ETAPORAMA
DSC_0398.jpg

STORIES

stories about traveling, music, lifestyle by etaporama

Keseruan di Perth (Pinnacles & Lancelin)

Jika ditanya, perjalanan mana kah yang paling seru selama traveling di WA, maka dengan lantang saya akan menjawab Pinnacles and Lancelin! Perjalanan menyenangkan sepanjang perjalanan ditambah bertemu orang-orang baru dan juga pengalaman baru, made this trip an unforgettable one along my journey in WA

Australia mungkin berada di bawah dalam daftar impian perjalanan saya. Meskipun banyak yang mengelu-elukan gemerlapnya Melbourne dan Sydney namun se-penglihatan saya masih belum cukup menggerakan jari untuk menekan tombol "buy ticket" untuk berlibur, entah karena merasa dekat tapi kok mahal atau kalau memang ingin kesana sekalian jika sudah punya uang banyak buat beli tanah peternakan :D (Amin-in aja gimana?). Namun bujukan tiket promo yang datang tanpa diminta pulang tak disangka, teman saya dari Perth menawarkan harga Rp. 3,759,300,- PP Jakarta-Perth oleh Malindo Air. Dengan sedikit obesrvasi mengenai Perth yang berada di negara bagian Western Australia saya langsung jatuh hati. Berhubung memiliki luas sepertiga benua Australia yang membentang dari utara ke selatan maka kenaekaragaman alamnya pun semakin heterogen jika dibandingkan negara bagian lainnya di Australia. Saya pun memutuskan untuk membeli tiketnya dengan durasi liburan selama 12 hari. Karena sangat mendadak maka saya memilih untuk tidak membuat itinerary yang ambisius dan lebih spontaneus, berharap mendapat kejutan yang setimpal. 

Lagi-lagi, sebenarnya perjalanan ke Pinnacles dan Lancelin ini juga di luar rencana. Sore itu saya sedang asik melahap banana bread yang nikmatnya sulit diungkapkan dengan kata2 di sebuah kafe - depan Konjen RI, sambil memikirkan mau main kemana di hari2 terakhir saya menjelajah Western Australia. Saya ingin melakukan perjalanan ke luar kota dan sedikit berpetualang. Akhirnya setelah saran dari beberapa orang, muncul lah nama Pinnacles dan Lancelin. Waaah sepertinya bakal seru nih, tidak perlu menunggu lama, selesai menghabiskan banana bread yang lezat dan segelas kopi, saya pun berjalan kaki menuju tempat sewa mobil yang tidak jauh dari kafe tersebut. Kebetulan beberapa hari sebelumnya saya juga sempat menyewa mobil selama 3 hari dari tempat tersebut. Namun niatan kali ini berujung kekecewaan, ternyata untuk melakukan perjalanan ke Pinnacles dan Lancelin, sewa mobil tidak diperbolehkan hanya 1 hari, disebabkan oleh jarak yang cukup jauh (entah akal2-an atau memang peraturan setempat). Jika ingin tetap menyewa mobil untuk 1 hari, hitungan sewa mobilnya akan dihitung 3 hari. Yaahh...tau gtu waktu sewa mobil 3 hari kemarin, saya harusnya menyempatkan jalan ke tempat tersebut ya :(. Beruntung di tempat penyewaan itu terdapat tumpukan brosur tur yang bisa dilakukan selama di WA, maka saya pun segera membidik Pinnacles and Lancelin Tour. Pilihan jatuh pada “Pinnacles Magic” oleh Travel Western Australia (www.twatours.com.au). Tur yang dikemas seharga AUD 155 cukup masuk akal bagi saya jika dibandingkan harus menyewa mobil dengan harga 3 hari sewa (1 hari sekitar AUD 25-35), belum termasuk bahan bakar dan tetek-bengek lainnya, apa lagi saya bisa cukup menyimpan energi selama perjalanan (baca:tidur hihihi), maka mengambil paket tur ini adalah keputusan bijak. Setelah mengisi form dan membayar secara online, saya langsung mendapatkan email konfirmasi mengenai perjalanan ke Pinnacles dan Lancelin untuk 2 hari yang akan datang! Yeeayyy...

Di hari keberangkatan, saya langsung menuju spot penjemputan yang telah dipilih sebelumnya. Ternyata hanya saya seorang yang akan berangkat dari titik temu tersebut, peserta lainnya akan bergabung dari 2 titik temu pilihan lainnya. Total peserta pada hari itu sangat menguntungkan sebab hanya berjumlah 6 orang, jika ditambah dengan driver yang merangkap guide, maka akan ada 7 orang di dalam mini van yang berkapasitas 15-20 orang. Jadi kebayang kan bebasnya memilih spot tidur siang dimana hahaha, ditambah guide nya bilang stok makanan yang dia bawa bisa untuk 18 orang, makin girang lah semua peserta. It will be a food party along the way!!

Late breakfast with other participants.

Late breakfast with other participants.

Persinggahan pertama dari rangkaian perjalanan ini adalah Yanchep National Park. Banyak hal yang bisa dilakukan di National Park ini mulai dari melihat Kanguru yang bebas berkeliaran di alam liar juga Koala yang kerjaannya tidur seharian di atas pohon Eucalyptus. Setelah puas olah raga pagi mengitari area taman nasional tersebut, kegiatan dilanjutkan dengan PIKNIK!! This place’s just perfect! Terdapat beberapa kursi dan meja untuk sekedar duduk2 atau membuka bekal makanan. Pemandangan yang cantik dengan danau yang terbentang di tengah, dikelilingi beberapa Kanguru yang berkeliaran bebas dengan paduan suara kicau burung yang merdu, membuat saya sangat menikmati acara sarapan pagi kali ini. Berbagai macam pilihan roti, sayur, keju, daging dan selai terhidang di meja, we can make our own sandwich. Ppsstt...ada daging Kanguru juga loh, and surprisingly it tastes sooo good!! Saya bahkan nambah hahaha, agak miris sih makan daging Kanguru di saat dikelilingi oleh makhluk lucu yang sibuk lompat ke sana kemari di sekitar saya (maafkan si karnivora ini wahai makhluk imut menggemaskan).

Usai sarapan, perjalanan dilanjutkan menuju spot utama yang pertama, yaitu Pinnacles Desert yang terdapat di area Nambung National Park. Padang pasir bernuansa kuning dengan kontur bebatuan kapur yang berserakan. mencuar tinggi terhampar unik di depan mata saya. Hamparan batu kapur yang mulai terbentuk dari 25000 tahun yang lalu ini memiliki tinggi yang beraneka ragam, bahkan ada yang mencapai 4-5 meter. Batu kapur yang paling besar dinamakan The Cathedral, yang biasanya dijadikan spot foto oleh para wisatawan. Pinnacles Desert ini cukup luas, jadi harus hati-hati ya jika ingin berkeliling, sebab bentuknya serupa tapi tak sama, jika tidak jeli, bisa jadi nanti kamu malah tersesat. Marielle, guide saya selama perjalanan ini bercerita, pernah ada kejadian seorang bapak tua yang tersesat selama 1 malam di sana dan baru ditemukan oleh tim SAR keesokan harinya di dalam sebuah gua. So, be careful!

Selain mengelilingi hamparan batu kapur yang menawan, di area ini terdapat Pinnacles Desert Discovery Centre, yang sangat menarik dikunjungi jika memiliki waktu lebih. Di sana kamu bisa mempelajari lebih lanjut mengenai asal usul Pinnacles, legenda yang berkaitan dengan terbentuknya Pinnacles, wildlife dan wildflowers around Pinnacles, dan juga terdapat toko cinderamata di dalamnya. Biaya untuk masuk ke Pinnacles Desert ini dihitung per kendaraan, yaitu sebesar AUD 12.

Selesai puas mengelilingi Pinnacles, guide saya Marielle yang aslinya dari Amsterdam namun sangat betah tinggal di Perth, bertanya kepada para peserta tur -which very retorical-, lebih memilih spot makan siang di tepi pantai yang ramai dan sedikit jauh dari posisi saat ini, atau ke pantai yang agak tersembunyi namun dekat dari posisi saat ini dan harus menerima kenyataan harus makan lagi dengan perut sedikit penuh? Kompak seluruh peserta memilih pantai yang tersembunyi, meskipun harus makan dengan perut yang belum terlalu berkicau. Sayangnya begitu sampai di tempat tujuan, awan gelap yang sedari tadi sudah bergelayut, akhirnya menumpahkan air dengan curah yang cukup deras ke bumi. Sehingga, saya tidak bisa bermain di pantai seusai makan siang. Namun, daging Kanguru yang lezat kembali mencerahkan hari saya meskipun suasana sangat mendung saat itu (gampang seneng ya anaknya).

Saya sempat khawatir dengan cuaca yang kurang bersahabat tersebut, sebab atraksi selanjutnya di spot impian saya terancam batal, padahal aktivitas itu yang paling saya (dan peserta lainnya) nantikan, yaitu Sand Boarding di Lancelin! Sambil berdoa dengan khusyuk selama hampir 1 jam perjalanan menuju Lancelin, saya berharap-harap cemas cuaca bisa berganti menjadi lebih baik. Alhamdulillah, setibanya di Lancelin cuaca telah berubah drastis dengan langit biru yang sangat cerah sumringah. Tidak perlu menunggu aba-aba, saya langsung membuka alas kaki dan mengambil sand boarding. Saya sudah tidak sabar ingin bermain! Begitu menapakkan kaki yang telanjang ke pasir Lancelin, saya masih bisa merasakan dinginnya dan lembabnya tanah setelah diguyur hujan. A calming and comforting feeling that I like!

Sand Boarding Lancelin

Tanpa membuang waktu, saya dan peserta lainnya langsung semangat menyeret papan luncur ke puncak yang tidak terlalu tinggi (maklum pemula, jadi harus memulai dari titik aman dulu hahaha). Sand boarding for first timer was AWESOME!! Rasanya nya sama seperti sedang naik roller coaster, adrenalin kamu bakal mengalir deras saat meluncur. Dikarenakan kegiatan ini bisa dikatakan dilakukan tanpa pengaman, ilmu menyeimbangkan tubuh benar2 harus dilatih, sebab kalau tidak siap2 bakal gegulingan di pasir ya, which is for me, it’s SUPER FUN hahaha. Bolak balik menyeret papan luncur mulai dari titik yang tidak terlalu tinggi hingga memberanikan diri ke titik yang paling tinggi yang diizinkan oleh guide, rasanya saya telah membakar kalori lebih dari yang saya makan dari pagi hingga siang, jadi selesai berseluncur tampaknya perut harus segera diisi kembali dengan makanan. Untungnya karena peserta yang tidak banyak, jatah konsumsi yang ada dalam mini van luar biasa banyak, bahkan beberapa peserta ada yang membawa pulang beberapa makanan untuk dinner :D (oportunis amat yak, akupun :p). Oh iya, berhubung saya bergabung dalam tur Pinnacles Magic, papan luncur telah disediakan oleh pihak tur. Namun, jika kamu berencana untuk road trip mandiri ke Lancelin, jangan khawatir, sebab di sana juga terdapat tempat penyewaan papan luncur, dengan harga AUD 10 untuk pemakaian 2 jam.

Puas bermain sand boarding di Lancelin, perjalanan segera dilanjutkan untuk menempuh 3 jam perjalanan kembali menuju Perth City. Selama perjalanan pulang, suasana terasa semakin akrab, mungkin otot-otot kakunya sudah melunak saat puas terjatuh dan tertawa bersama di Lancelin. Untuk mengisi waktu perjalanan yang panjang, para peserta diberi kesempatan untuk memainkan alat musik tradisional suku aborigin, yang disebut dengan Didgeridoo. Alat musik tiup yang berbentuk silinder ini sangat unik, karena memiliki panjang 1 hingga 2 meter, dan memerlukan teknik khusus untuk meniupnya hingga menghasilkan suara yang indah. Tidak terasa perjalanan panjang hari itu telah berakhir, it was a great trip with great people, dan saya sangat puas telah mengambil paket tur ini. Sampai jumpa di catatan perjalanan WA lainnya :)

Didgeridoo

Didgeridoo