TOMB RAIDER (Ta Prohm), karena candi2 disini ditumbuhi dan dililiti oleh akar pohon yang tumbuh diatasnya, sungguh mempesona. Selama tour kami lebih banyak diskusi dengan tour guide mengenai keadaan politik di Kamboja, kebetulan dia itu pemuda yg aktif di bidang politik dan social. Menurut kami tidak mudah untuk mendapat cerita dari penduduk local mengenai keadaan polotik Negara mereka sekarang ini, Karena pemimpin yang sekarang ini termasuk yang tidak ingin“diusik” kepenguasannya, tour guide kami pun bercerita hanya ketika tidak ada warga local disekitarnya, benar2 tertutup. Untuk info saja bahwa Presdien X ini sudah berkuasa selama 30 tahun lamanya, ya tau lah mirip siapa tipe kepemimpinannya kalo di Indonesia, even worse maybe.

Selesai tour kami pun menyempatkan untuk membeli souvenir oleh2 khas kamboja, tidak banyak yang menarik juga menurut saya. Entah kenapa barang2 yang ditawarkan terlihat sangat biasa, beda kalo kita belanja souvenirs di Bangkok, disini sangat tidak kreatif dan cenderung tiap toko menjual barang yang sama, entah masa lalu yang begitu kelam bagi mereka yg membuat kreatifitas mereka terkukung?

Hari kelima

Pagi2 kami sudah menuju airport Siem Reap untuk menuju KL, menurut saya bandaranya sih lebih bagus daripada di Phnom Penh, ternyata justru tujuan wisata utama di Kamboja itu ya Siem Reap ya bukan Phom Penh. Heheheh,,,,