ETAPORAMA
DSC_0398.jpg

STORIES

stories about traveling, music, lifestyle by etaporama

Sarajevo yang selalu dikenang

Banyak yang bertanya kepada saya sebelum melakukan perjalanan ke Balkan, “mau kemana aja nanti disana?”. Kebanyakan masih heran ditambah pandangan negatif ketika menyebut Sarajevo sebagai salah satu destinasinya, “kenapa nggak ke Kroasia, Kenapa nggak Slovenia?” dan pertanyaan-pertanyaan standar lainnya. Selain karena rute yang mengharuskan kami melewati ibukota negara Bosnia & Herzegovina tersebut, sebagai orang yang besar di tahun 90an tentunya berita tentang perang Bosnia cukup menyedot perhatian saat itu dan saya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk tahu secara langsung apa yang terjadi setelahnya disana.

Sengaja kami memilih rute berlawanan jarum jam dalam perjalanan Balkan yang dimulai dari Bulgaria sehingga akan mengunjungi Serbia terlebih dahulu sebelum sampai di Bosnia. Sangat samar saya tahu kalau Serbia itu biang pembataian etnis di Bosnia. Oleh karenanya berkunjung ke Serbia terlebih dahulu setidaknya mengurangi bias terhadap negara tersebut yang akan berdampak pada mood liburan saya.  

Singkat cerita, setelah perjalanan yang sangat membosankan dari Belgrade menuju perbatasan Serbia - Bosnia & Herzegovina kami dikejutkan oleh turunnya salju yang lebat di kota kecil Zvornik (Bosnia & Herzegovina). Perjalanan dari Zvornik ke Sarajevo yang harusnya 2,5 jam harus ditempuh dalam waktu hampir 4 jam karena selain terkesima akan turunnya salju lebat, saya harus memperlambat kecepatan berkendara hingga setengah dari batas maksimum karena jalanan yang licin akibat salju. 

Naik turun gunung melewati hutan pinus, kadang melewati desa sepi yang tertutup salju menemani perjalanan menuju Sarajevo hingga akhirnya gelap pun tiba dan saya tidak bisa lagi menikmati pemandangan sekitar. Samar samar terlihat jalanan diapit oleh tebing tinggi, sekali sekali jurang, tak ada tanda-tanda akan tiba layaknya di sebuah ibukota sebuah negara padahal GPS menunjukan tinggal hitungan 5 menit lagi sampai. Sebuah tunnel pun dilalui dan seketika lampu jalanan sudah mulai menerangi dan benar saja kami telah tiba di ibukota Bosnia & Herzegovina, Sarajevo. Saya dan teman saya pun sontak “Hah, aneh banget daritadi jalanan berasa di antah berantah tiba-tiba  kok udah masuk kota aja, mana sepi lagi”.

 Gate Of Sarajevo (tempat menginap kami malam pertama di Sarajevo)

Gate Of Sarajevo (tempat menginap kami malam pertama di Sarajevo)

Setibanya di penginapan saya langsung bertanya ke resepsionis tempat makan mana yg paling enak, dia pun menunjukan tempatnya yang terletak di sebrang hotel kami menginap, The Spite house namanya. Ternyata hotelnya bersebelahan dengan Old Town yang merupakan pusat atraksi bagi turis yang datang ke Sarajevo. Sambil berjalan menikmati malam yang dingin saya bisa merasakan kalau saya jatuh cinta dengan kota ini. Tidak begitu ramai seperti ibukota pada umumnya, kerlap kerlip lampu di perbukitan, bangunan bangunan warisan Ottoman dan Austro-Hungarian memenuhi kota tersebut. Ketika buku panduan perjalanan mengelukan Prague atau Budapest dengan jargon East-meets-West saya bertaruh kalau mereka belum pernah ke Sarajevo; karena di sinilah akulturasi justru terjadi, tidak seperti di Eropa lainnya namun sama mempesonanya. Tak pernah saya membayangkan kalau kota ini begitu indah dikelilingi oleh alam perbukitan diiringi sungai yang jernih, yang ada di benak saya sebelumnya adalah kota suram akibat perang yang belum pulih. Meskipun pikiran saya yang barusan benar, namun tidak pernah ada yang bilang kalau kota ini memiliki keindahan seperti yang saya lihat. Kabar berita tak pernah menyebutkan bahwa tragedi horror tahun 90an telah terjadi di tempat yang merupakan kota tercantik di Eropa.

Ketika sinar matahari menyinari kota ini pagi hari, semakin terlihat jelas keindahnya membuat saya sulit untuk menempatkannya dalam sebuah sejarah tragedi kemanusiaan. Namun jika ditelusuri lebih dalam lagi, bukanlah lansekapnya atau bangunannya atau makanannya yang lezat yang membuat Sarajevo layak dicintai melainkan bercampurnya berbagai etnis dan ideology telah hidup secara berdampingan ber abad-abad lamanya, tulisan dari berbagai agama yang dilafalkan dalam tulisan Cyrillic, Latin, Arabic dan juga Ibrani umum ditemui. Ironisnya hal tersebut juga yang membuat suburnya bibit peperangan bagi golongan nasionalis yang ingin mendominasi negara ini dalam rangka pecahnya Yugoslavia dengan mengatasnamakan etnis/agama tertentu setelah berpisah dari Yugoslavia. Dalam ketidakpastian, ketakutan akan “kekuatan lain” menjadi pemicu dari sebuah kekejaman yang mengakibatkan terbunuhnya 11-12 ribu penduduk Sarajevo yang merupakan pengepungan terlama dalam sejarah modern.

 I love Sarajevo to my heartbeat..

I love Sarajevo to my heartbeat..

Saya mengerti jika kamu masih tertarik melanjutkan untuk membaca cerita ini berarti kamu ingin mendapatkan cerita sejarah yang kompeten. Padahal jujur, saya bukanlah orang yang tepat untuk melakukannya. Namun saya terdorong untuk bercerita karea berempati terhadap korban baik yang telah terbunuh dan yang masih selamat – ketika media sudah berhenti memberitakannya puluhan tahun yang lalu. namun orang di sana masih merasakan dampak yang begitu besar. Disamping itu, isu nasionalisme yang sedang marak di negara besar (Indonesia termasuk), saya percaya ini mungkin akan menjadi bahan diskusi yang seru.

ASAL MUASAL PENGEPUNGAN SARAJEVO

(Sebelum saya menulis ini lebih jauh, saya paham bahwa topik ini bersifat politis. Apa yang saya tulis merupakan hasil kunjungan saya ke Bosnia & Herzegovina dan melalui observasi media online yang mungkin akan berpihak pada satu sisi). Sumber: Zero One, Darmon Richter, Wikipedia etc.

Slovenia merupakan negara pecahan Yugoslavia yang pertama mendeklarasikan kemerdekaan. Pada tahun 1991, Ketika Slobodan Milosevic memperkukuh dirinya sebagai Presiden Serbia – dan mendapat dukungan dari minoritas entis Serbia yang tersebar di negara Balkan, Milosevic dengan cepat menetapkan dirinya sendiri sebagai pemimpin paling berpengaruh di seantero Yugoslavia.

Bagaimanapun, pengaruh politiknya sangat buruk: poltiknya mengangkat isu ketakutan dan ketidak-amanan yang mana Tito sudah meredamnya selama kepemimpinannya – di bawah kebijakan “Brotherhood & Unity”. Tapi Milosevic menebarkan paranoia etnisnya dengan memanfaatkan kemarahan orang-orang Serbia yang seolah dirampas dengan membangun tentara sendiri lengkap dengan pemimpinnya di seantero Balkan.

Banyak pengikut Milosevic disebut sebagai, Chetniks. Sebuah nama yang dipinjam dari pasukan militan yang telah berjuang menggulingkan Ottoman, lalu Jerman Nazi, yang menyebabkan kemerdekaan Serbia. Lebih ekstrimnya, nasionalis ini percaya dengan paham bahwa Serbia merupakan turunan asli dari Orthodox Southern Slavic atau orang Yugo (Selatan) Slav (orang Slavic); dan Bosniaks, Croats dan Slovenes merupakan orang Serbia yang ternodai oleh pengaruh pendudukan asing. Sama seperti pada masa pendudukan Ottoman di abad 19,  para Chetnik yang baru ini juga akan melanjutkan perangnya terhadap pengaruh asing seperti Islam – dengan dalih membatu warga Balkan menemukan jati diri yang sebenarnya.

Milosevic kepalang tanggung gagal menjaga Yugoslavia, akhirnya Slovenia berhasil memisahkan diri setelah perang singkat 10 hari. Kroasia pun menyusul lalu Macedonia yang secara mengejutkan memisahkan diri.

Bosnia & Herzegovina selanjutnya, dan referendum kemerdekaan di tahun 1992 pun dilakukan. Kebetulan, di sini pula Milosevic memiliki paling banyak pengikut: sebuah sensus di tahun 1991 menunjukan populasi Bosnia sbb: 32.5% Serbs berbanding 44% Muslim Bosnia. Penting untuk diketahui bahwa tidak semua Bosnia-Serbs setuju dengan paham Chetnik. Meskipun tidak semua, jumlah pendukungnya cukup membuat kemerdekaan Bosnia menjadi tidak mudah.

Setelahnya, Zero one mengatakan bahwa para nasionalis sudah mempersiapkan untuk perang. Di bawah perlindungan Yugoslav People’s Army, angkatan bersejata Milosevic menghabiskan waktu 7 bulan membangun benteng kekuatannya mengelilingi Sarajevo. Dengan Dalih “untuk melindungi Sarajevo” tentara berujar, ketika ditanya oleh masyarakat.  

 Sarajevo Siege Map

Sarajevo Siege Map

Angkatan bersenjata ini dikenal juga sebagai Chetniks, yang awalnya hampir semua merupakan etnis Bosnian Serbs: yang setia dengan Belgrade dibawah kepemimpinan Radovan Karadzic (menjadi Presiden Republik Srpska, sebuah teritori etnis Serbia di dalam Bosnia & Herzegovina). Meskipun mendukung dalam hal mepersenjatai dan radikalisasi para nasionalis, Milosevic secara konsisten menolak tanggung jawab atas akibatnya.

Dalam kasus Sarajevo, aksinya sederhana: Multikultur Sarajevo yang liberal tidak akan membawa Bosnia terbebas dari Yugoslavia yang dikontrol oleh Serbia, jika Sarajevo hancur. “Untuk membunuh ular kamu harus memotong kepalanya” ujar Zero One.

Antara 5 April 1992 hingga 29 february 1996, Sarajevo telah menjadi sasaran jatuhnya 329 mortar perhari. Sekitar 35,000 bangunan hancur, dan 11,541 orang terbunuh. Perang Bosnia sendiri menelan korban lebih dari 100,000 orang: Bosniak – Sipil (25,609) - Militer (42,501), Serbs – Sipil (7,480) – Militer (15,299), Croats – Sipil (1,675) – Militer (7,183) orang. Pembataian masa terbesar terjadi di Srebrenica dengan korban pria dan anak laki 8,000 orang, dan sekitar 25,000 wanita dan anak kecil diperkosa dan diusir dari kota ini, menjadikannya kota ini bersih dari etnis muslim Bosnia.

Jendral Bosnian Serb, Radko Mladic mengatakan kepada pasukannya untuk menyasar hanya pemukiman Muslim di Sarajevo. “Shell them until they’re on the edge of madness”.  Dia berujar lewat radio yang direkam oleh 1995 BBC Documentary. Angkatan bersenjata Chetnik menghancurkan kantor pos, menyandera bandara dan memutuskan jaringan telefon. Penembak jitu dan kanon diposisikan di gunung sekelilingnya, menebaki penduduk Sarajevo siang dan malam. Hanya Bosnian Serbs yang boleh meninggalkan kota yang terkepung ini.

Mungkin para Chetniks beranggapan akan menang dengan mudah, dengan begitu mereka telah meremehkan pertahanan Sarajevo. Para loyalis Bosnia dari berbagai etnis mulai dari Muslim, Serbs, Croats dan Roma mulai membentuk pasukan pertahanan. Siapapun yang mempuanyai akses senjata bergabung dalam pertahanan ini – oleh karenanya, polisi, tentara, pemburu, dan kriminal tiba-tiba membentuk milisi pertahanan. Mereka menyebutnya “Pembela Sarajevo”

Seperti yang disebutkan jika banyak juga Bosnian Serbs yang membela Sarajevo – ada sekitar 50,000 orang yang bergabung. “Saya cinta Serbs” ujar Zero One. “Tapi Chetniks bukanlah Serbs. Bahkan mereka bukanlah manusia. Bagaimana bisa?” dia bertanya. Ketika seorang pria memperkosa anak kecil di hadapan keluarganya, dia memukulnya, buang air kecil di atasnya, memotong kepalanya lalu membakar tubuhnya… Dia tak bisa disebut sebagai manusia atas apa yang telah diperbuatnya. “Dan ini sungguh terjadi” ujar Zero One.

Yasmin memiliki teman yang terbunuh saat perang terjadi namun baru-baru ini saja mengetahuinya. Di batu nisannya tertulis “Path of Allah”. “It’s not right” Yasmin berkata dengan kesal. Meskipun temannya memiliki nama layaknya Muslim, namun dia bukan orang yang relijius – namun kematian disini telah dipolitisasi, dan berkesan sebagai jalan masuk surga atas nama agama yang mana saat itu dia tidak beriman. Cara Zero One melihatnya, bahwa masyarakat Sarajevo bukan telah berperang atas nama Tuhan; Mereka telah berperang hanya untuk mendapatkan hak hidup mereka. Agama menjadi dalihnya, bukan pemenang dari kekerasan yang terjadi saat itu.

Selama 4 tahun Chetniks mengepung kota Sarajevo, menembaki Sarajevo siang dan malam melalui kemah yang ada di gunung maupun dari apartemen blok milik Bosnian Serbs. Ini merupakan propaganda Bosnian Serbs yang menggambarkannya sebagai perang agama; warga Sarajevo hanyalah berperang untuk memebela diri demi mendapatkan kehidupan sesuai pilihannya tapi para penindas menebarkan paranoia akan didirikannya Negara Islam yang menerapkan hukum syariah kembali ke Balkan. Isu tersebut terdengar hingga ke negara Orthodox lainnya, dan seketika mereka mengerahkan prajuritnya dari Montenegro, Russia, Ukrainia, Rumania; semuanya menuju Bosnia demi menjatuhkan ancaman negara Islam. Sebanyak 40-50 ribu tentara nasionalis bergabung dalam pengepungan dalam satu waktu. Beberapa tentara bertahan dalam setahun, yang lain hanya mau beperang saat akhir pecan (Yasmin menyebutnya Weekend Chetniks). Akan ada alunan musik, pesta obat dan acara barbekyu, semacam acara festival ketika pasukan Orthodox tersebut mulai melakukan pekerjaannya.. seperti yang terlihat pada video dalam kunjungan penulis Russia ternama ini.

Simulasi War Hostel

Mencari sebuah alamat melewati gang sempit menanjak dan berliku dengan kendaraan cukup besar sudah membuat keringat dingin. Meskipun GPS sempat error akhirnya kami menemukan posisi War Hostel yang terletak di gang buntu. Jam 10 pagi kami memiliki janji dengan host nya untuk mengikuti tour yang mereka miliki yaitu The City War Scars & The Frontline. Saya sebelumnya telah membaca beberapa review atau berita online mengenai War Hostel ini. Mulai dari jurnalis ternama hingga konglomerat telah menginap disini dengan review sesempurna bintang di luxury hotel. Hostel ini menjanjikan sebuah rekreasi yang otentik akan tragedi perang Bosnia saat itu, dengan slogan ‘bayar untuk diteror”. Tentunya hal ini membuat saya bulat memutuskan untuk belajar apa yang terjadi sebenarnya saat itu dengan menginap dan mengikuti tur disini.

Disambut oleh pria berseragan militer PBB, beliau memperkenalkan dirinya sebagai, Zero One. Beliau mempersilahkan kami untuk check in lebih cepat dan menurunkan semua barang yang ada di dalam bagasi secepat mungkin karena hari ini akan menjadi hari yang panjang dan menyita emosi dalam rangkaian beberapa tur. Dari luar tidak seperti sebuah hostel sebagaimana pada umumnya. Tidak ingin berasumsi apa2, saya hanya ingin embrace apapun yang terjadi saat itu. Begitu pintu utama dibuka kami langsung disambut rak sepatu yang diatasnya merupakan sepatu asli para prajurit pembela lengkap dengan crampon yang digunakan saat musim dingin.

Mengikuti Zero One menaiki tangga, berbagai tulisan menyambut kedatangan kami, diantaranya: “Welcome to Hell”, “Help Bosnia Now”, “Fuck the War”, “Pazi Sniper (awas penembak jitu)”, serta potongan berita media masa dengan judul yang memilukan ditempel sepanjang dinding. Tiba di lantai atas, letak kamar hostel berada mulai dari isi 2 hingga 6 tempat tidur – terdengar samar suara tembakan bertubi-tubi dan meriam yang ternyata sengaja direkam dan diputar 24 jam untuk menciptakan situasi yang lebih mendukung. Kamar kami terdiri dari kasur busa dengan selimut militer asli lengkap dengan luka tembak di berbagai sudut dindingnya. Tapi tak perlu khawatir, yang terpenting saat musim dingin saat itu adalah tersedianya heater. Kami memeriksa kamar mandi yang ternyata sengaja pula tidak diberi lampu melainkan hanya beberapa potong lilin. Begitulah keadaan saat perang, jelas Zero One, dimana listrik dipadamkan, jaringan telfon diputus, kicauan burung tergantikan oleh dentuman meriam dan desingan senapan 24 jam, 4 tahun lamanya.

Usai meletakan tas di kamar, kami menuju lantai paling atas yang didekorasi oleh kawat berduri, bendera PBB, kantung pasir, box penyimpan senjata dan potongan koran yang tertempel di dinding memberitakan kejadian saat perang berlangsung. Zero One pun mengenalkan ayahnya, Yasmin, sejatinya seorang yang terpaksa menjadi prajurit pembela yang selamat hingga hari ini. Saat perang dimulai Zero One masih berumur 4 bulan dan segala cerita yang disampaikan oleh Zero One merupakan pengalaman pribadi Yasmin. Beliau pun menjelaskan program tur hari ini dengan memberi beberapa aturan.  Karena kita akan memasuki kawasan sensitif, segala perilaku harus dijaga. Di benak saya, ada rasa gak enak dengan teman2 yang lain yang terpaksa ikut tur ini, apakah sesuai keinginan mereka atau tidak? Namun menurut saya inti dari sebuah perjalanan adalah belajar hal baru, experience different cultures dan kadang harus keluar dari zona nyaman sehingga sepulangnya membawa nilai yg lebih berarti.

 Our best friend - family while in Sarajevo, Yasmin (War survivor) and Zero One (his son a.k.a the guide)

Our best friend - family while in Sarajevo, Yasmin (War survivor) and Zero One (his son a.k.a the guide)

The City War Scars

Berhubung perserta tur ini banyak, sekitar 13 orang. Akhirnya kami menggunakan 2 mobil, satu mobil dipandu oleh Yasmin (Ayah Zero One) dan satu mobil berukuran besar dan Zero One ikut di mobil yang saya kendarai. Tur dimulai hanya beberapa menit berkendara sebagaimana Zero One mulai menggerakan tangannya menunjuk gedung-gedung di tepi jalan yang masih jelas terlihat lubang lubang pelurunya. Kami pun tiba di Dobrijna, sebuah distrik di kota Sarajevo yg sempat menjadi komplek olimpiade musin dingin 1984. Disitu kami digiring menuju apartemen yang ditinggali warga pekerja yang sampai saat ini masih sangat parah keadaanya. Lubang peluru tersebar di dinding apartemen, lubang besar akibat ledakan meriam masih menganga tidak dipugar.

Zero One mengingatkan dengan keadaan lebih dari 60% penduduk menganggur, bagaimana mereka mampu menyisihkan uangnya untuk merenovasi gedung ini? Saya pun heran akan blok apartemen di sebrangnya karena keadaan yang tanpa luka tembak. Ternyata blok apartemen tersebut merupakan hunian etnis Bosnian-Serbs yang dijadikan markas oleh Chetniks untuk menabur timah panas ke arah pemukiman etnis Bosnian-Muslim dengan membabi buta.

 Sisi kiri merupakan pemukiman muslim Bosnia. Sisi kanan hunian Bosnian Serb yang dijadikan sarang penembak jitu oleh para Chetniks.

Sisi kiri merupakan pemukiman muslim Bosnia. Sisi kanan hunian Bosnian Serb yang dijadikan sarang penembak jitu oleh para Chetniks.

Zero one mengingatkan kepada peserta untuk cepat bergerak karena kita tidak bisa terlalu parkir lama di area seperti ini, apalagi mobil kalian mobil sewaan dari negara lain. Oleh karenanya, Yasmin selalu menjaga mobil kami ketika Zero one memandu kami. Berkendara untuk pindah ke tempat lainnya, kami tiba di sekitar Sniper Alley. Disini terdapat kantor berita tempat para jurnalis baik lokal maupun internasional meliput acara sekaligus berlindung. Namun para Chetniks tidak peduli akan hukum internasional yang melindungi jurnalis, mereka tetap membredel kantor berita tersebut dan beberapa jurnalis pun terbunuh di dalamnya.

 Kantor berita tempat berkumpulnya jurnalis yang tak luput dari sasaran tembakan jitu.

Kantor berita tempat berkumpulnya jurnalis yang tak luput dari sasaran tembakan jitu.

Tak jauh dari tempat ini terdapat Nursery Home atau lebih dikenal dengan Rainbow Hotel karena warna bangunannya yang beragam. Terdengar menarik? Kenyataanya inilah bangunan yang paling mengerikan keadaannya. Pemerintah membangun ini sebagai panti jompo dengan fasilitas yang mumpuni, namun baru diresmikan seminggu tempat ini sudah dibantai habis di awal perang. Zero One memberitahu untuk tidak mendekat ke gedung tersebut, selain masih ada ranjau yang belum teridentifikasi di halamannya, tempat ini banyak dijadikan markas bagi para pemadat melakukan aktifitasnya, banyak jarum suntik tersebar di dalamnya, beberapa anjing rabies berkeliaran di sekitarnya, dicurigai beberapa orang  tinggal di dalam ruang gelap gedung ini yang entah Zero One tidak mau memberitahu siapa, yang jelas buruk sekali. Sinar matahari yang kuat tidak cukup membunuh rasa mencekam dari tempat ini, tak peru diceritakan, dilihat saja sudah membuat badan terasa tidak enak. Saat kami kembali ke mobil, kami sempat menoleh kearah gedung ini dan melihat beberapa orang sedang mengintip kami di balik reruntuhan. Duh untung saja rasa nekat saya masih terukur, kalau tidak saya bisa nekat masuk dan keluar dengan trauma atau hal terburuk lainnya.

Setelah dari tempat yang memilukan ini kami lanjut ke distrik lainnya. Pada saat perang terjadi disini dikenal dengan Market Place. Pada saat itu meriam dijatuhkan dari atas bukit menuju ke kerumunan warga baik yang sedang berusaha membeli makanan seadanya atau segeromolan anak kecil yang sedang asik bermain. Satu meriam dijatuhkan dapat membawa korban 1 hingga puluhan  orang, yang terbayak adalah 64 sekali ledak. Di titik-titik meriam inilah warga Bosnia memperingatinya dengan mengecat jalannya dengan Mawar Merah atau Sarajevo Rose sebagai bentuk bahwa disinilah korban tak berdosa terbunuh.

The Frontline

 Perjalanan menuju Mount Trebevic dalam rangkaian tur The Frontline

Perjalanan menuju Mount Trebevic dalam rangkaian tur The Frontline

Tanpa jeda kami lanjutkan untuk mengikuti tur yang ditawarkan oleh War Hostel. Kami dibawa menuju Mount Trebevic yang berjarak sekitar 20km dari pusat kota. Perjalanannya sendiri sangat menghibur karena melewati hutan pinus bersalju. Sangking pedenya mobil sebesar ini masuk ke jalan yang saljunya masih tinggi dan segar membuat slip tak bisa melanjutkan.

 Detik detik dimana mobil kami yang berukuran besar tak mampu melanjutkan perjalanan.

Detik detik dimana mobil kami yang berukuran besar tak mampu melanjutkan perjalanan.

Akhirnya ada serang mountaineering yang tak sengaja lewat jalan sempit tersebut dan memberitahu bahwa ada jalan alternative lainnya. Akhirnya kami sampai pada puncak gunung Trebevic yang sangat mempesona. Dari sini kita bisa melihat pemandangan kota Sarajevo yang begitu indah 360º. Dekat parkiran ada sebuah lapangan yang ternyata terdapat bunker tempat Radovan Karadzic (Pemimpin Bosnian-Serbs) bersembunyi saat perang berlangsung. 

 Bunker yang digunakan oleh Radovan Karadzic.

Bunker yang digunakan oleh Radovan Karadzic.

Selanjutnya tak jauh dari bunker milik Chetniks kami mengunjungi bunker dimana Yasmin paling kenal tempatnya karena sering menghabiskan waku disini. Yasmin sendiri dahulu tak berniat untuk menjadi prajurit pembela Bosnia-Muslim, namun keahliannya dalam bidang elektrik dan telekomunikasi dilirik oleh prajurit pembela. Dengan sangat terpaksa Yasmin harus membantu mereka untuk setidaknya menyambung jalur komunikasi antar bunker bagi tentara pembela. Yasmin selama perang tidak pernah mau memegang senjata dengan alasan kepada temannya sudah terlalu berat membawa kabel, dinamo, pesawat telfon dan alat pendukung lainnya. Bagaimana saya bisa berjalan kalau saya harus juga membawa senapan, ujarnya kepada temannya yang lain. 12 teman seprofesinya terbunuh dalam tragedi perang tersebut. Dalam 48 jam dia dapat menghabiskan waktunya di garis depan dan hanya 24 jam waktu dia bersama keluarga, begitu saja terus selama perang terjadi.

 Bunker yang digunakan oleh prajurit pembela muslim Bosnia.

Bunker yang digunakan oleh prajurit pembela muslim Bosnia.

Dalam perjalanan menuju bunker ini kami harus melewati semak semak yang tertutup salju, dalam perjalanan ada lokal yang berteriak kepada kami. Apa yang kalian lakukan disana, jangan masuk karena bahawa masih ada ranjau! Dalam bahasa Inggris. Lantas Zero One menimpali dari balik semak, It’s ok, they are with me! Dalam bahasa Bosnia. Zero One membenarkan apa yang orang asing tersebut katakan pada kami, masih banyak ranjau aktif di sekitar gunung ini yg belum dibersihkan. Sebenarnya ada beberapa papan notifikasi di gunung tersebut namun saat itu banyak yang tertutup oleh tumpukan salju. Whatt?!! Di dalam bunker tersbut biasa diisi oleh 20 orang, makan kacang kaleng sama sama dan semua orang terkena diare. Cahaya penerang hanya dari rokok, ruangan bau asap dan bau kentut. Seorang prajurit sempat bercanda dengan menyebut “kita bisa mehabiskan lawan dengan bau kentut kita!” Sangking tidak adanya makanan, tikus yang lewat pun menjadai menu saat itu. Setelah menjelaskan keadaan dan konstruksi bunker milik Bosnian-Muslim tersebut. Kami melanjutkan menuju puncak gunung Trebevic.

Pemandangan yang luar biasa indah disini membuat perasaan bercampur aduk, mengapa kawasan seindah ini menjadi tempat tragadi kemanusiaan paling berdarah dalam sejarah modern. Di puncak bukit inilah tank milik Chetniks terjaga, mengepung kota Sarajevo yang terletak di bawahnya. Dengan mudah tank tersebut mengarahkan tembakannya ke kota Sarajevo yang tak berdaya. Secara umum, tentara Chetniks menguasai perbukitan yang mengelilingi kota Sarajevo yang di dominasi oleh Bosnian-Muslim dan beberapa Bosnian-Croat, itulah mengapa disebut juga sebagai Siege of Sarajevo. Di tempat ini juga dijadikan sebagai tempat pembunuhan masal. Dengan dalih boleh keluar dari pengepungan, penduduk sipil dibawa oleh truk pengangkut, wanita dipaksa membuka kerudungnya dan dipaksa pindah agama. Pria dilucuti celananya dan jika ketahuan disunat, tembak ditempat. Yang lolos diberi senjata untuk menembaki warga Muslim-Bosnia. Sekali lagi inilah propaganda yang dilakukan Bosnia-Serbs dimana agama menjadi sasaranya, padahal warga muslim Bosnia membela diri bukan demi agamanya melainkan hanya ingin hidup sebagaimana manusia pada umumnya.

Setelah dari tempat ini kami melanjutkan menuju arena Bobsleigh yang terkenal di kalangan fotografer karena keunikan konstruksi dan kisahnya. Tak banyak cerita lagi Zero One mempersilahkan kami berjalan melalui luncuran tersebut dan tetap berhati hati untuk jalan di trek, karena diluar trek masih ada ranjau tersebar. Di jalur luncur ini juga merupakan tempat favorit penembak jitu untuk menyeranng tentara pembela yang berusaha memukul mundur lawannya.

Tujuan terakhir kami dalam tur ini adalah Sniper hotel, bukan yang terkenal seperti di tengah kota Sarajevo melainkan terletak di atas bukit Trebevic. Keadannya yang sudah rusak parah dengan graffiti yang bertulisakan “Jangan masuk ke belakang tembok ini” menambah mencekam bangunan ini. Posisinya yang strategis tanpa halangan membuatnya menjadi tempat strategis untuk menyerang kota Sarajevo.

Karena sudah makin sore kami memutuskan untuk kembali ke hostel. Dalam perjalanan pulang Zero One menunjuk sebuah contentration camp tempat pembantaian muslim Bosnia yang dilakukan oleh tentara Chetniks. Namun tempat tersebut dipagari agar tidak ada orang yang bisa masuk. Belum selesai juga kami pun melewati sebuah lahan begitu luas namun pemandangannya berupa prasasati yang merupakan tempat relokasi pembunuhan massal di tempat yang lebih baik.

Otak saya sudah tidak bisa mencerna penuh dengan keheranan tak tahu kapan harus menangis, tak tahu kapan harus tertawa. Zero One dan Yasmin merupakan telah menjadi kawan terbaik kami selama disana, orang yang sangat tulus, mempunyai pandangan yang sangat lurus. Perilaku sopan Zero One terhadap ayahnya Yasmin seorang yang sangat tabah, membuat kami bangga telah bertemu mereka terlebih atas apa yang telah merka lalui hingga selamat sampai saat ini.  Pengalaman tur ini membuat emosi saya hancur, saya hanya bisa mendengar tidak memberi kesimpulan apapun.. Saya masih gak penasaran akan efek dari tragedi pembunuhan massal 20 tahun lalu yang masih relatif baru terutama bagi yang selamat. 

 With Yasmin who is very warm sincere and kind war survivor.

With Yasmin who is very warm sincere and kind war survivor.

Namun dibalik pengalaman yang mengaduk emosi ini, apakah saya masih ingin kembali ke Sarajarevo? 100% ya! Apakah saya ingin lebih lama mengunjungi Sarajevo? 100% ya! Terlalu banyak hal yang bisa di eksplor di kota ini, makanannya terlalu enak, bangunannya masih orisinil, orangnya yang tulus, hasil kerajinan tangan yang unik, biaya hidup yang lebih murah ketimbang negara Eropa lainnya, membuat Sarajevo kota terfavorit saya di Eropa. 

I love Sarajevo
TravelETAPORAMA