ETAPORAMA
DSC_0398.jpg

STORIES

stories about traveling, music, lifestyle by etaporama

Ladakh & Risiko AMS

LADAKH TRIP

Perjalanan ke Ladakh mungkin bukan jenis liburan pada umumnya. Meskipun tersohor dengan pemandangan alam dan nilai spritualnya namun banyak hal-hal yang membuat perjalanan ini tidak seperti kebanyakan. Bisa dibilang mau belanja ini – itu terbatas, mau nongkrong di café-café trendi apalagi. Namun saya bisa jamin, mengunjungi Ladakh adalah suatu keberkahan seumur hidup yang sayang sekali kalau dilewatkan selama hidup di dunia. Agak berlebihan juga sih kalau perjalanan ke Ladakh akan membuat hidup berubah tapi setidaknya kamu bisa mendapatkan perspektif yang berbeda dibanding berkunjung ke negara maju.

Perjalanan ke Ladakh kami lakukan pada awal bulan Mei (7-17) dimana jalur darat menuju tempat-tempat favorit di Ladakh baru saja dibuka. Ya, sumber pendapatan sebagian besar penduduk ibukota Ladakh, Leh bergantung pada pariwisata dan itu terjadi secara musiman mulai dari bulan Mei hingga September tiap tahunnya. Selebihnya mereka tidak punya penghasilan yang berarti. Bayangkan saja 5 bulan bekerja untuk menghidupi 12 bulan!

Saat itu kami tiba malam hari di Delhi dan terpaksa menginap semalam di hotel dekat dengan bandara karena esok hari pesawat akan membawa kami menuju Leh sekitar pukul 5 pagi dan tiba sekitar pukul 06.30. Penerbangan di bandara Leh dilarang untuk beroperasi setelah jam 10 pagi sebab letak geografisnya yang dikelilingi pegunungan dan berada di ketinggian 3,500 mdpl membuat angin yang berhembus akan membahayakan. Meskipun permulaan, perjalanan udaranya sendiri sudah membuat kami tertegun di kedua sisinya sehingga tidak membuat badan pesawat oleng miring sebelah. Semua penumpang sibuk merekam indahnya deretan pegunungan Himalaya yang dibalut salju dari jarak dekat. Kalaupun harus loncat mungkin kurang dari 5 detik kami sudah berada di puncaknya.

LADAKH TRIP

Tiba di Bandara sudah dijemput oleh local guide kami, Jigmet. Setelah memperkenalkan diri, beliau mengulang intsruksi untuk beristirahat seharian di hotel kami menginap tanpa kegiatan fisik yang berarti untuk menyesuaikan tubuh dengan tekanan udara di ketinggian dan kurangnya persentasi oksigen. Berhubung masih pagi kami dipersilahkan untuk sarapan pagi di hotel tempat kami menginap di Leh (Singge Palace) dengan menu khas vegetarian India sambil menunggu kamar kami dipersiapkan. Meskipun warga Ladakh memiliki makanan khas sendiri seperti warga Himalaya pada umumnya namun pengaruh kepemerintahan India mampu menggeser kuliner lokalnya dan ini terjadi di manapun, Tibet dengan pengaruh kuliner Sichuannya, Parbat dengan pengaruh kuliner Nepalnya.

AMS Attack

Siang itu hal yang sudah diantisipasi pun terjadi, salah satu teman kami terserang Acute Mountain Sickness (AMS) dengan gejala muntah lebih dari dua kali. Hal ini tidak bisa dianggap enteng karena nyawa taruhannya. Saya bersama local guide, Norbu menemaninya ke rumah sakit di kota Leh yang bernama SNM Hospital untuk mendapatkan penanganan intensif. Di luar harapan ternyata rumah sakitnya bersih sekali dan sangat murah ditambah lagi memiliki ruang perawatan tersendiri bagi turis asing. Pasien cukup merogoh kocek 200 INR atau kurang dari Rp. 50.000 untuk mendapatkan obat-obatan, suntikan serta asupan oksigen dalam tabung berukuran 1 meter kubik. Setelah mendapat suntikan dan obat-obatan teman saya diharuskan untuk menghirup oksigen selama kurang lebih 5 jam.

AMS diakibatkan oleh tubuh kita yang gagal beradaptasi dengan kondisi udara di ketinggian dan mulai berdampak pada ketinggian 2.500 mdpl. Gejala ringan meliputi: napas berat, sakit kepala, insomnia dan turun nafsu makan. Umumnya gejala ini terjadi sekitar 6 - 10 jam selama berada di ketinggian dan menurun setelah 1-2 hari, tapi dapat juga berkembang jadi lebih buruk. Oleh karena itu apapun keluhannya dikomunikasikan kepada teman atau local guide. AMS tidak pandang bulu, apapun jenis kelamin, umur, bahkan tingkat kebugaranmu dapat terkena dampak penyakit di ketinggian. Meskipun menjadi momok jika berkunjung ke dataran tinggi hal ini dapat dihindari atau setidaknya dikurangi gejalanya. Berikut tips berdasarkan pengalaman saya di Tibet, Parbat dan Ladakh untuk mengurangi gejala AMS:

  • Minum Air Putih sebanyak mungkin, lebih dari yang normal kamu minum sehari hari +2 liter. Dengan resiko kamu akan sering ke toilet.
  • Konsumsi lebih banyak karbohidrat ketimbang protein dan lemak yang mana membutuhkan oksigen lebih banyak untuk dicerna. Tidak perlu takut gemuk, upaya tubuh kamu untuk menyesuaikan diri terhadap kondisi ketinggian membutuhkan kalori banyak.
  • Jika ada, dan memang penting, konsumsi obat seperti Diamox 2 hari sebelum kamu berada di ketinggian. Setengah tablet 250mg x 2, sehari. Lanjutkan hingga 3 hari setelah berada di dataran tinggi atau jika kamu merasa sudah tidak perlu, less is more.
  • Atur napas secara berkala. Setiap 30 menit sekali mengambil napas dalam-dalam dan keluarkan perlahan selama 5 kali.
  • Diperbolehkan mengkonsumsi teh atau kopi. Kafein bermanfaat untuk meningkatkan asupan oksigen ke otak. Coca Cola or Barley Beer works great!
  • Konsumsi obat anti mual jika perlu.
  •  Jangan konsumsi alkohol.
  • Jangan beraktifitas terlalu banyak seperti: loncat kegirangan, ambil foto dari utara ke selatan meskipun tak bisa dipungkiri suasana Himalaya memang bikin kita overexcited.
  • Paling penting adalah tetap berpikir positif dan embrace setiap keadaan. Namaste!

Karena Norbu menemani teman saya di rumah sakit yang sedang asik menhigrup oksigen, saya kembali ke hotel yang berjarak hanya 5 menit berkendara. Sekitar jam 6 sore saya dan teman-teman lainnya berkeliling menuju Leh Main Market. Tempat pertama yang dituju adalah Tibetan Refugee Market yang letaknya bersebelahan dengan hotel kami menginap di Singge Palace.  Dari namanya sudah jelas kalau para penjual merupakan diaspora dari tanah Tibet. Barang yang dijajakan umumnya konveksi yang cocok untuk udara dingin baik tradisional yang terbuat dari bulu Yak maupun modern (brand ternama). Asal pandai menawar, harga yang dijual pun relatif murah mulai dari shawl seharga 30 ribu hinggaratusan ribu tergantung kualitasnya. Ajaibnya banyak dari mereka mahir berbahasaa Inggris sampai-sampai ada tamatan S2 yang berjualan disini.

Ternyata hasrat belanja masih belum terpuaskan juga, kami lanjutkan menuju Leh Main Market yang lebih ramai dan heterogen, yang pedagangnya berasal dari Ladakh, Tibet hingga warga India daratan.  Tak lama kemudian terdengar suara adzan dari masjid terbesar di Leh(Jama Mosque) berarti waktu sudah menunjukan jam makan malam, kami yang terpencar berkumpul untuk menuju restoran Chopsticks Noodle Bar yang terkenal dan kebetulan salah satu pemiliknya orang Indonesia. Tak ada local guide yang mendampingi, GPS pun tak berfungsi kami akhirnya bertanya kepada warga sekitar untuk memberitahu posisi restoran tersebut. Luar biasa, pria yang merupakan mahasiswadanbekerja sambilan sebagai supir tersebut mengantar kami ke tempat tujuan tanpa meminta imbalan, kami ajak makan malam pun menolak. Untung ada beliau padahal jaraknya lumayan bikin ngos-ngosan sehingga kami bisa makan makanan paling enak se-Ladakh (lidah Indonesia).

Leh & beyond

Hari berikutnya kami memulai aktifitas untuk berkendara menuju tempat-tempat di sekitar Leh. Layaknya masuk ke dalam mesin waktu tampak lansekap dramatis seperti di bulan yang masih perawan menemani perjalanan ini. Pegunungan Himalaya bisa dibilang pegunungan yang berumur cukup muda. Kontur pegunungan tajam dengan lembah yang dalam terbentuk akibat benturan benua India dan Eurasia. Datarannya sendiri berasal dari dasar lautan yang mencuat akibat pergeseran tersebut, tak heran banyak cangkang kerang, fosil ikan dan danau air asin ditemukan di dataran tinggi ini.

Dalam perjalanan yang seharusnya 2 jam menuju Alchi Monastery kami berhenti di beberapa tempat seperti Sangham Look-out dan Magnetic Hill, membuatnya molor hingga 4 jam lebih. Di Sangham Look out kita bisa melihat pertemuan antara sungai Zanskar berwarna hijau kebiruan dan sungai Indus yang lebih berlumpur, namun warna ini baru tampak jelas sekitar bulan Juli, puncaknya September dikarenakan lelehan glacier yang sedikit. Sedangkan Magnetic Hill merupakan sebuah area terbuka dikelilingi bukit curam yang memiliki efek magnet sehingga kendaraan tampak berjalan menanjak meskipun dalam keadaan mati (meskipun ini hanya keterangan palsu karena tidak ada efek magnetik pada kenyataannya, yang ada hanyalah tipuan optikal).

Tiba di Alchi Monastery, beberapa teman saya mengalami pusing dan mual dikarenakan jalan menuju tempat ini yang berkelok-kelok, naik-turun menambah penderitaan AMS yang juga belum reda. Padahal jalanannya termasuk dalam kondisi paling baik di Ladakh– kata seorang teman di Leh yang kami ketahui setelah pulang. Alchi Monastery sendiri merupakan sebuah komplek biara milik Buddha dan Hindu namun nilai utama dari tempat ini adalah lukisan dindingnya yang paling tua dan paling awet di Ladakh. Memiliki bentuk stupa yang original namun sayang mulai rusak jika tidak segera direstorasi. Komplek yang bisa dibilang subur dengan pepohonan rindang ini terletak di samping sungai Indus yang menurut warganya sakral.

Setelah makan siang kami menuju Basgo Monastery yang merupakan kuil dan sempat menjadi istana pada masa kerajaan Takpabum sehingga banyak terdapat benteng pertahanan dan menara awas di sekitarnya sebagai perlindungan dari agresi pendudukan muslim sekitar abad ke-17. Komplek ini dikategorikan sebagai tempat yang terancam eksistensinya oleh Yayasan Monumen Dunia, terlihat dari bangunannya yang mulai runtuh dimakan cuaca. Berhubung letaknya yang diatas bukit, pemandangan yang mempesona pun menjadi daya tariknya. Perjalanan hari ini ditutup dengan mengunjungi Shanti Stupa yang berdiri megah diatas bukit dekat kota Leh. Stupa ini dibangun oleh Bhiksu dari Jepang dalam misi perdamaian dunia dan juga untuk menghidupkan kembali Buddhism di India. Terletak di ketinggian 3,609 meter kita dapat melihat panorama pegunungan mengagumkan di sekitar dan kota Leh di kejauhan. Karena relatif masih baru (dibangun sekitar tahun 1983) Stupa ini terlihat sangat kokoh dan bersih sehingga mencolok meski dari kejauhan.

Thank you to all my friends who have joined this unforgettable trip.