ETAPORAMA
DSC_0398.jpg

STORIES

stories about traveling, music, lifestyle by etaporama

Nepal

DSC_1162.jpg

Perjalanan kami ke Nepal ini merupakan lanjutan dari perjalanan kami sebelumnya ke Tibet melalui jalan darat atau yang lebih dikenal dengan Border Crossing. Perjalanan jenis ini sangat lumrah dilakukan apabila di mulai dari Tibet karena pada umumnya turis dari Tibet akan berakhir menuju Kathamandu (Nepal) daripada harus berbalik arah kembali ke Lhasa. Untuk dapat menuju ke Nepal kita harus melewati kota perbatasan, Zhangmu namanya yang merupakan kota terakhir di Tibet dan Kodari yang merupakan kota pertama di Nepal setelah melewati imigrasi. Jarak anatara 2 kota perbatasan itu dipisahkan oleh jembatan yang dinamakan Friendship Bridge. Layaknya di sebuah airport, di Zhangmu kita pun harus melewati kantor imigrasi untuk bisa keluar dari negara tersebut lalu kita harus menyebrangi Friendship Bridge menuju Kodari. Di Kodari pun kita kembali masuk ke kantor imigrasi untuk mendapatkan izin memasuki negara Nepal. Di kantor inilah kita dapat membeli visa (Visa on arival) seharga 25 USD per orang. Setelah passport kita di cap baru lah kita mengurus transportasi yang akan mengantar kita ke Kathmandu. Tidak sulit sebenarnya untuk mengatur sendiri transportasi dari Kodari ke Kathmandu karena setelah melewati perbatasan akan banyak ditemui jeep2 yang siap mengantar kita ke tempat tujuan di Nepal, selain jeep juga ada public bus. Tapi saya menyarankan untuk menggunakan jeep daripada public bus mengingat medan yang akan dilalui cukup membuat kami diam seribu bahasa alias mengancam jiwa! Harga sewa untuk jeep dari Kodari ke Kathmandu berkisar 120-150 USD atau bahkan lebih tergantung pinter2nya nawar, kalau untuk public bus saya gak tau sama sekali harganya. Jeep tersebut dapat memuat sampai 6-7 orang dengan bagasi di atas atap kabin. Namun pada saat itu untungnya urusan transportasi ke Kathmandu sudah termasuk dalan harga Tibet overland tour, jadi kami tidak perlu pusing lagi untuk cari jeep dan tawar menawar.

Day 1 (Zhangmu Tibet Nepal Border - Kathmandu)

Setibanya di Zhangmu kami semua bisa bernafas lega setelah selama lebih dari seminggu dalam keadaan sesak nafas. Stamina kami pun kembali normal khusunya Rudy teman saya yang tumben2 nya begitu bersemangat pada saat itu hahaha.. Ketinggian Zhangmu adalah 2300mdpl dengan iklim yang lembab dan dipenuhi pohon2 rindang. Kami pun sudah kelaparan saat itu dan menemukan restoran yg menurut saya makanannya sangat lezat. Setelah makan siang di Zhangmu kami bergegas untuk menuju ke kantor imigrasi yang pada saat itu sudah hampir jam 4 sore. Ada bagusnya kami tidak menginap di Zhangmu, selain kota kecil ini begitu padat juga tidak ada pemandangan yang begitu spektakuler, semua bangunan2 ruko yang umumnya adalah money changer. Selama menuju kantor imigrasi tidak henti2nya anak2 kecil mengerubungi kami dengan menwarkan jasa money changer. Oiya di kota kecil ini juga multi kultur banget mulai dari orang nepalese, india, tibetan dan chinese bergabung jadi satu untuk mengadu nasib.

Pada saat menuju kantor imigrasi kami pun terpaksa berlari lari sambil membawa barang bawaan melawan lautan manusia yang juga ingin ingin melewati perbatasan. kami buru2 karena kantor imigrasi di Kodari tutup jam 5 sore dan kala itu sudah jam 4 lewat. Untungnya kami mendapat jalur khusus di kantor imigrasi Zhangmu mungkin karena kami turis kali ya sedangkan untuk penduduk lokal ada di jalur yang lain. Kala itu jauh lebih banyak penduduk lokal ketimbang turis dikarenakan low season menurut tour guide kami. Setelah proses imigrasi di Zhangmu selesai kami pun terpaksa berpisah dengan tour guide Tibet kami, Lobsang karena dia tidak diperbolehkan ikut kami menyebrangi perbatasan. Sungguh perpisahan yang mengharukan, karena selama di Tibet dia lah satu2nya orang tempat kami bergantung. Perjuangan tidak berhenti disini saja kami pun masih harus melawan lautan manusia di Friendship Bridge, keadaan begitu padat dikarenakan penduduk lokal harus mengantri lagi sebelum di cek oleh pihak keimigrasian Nepal. Namun karena kami turis, tempat pengecekan bukan di Friendship Bridge melainkan harus berjalan beberapa puluh meter lagi. Sungguh pengalaman yang seru seperti di film2 action dalam aksi pengejaran hahaha..Oiya kali ini barang bawaan kami dibawa oleh porter yang sudah menunggu di kantor imigrasi Zhangmu tadi. Biaya untuk seorang porter berkisar 50-100rb per orang. Akhirnya kami pun tiba di kantor imigrasi Nepal di Kodari dan disambut dengan sangat ramah oleh kepala imigrasinya. Kami pun dicek satu persatu masuk ke dalam ruangan. Kata kepala imigrasinya sangat jarang sekali turis Indonesia berkunjung ke Nepal - maksudnya dari Kodari kali ya..kalo dari Kathmandu sih banyak banget.

Setelah proses imigrasi selesai kami bergegas menuju Jeep kami yang sudah siap menunggu yang sudah diatur oleh Windhorsetour.com . Agak kaget pertama kali liat jeep nya karena tidak seperti bayangan saya seperti jeep2 yang keren di Jakarta ditambah barang bawaan kami disimpan di kabin atap mobil hahaha..Namun jangan khawatir akan jatuh atau terlepas karena mereka sudah biasa seperti itu paling jadi kotor aja sih itu tas nya karena banyak debu selama perjalanan. Perjalanan menuju Kathmandu dari Kodari sekitar 4 jam. Awal perjalanan sungguh menyeramkan karena kami berkendara di jalan yg tidak beraspal. Kami melewati jalanan berpasir yang sangat licin yang dipinggirnya jurang dengan belokan2 yang sangat tajam ditambah tanjakan dan turunan yang sangat curam. Pada saat itu tidak satu pun dari kami bisa tertawa melainkan hanya tertegun diam khawatir akan keselamaan jiwa kami. Sungguh jalan yang sangat tidak layak dilewati oleh umum. Saya baru ingat karena beberapa bulan sebelumnya ada musibah longsor di tempat ini dan beritanya mendunia, mungkin jalanan ini baru saja dibuka setelah musibah itu ya jadi memang keadannya sangat tidak sempurna. Dalam waktu 4 jam pun kami tiba di Kathamandu, namun pada saat itu kami belum booking hotel karena jadwalnya maju sehari. Akhirnya sang supir memberi ide kami menginap di Annapurna Hotel, hotel yg cukup nyaman dengan fasilitas bintang 5 dan lokasi yg cukup strategis karena dikelilingi oleh restoran dan bar. Gak ada salahnya kami menginap disini setelah lebih dari seminggu kami kedinginan tinggal di penginapan yang tidak ada heaternya di Tibet. Setibanya di hotel kami pun segera memburu KFC untuk makan malam yang letaknya di sebelah hotel kami menginap. Sungguh seperti menemukan surga bisa makan ayam goreng khas KFC disini setelah sekian lama makan makanan yang kurang begitu cocok di lidah kami hahaha...

Day 2 (Kathmandu - Bhaktapur)

Bangun pagi kali ini terasa begitu menyegarkan mungkin karena semalam tidur pulas. Gimana gak pulas, kasurnya empuk, kamar mandi nya wangi dan bersih ditambah suhu udara kamar yg tidak begitu dingin. Setelah kami sarapan di menyewa mobil dari hotel untuk berkeliling di Kathamndu, tujuan kami hari ini adalah Thamel, Patan dan Swayambhunath. Harga sewa mobil/jeep seharian kalau dari hotel sekitar 120 USD untuk kami ber 6. Kami mulai perjalanan ini dengan menuju Thamel yang merupakan sebuah kawasan pusat perbelanjaan, hiburan dan pusat tour agent. Teman kami sangat berkeinginan untuk pergi ke Hard rock cafe di area ini karena ingin beli souvenir kaor Hard Rock Cafe kathmandu. Si supir tidak mengetahui dimana letak Hard Rock cafe tersebut, setelah tanya orang2 disekitar tempat itu akhirnya kami menemukannya juga. Kami curiga setelah liat tempat ini karena berada di lantai atas sebuah ruko, tidak seperti HRC pada umumnya yg besar dan bagus. Setelah kami cari tahu betul saja kalau HRC di kathmandu itu KW alias tidak resmi haha..karena tidak terdaftar resmi di website Hard Rock Cafe dan kebetulan juga saat itu belum buka cafe nya baru buka pukul 2 siang. Akhirnya kami memutuskan untuk berkeliling di Thamel, memasuki kawasan ini seperti memasuki sebuah labyrinth yang penuh disesaki baik para turis maupun para penjaja souvenir. Tidak ada rambu2 lalu lintas disni, kendaraan kecil berjalan ngebut tanpa menghiraukan ada orang di sekitarnya, bunyi klakson saling bersautan membuat kawasan ini begitu meriah. Kebanyakan toko2 disini menjual perhiasan2 berwarna warni baik untuk pria maupun wanita, Pashmina dan tidak kalah penting buku2 kualitas tinggi yang sulit ditemukan di Jakarta.

Waktu 3 jam tidaklah terasa di Thamel namun kami harus melanjutkan perjalanan ke Patan atau juga dikenal sebagai Lalitpur. Jarak Kathmandu dengan Patan tidak jauh sebenarnya mungkin hanya beberapa kilometer, tapi keadaan jalan di Kathamndu itu mirip Jakarta banget dimana mana macet dan lebih semrawut jadi berkesan agak lama di perjalanan. Setibanya di Patan kami menuju ke Patan Durbar Square. Sebelum pintu masuk akan ada beberapa orang yg akan menwarkan jasa guide nya. Saat itu kami mengambil satu guide seharga 20USD hitung2 membantu penduduk lokal yg notabene keadaan ekonominya dibawah indonesia, biarpun begitu kemampuan bahasa inggris mereka lebih baik ketimbang orang indonesia. Harga tiket masuk ke Patan Durbar square sendiri 250 NRP atau sekitar 30rb rupiah. Di dalam durbar square ini banyak terdapat kuil, patung, istana dan yang harus dikunjungi disini adalah Patan Museum. Di tempat ini juga menjadi pusat kerajinan tangan dan cocok apabila kita ingin membeli hasil kerajinan tangan tradisional mereka. Kami pun menyempatkan untuk makan siang di dalam Patan Musem yang terkenal itu, Makanannya sih biasa aja tapi memnag suasananya begitu menyejukan ditemani taman yang indah.

Setelah setelasi dari Patan kami menuju ke Swayambhunath namun kami sempatkan untuk berehenti sejenak mengunjungi kediaman Kumari (Patan). Kumari dipercayai sebagai sebuah sosok dimana Tuhan ada di dalamnya oleh penganut Nepali Hindu dan Nepali Buddhist kecuali Tibetan Buddhist yg tidak mempercayainya. Sosok Kumari ini haruslah perempuan yang belum puber dan dipilih melalui seleksi yang ketat dari mulai keturunan dan juga keadaan fisik yang harus sesui dengan kriteria sebagai Kumari. Kami pun tiba di kediaman Kumari yg saat itu cukup sepi dan untuk bisa berfoto bersama kita harus menyisihkan 100 NRP atau sekitar 13.000 rupiah. Sebelum memasuki kediamannya kita pun harus menanggalkan segala atribut yang terbuat dari kulit asli termasuk ikat punggang, begitulah kepercayaannya. Sosok Kumari yang saya lihat secara langsung sebenarnya tidak ada bedanya dengan anak kecil pada umumnya kecuali dengan make up yang dibuat sesuai dengat adat mereka dan tidak adanya ekspresi di muka anak kecil itu, kecapekan kali ya udah nerima banyak tamu buat foto2 atau dia sebetulnya agak tidak suka dengan kedatangan kami? hahaha.. Setelah mengunjungi Kumari kami pun langsung menuju Ke Swayambhunath. Swayambhunath merupakan sebuah komplek religi yg letaknya di atas bukit di Kathmandu. Tempat ini dianggap suci bagi penganut Buddha khususnya Tibetan Buddhism dan merupakan temapt religi terbesar kedua setelah Boudhanath. Kami Tiba di Swayambunath tepat ketika matahari sedang terbenam. Untuk menuju ke Kuil ini kita harus melewati 365 anak tangga dan membayar 200NPR (25rb rupiah). Selama menaiki tangga kita harus berhati dengan monyet yang bayak berkeliaran bergantung dipohon, mereka suka banget ngambil makanan, handphone atau apapun yang sedang kita pegang dan pastikan tas dalan keadaan tertutup, agak nakal monyet2 disini padahal mereka menyebutnya Holy Monkey. Sesampainya kami diatas pemandangan begitu indah dengan pancaran cahaya emas matahari terbenam menghajar Stupa yang begitu besar dan disini pun kita bisa melihat kota Kathmandu dari atas ketinggian. Selesai menikmati Swayambhunath kami langsung menuju Bhaktapur.

Perjalanan dari Kathmandu menuju Bhaktapur kami tempuh dalam 2 jam malam itu, padahal jaraknya hanya belasan kilometer namun macetnya bikin sakit kepala mana debu nya parah banget lagi. Akhirnya kami pun sampai Bhaktapur pukul 9 malam. Pada saat memasuki Bhaktaphur perasaan merinding menghampiri karena jalanan yg gelap ditambah bangunan2 tua yang dihiasi ukiran2 khas Nepal. Bhaktapur merupakan sebuah kota kuno yg tersisolasi dan dinobatkan sebagai Unesco World Heritage area karena di tempat ini kaya akan bangunan2 sejarah dan budaya yang masih sangat kental. Tujuan kami malam itu sebenarnya adalah untuk menghantar saya dan Rudy bertemu dengan teman2 dari Indonesia yang lain dan berpisah dengan teman2 yg telah ikut ke Tibet. Kami pun sampai di Cosy Hotel tempat kami menginap di Bhaktapur dan disambut dengan begitu hangat oleh staff hotel nya. Saya sangat merekomendasikan untuk menginap di hotel ini selain exterior yang masih sangat tradisional namun interironya sudah modern, staff yang sangat helpful dan ramah, harga yg tidak mahal dibandingkan hotel sekelasnya di Bhaktapur dan keadaan kamar yg nyaman untuk ukuran Nepal. Dalam keadaan lelah kami pun bertemu sahabat2 saya dari Indonesia yang sudah lebih dulu tiba di Hotel ini, Yane, Rahma dan Kak Lia beserta 5 orang teman baru kami (Sangga, Masno, Rama Adams, Arslan dan bang Zoel). Sebelum teman kami yg sudah pergi ke Tibet pulang kembali ke Kathmandu kami pun sempatkan untuk bercanda gurau di rooftop hotel tersebut sambil ditemani makanan kecil. Pertemuan yang menyenangkan dan perpisahan yg menyedihkan dilakukan secara simultan. Karena sudah lelah kami pun berpisah dengan kak Mei, kak Nday, kak Tipa dan kak Seno dan segera menuju kamar untuk tidur.

Day 3 (Bhaktapur - Pokhara)

Pagi sekali saya bangun setelah semalam tidur nyenyak dengan niat untuk berburu matahari terbit dari rooftop hotel kami menginap. Namun sayangnya pagi itu sungguh berkabut, alhasih saya meumutuskan untuk jalan berkeliling Bhaktapur sambil menikmati udara pagi. Para penduduk pun memulai aktifitas nya di pagi hari dari mulai bersembahyang di area, para penjaja makanan yg mulai membuka gerai nya, anak anak sekolah yang ceria pergi ke sekolah dan pasar pagi yg mulai sibuk dengan transaksi nya. Saya pun menyempatkan untuk ngopi di warung kopi lokal bergabung bersama sama bapak2 yg ingin memulai kegiatannya. Kopinya pun enak dan murah cukup membayar 20NPR atau sekitar 2500 rupiah kita sudah dapat menikmati secangkir kopi susu nikmat yang panas dan bukan instant. Saya dan sahabat saya pun Yane melanjutkan jalan2 pagi ini ke area Nyatapola dan Bhaktapur Durbar Square sambil berfoto foto ria yang dikala itu Sangga dan Kak Lia lebih memilih untuk lari pagi hahaha.. Tak terasa waktu beralalu sudah lewat 2 jam kami harus kembali ke Hotel untuk Sarapan dan beberes karena siang ini kami harus menuju Pokhara dengan kendaraan yang sudah kami sewa. Idealnya kita setidaknya menginap di daerah ini 2 malam karena banyak banget area yang belum saya explore ditambah kawasan ini relatif lebih tenang dibandingkan dengan Kathmandu yg begitu sibuk, berisik dan berdebu, cocok banget kalau kita hanya ingin santai2 menikmati karya arsitektur khas Nepali.

Mobil penjemput pun sudah siap menghantar kami menuju ke Pokhara yang didapatkan dari tempat hotel kami menginap di Bhaktapur dengan harga sewa 19.000NPR. Mobil yang kita sewa pun cukup besar dan nyaman sejenis minivan dengan kapasitas 16 orang namun saat itu hanya terisi 10 orang. Perjalanan dari Bhaktapur menuju Pokhara kami tempuh dalam waktu 7 jam tanpa AC untungnya saat itu udara disana masih terbilang adem tapi sayangnya banyak sekali debu dan asap bus membuat saya terbatuk batuk, mirip di indonesia lah keadannya. Oiya pada saat menyewa bobil di Nepal pastikan apakah ongkos sewa termasuk AC atau tidak karena beda harganya. Pemandangan selama perjalanan pun tidak begitu spektakuler, semacam perjalanan jalur selatan jawa - hijau aja gitu, tapi pada titik tertentu kita bisa melihat pegunungan himalaya di kejauhan.Akhirnya kami tiba malam hari di Pokhara. Kesan kami ketika masuk Pokhara adalah seperti memasuki kawasan Seminyak Bali, dimana dipenuhi toko2 dan bar2 di sepanjang jalan tepi danau. Malam itu kami menginap di Double Tree Hotel yang letaknya di kawasan hits Phewa lake side. Kami pun disambut dengat sangat ramah oleh pemilik hotel tersebut, mungkin karena kami menginap dalam grup lumayan besar kali ya. Harga per malam nya pun sangat murah untuk ukuran hotel, termurah sepanjang hidup saya, 100rb permalam/orang, dengan fasilitas layaknya hotel bintang 3+. Setelah kami check ini kami sempatkan untuk berjalan jalan di sekitar lakeside sekalian cari makan malam.

Day 4 (Pokhara)

Sekitar jam 4.30 pagi kami pun bergegas bangun karena jadwal kali ini adalah memburu sunrise di Sarangkot menggunakan mobil sewa yang disediakan oleh Double Tree hotel. Letak Sarangkot ini berada di puncak bukit Pokhara dengan jarak tempuh 20 menit dari tempat kami menginap. Di Sarangkot kita bisa melihat barisan peginungan Himalaya khususnya Annapurna range yang membentang dari kiri ke kanan. Sungguh kesempatan yang luar biasa pagi itu kami bisa melihat matahari terbit yg menyinari pegunungan Himalaya meskipun dari kejauhan. Oiya secepat mungkin kalian pergi ke tempat ini karena makin mendekati sunrise makin penuh sesak sehingga sulit untuk mencari spot untuk foto. Tidak ada biaya masuk ke tempat ini kecuali kalau ingin ngambil foto diatas sebuah restoran yang spotnya juga bagus, kalau itu harus bayar 100 NPR plus dapat free teh panas hehe. Selesai Sunrise-an kami kembali ke Hotel untuk sarapan dan beristirahat sejenak sebelum melakukan perjalanan berikutnya.

Kami pun melanjutkan perjalanan hari ini menuju Begnas lake di sekitar Pokhara. Sebenernya yang terkenal di Pokhara ini adalah Phewa lake nya, namun karena jaraknya sejengkal saja dari hotel kami menginap kami memutuskan untuk pergi yang agak outskirt. Dan menurut staff hotel kami menginap, Begnas lake ini terkenal karena danau nya yg mirip cermin. Perjalanan ke Begnas lumayan jauh sekitar 1.5 jam dari Pokhara. Akhirnya kami pun tiba di Begnas lake dan sebagian teman saya memilih untuk naik perahu gowes mengitari danau ini sedangkan saya hanya ingin menikmati pemandangan di sekitar danau ini sambil menyeruput teh hangat. Opini saya mengenai danau ini sebenernya gak bagus bagus banget, jauh lebih keren danau Toba dan saat itu kami gak dapet efek cermin dari danaunya mungkin karena cuaca nya yg kurang mendukung kali ya.. Pada saat kami beristirahat di warung sekitar danau itu ada pengamen yang menghampiri kami memainkan alat musik tradisionalnya. Lucunya pengamen tersebut agak maksa minta duit dari kami yang mengharuskan kami memberi tip ke dia satu persatu hahaha.. Selesai dari Begnas lake kami menuju ke Tashi Palkhiel.

Perjalanan dari Begnas Lake ke Tashi Palkhiel juga lumayan jauh sekitar 1 jam lebih. Tashi Palkhiel merupakan area pengungsian terbesar di Nepal yang dihuni oleh para Tibetan refugee atau lebih dikenal dengan Tibetan Refugee Camp dengan total pengungsi 1000 jiwa kurang lebih. Di tempat ini terdapat sebuah monastery, sekolah, asrama, kampung tibetan dan toko2 yang menjual souvenir khas Tibetan yang dihasilkan oleh para pengungsi disini, layaknya sebuah kampung yang terisolir. Sambil mengisi waktu saya pun berbincang dengan kepala biksu disini, yang relatif masih muda. Beliau mengatakan kami para pengungsi tidak mendapatkan pengakuan sebagai warga negara Nepal (dengan alasan politis) dan tentunya hak sebagai warga negara mereka tidak dapatkan, mulai dari pekerjaan, passport, perlindungan hukum dll, padahal mereka sudah lahir dan besar disini. Kebanyakan para pengungsi disini menyebrangi perbatasan Tibet-Nepal melalui Mt. Kailash (gunung yg dianggap suci bagi penganut Tibetan Buddhism) pada masa revolusi Tibet tahun 1959 dan pada umumnya mereka pengikut Yellow hat Sect (Gelukpa). Setelah berbincang2 saya dan teman2 pun diundang beliau masuk ke Assembly hall untuk mengikuti upacara ritual mereka yg dilakukan rutin jam 4-5 sore. Sungguh pengalaman yg menakjubkan bisa melihat kegiatan ritual mereka secara langsung, gumaman scripture saling bersautan menggemna diseluruh ruangan, alunan alat musik tradisional yang begitu dramatis membuat jantung saya berdengup kencang dan tanpa disadari mata sy pun basah dikarenakan begitu mistis nya suasana di ruangan tersebut. Meskipun saya tidak mengerti apa yang mereka ucapkan suasana di dalam assembly hall tersebut mampu membuat saya tidak mau mengangkat badan dari tempat itu. Waktu pun berjalan terasa cepat dan kami pun harus kembali ke Pokhara sebelum terlalu malam. Saya hanya bisa bilang semoga kalian para pengungsi bisa mendaptkan masa depan yang lebih cerah dan bisa berkumpul dengan keluarga besar yg ditinggalkan di Tibet. :(

Day 5 (Pokhara)

Pagi ini saya bangun dari tempat tidur dalam keadaan badan setengah remuk dan batuk2. Ada kemungkinan karena kemarin nonstop dari subuh sampai malam ditambah infeksi tenggorokan yg makin menjadi2 dikarenakan debu selama perjalanan dari Bhaktapur ke Pokhara. Karena itulah saya memutuskan untuk beristirahat saja di hotel dan membiarkan teman2 saya yang lain pergi berwisata ke sekitar Pokhara. Sayangnya saya harus merelakan tawaran sepupu saya untuk mengikuti Paragliding dari Sarangkot mengitari kota Pokhara bagaikan burung dengan alasan kehabisan uang, padahal sih males aja abis pagi banget berangkatnya hahaha.. Pagi pun berlalu dan saya mendapatkan tawaran dari teman saya yg kebetulan juga tidak pergi tour, untuk ikut Ultralight flight. Saya pun sedikit ragu untuk ikut apa nggak karena agak mahal tapi badan sudah mulai enakan. Akhirnya saya meng iya kan dan berangkat pukul 3 sore menuju Pokhara airport untuk ikut Ultralight Flight. Ultralight flight adalah kegiatan mengudara menggunakan transportasi semacam paragliding namun menggunakan baling2 bermotor sehingga kami bisa pergi lebih jauh dan lebih tinggi. Saat itu saya mengambil paket 30 menit seharga 170USD termasuk foto dan video selama terbang. Selama 30 menit kami mengudara kita dapat melihat jajaran pegunungan Himalaya (Annapurna) dari atas awan. Awalnya saya pun merasa ketar ketir naik pesawat kecil tak berjendela ini apalagi ketika kami harus menembus pekatnya awan. Namun lama kelamaan perasaan takut pun hilang apalagi ketika melihat barisan gunung Annapurna, sungguh spektakuler! Di tengah2 perjalanan terkadang sang pilot membuat manuver2 yang membuat jantung berdegup kencang hampir mau mati rasanya! Pesawat ditukikan begitu tajam, diputar layaknya gangsing. 30 menit belangsung cukup singkat karena perjalanan yang cukup membuat kenangan yg begitu seru dan indah.

Selepas Ultralight flight kami pun kembali ke Pokhara dan mengunjungi Phewa lake sambil menikmati matahari terbenam. Namun sayang sekali waktu itu kabut cukup tebal membuat matahari sore tidak terlihat. Untuk mengisi waktu salah satu teman korea kami bernyanyi lagu tradisional korea dan kami iringi dengan tarian ala ala "sakitnya tuh disini" hahaha konyol banget waktu itu. Tak terasa langit pun sudah gelap dan kami segera pergi ke lakeside untuk cari makan malam. kalian bisa temukan beberapa restoran ternama di sekitar sini melalui Tripadvisor.

Day 6 (Jomsom)

Pagi ini kami serombongan sudah harus di airport sebelum jam 7 karena hari ini akan menuju ke Jomsom. Pesawat sudah di arrange oleh pihak hotel yang waktu itu seharga 110USD (Pokhara-Jomsom) one way. Oiya semua kegiatan kami di Pokhara yang mengatur adalah pihak hotel dan tinggal bayar di hotel Double Tree ini, sungguh sangat dipermudah segala kegiatan dan pembayaran disini, Terima Kasih Kola!! (the hotel owner) sampai kami diantar olehnya ke bandara dan diurus semua proses check in nya, baik banget dah.. Akhirnya kami bisa terbang setelah delay lebih dari 2 jam. Kami menggunakan Nepal Airlines dengan jenis pesawat twin otter, manual dan pake baling2. Sebenernya waktu tempuh ke Jomsom hanyalah 20 menit namun 20 menit terasa begitu lama dikarenakan keadaan yang begitu menegangkan, pesawat seringkali oleng tertiup angin kencang yang berhembus diantara lembah pegunungan. Namun sungguh pemandangan yang luar biasa indah naik pesawat ini, kita bisa melihat pegunungan himalaya tepat di depan kaca jendela kokpit dan lembah2 tandus disampingnya. Memang sebetulnya rute Pokhara-Jomsom merupakan salah satu rute penerbangan yang fragile dikarenakan keadaan cuaca baik angin maupun kabut sering menjadi kendala dan juga landasan bandara di Jomsom yang cukup mengerikan, diatas tebing dan pendek. Akhirnya kami pun mendarat dengan selamat di bandara Jomsom setelah 20 menit penerbangan hidup dan mati hahaha..

Turun dari pesawat kami bukannya menuju terminal melainkan terkagum kagum akan pemandangan di sekitar airport ini. bandara yang dikelilingi oleh pegunungan tinggi yang curan yang atasnya diselunti es abadi sungguh mengagumkan! kami pun asik berfoto di area runway dan akhirnya diseret petugas keamanan untuk segera menuju terminal hahaha.. Di dalam terminal kami pun sudah disambut oleh manager hotel tempat kami menginap, Krishna namanya. Dari airport menuju hotel kami cukup berjalan kaki saja dan kami harus berhenti sejenak untuk diperiksa permit di pos checkpoint yang telah kami urus di Pokhara (lewat mr. Kola), permit yang diperiksa adlaah TIMS (Trekker's Information Management System) dan ANCAP (Annapurna Coservation Area Permit) yang masing masing seharga 20USD. Setelah permit kami di cap kami lanjutkan berjalan menuju hotel yang berjarak 100 meter dari airport. Kami menginap di Om's Home Jomsom, nomor 1 di tripadvisor. Setibanya di hotel kami pun disambut oleh pemilik hotel dengan sangat ramah, Tripple namanya. Setelah check in dan beberes barang hari ini kami langsung melakukan kegiatan trekking.

Kami pun memulai trekking didampingi oleh sang pemilik hotel (Tripple) setelah sarapan yang telah disediakan oleh pihak hotel. Sebelum memasuki rute trekking lagi lagi permit kami diperiksa di checkpoint. Rute pertama adalah menuju Dhumba lake/Village. Selama trekking tak henti henti nya kami memuja keindahan alam disini, kami temui hamparan sungai yang luas namun kering, tebing tebing raksasa, pepohonan yang mulai menguning, kampung2 tradisional yang begitu asli disertai pegunungan es yang memanjakan mata kami, sungguh pengalaman yang luar biasa. Sekitar 2 jam trekking tiba lah kami di Dhumba lake yang terkenal di kawasan ini namun sayang pintu gerbangnya terkunci. Tak gentar kami pun nekat untuk memanjat pagar berduri tersebut, sudah susah payah kesini masa gak ke danaunya hih.. Danaunya sih tidak begitu besar tapi airnya jernih bangettt.. Setelah menikmati keindahan alam khas surgawi di danau ini kami pun melanjutkan perjalanan menuju Marpha Village. Tripple pun menawarkan kami untuk makan siang di sana dan dia bertanya kepada kami mau makan apa, karena harus dipersiapkan terlebih dahulu, jadi setibanya disana kami tinggal makan. Kami pun berebut minta ini itu karena perut sudah keroncongan. Perlahan lahan namun pasti sambil seringkali berhenti untuk mengambil foto kami sudah melewati beberapa kilometer, lanjut jalan berkilo meter lagi tak kunjung sampai. Kami pun teriak ke Tripple, mana kampungnya oii? kami sudah lapaaar!! haha Tripple pun menghibur, tidak jauh lagi itu di depan.. Baiklah kami memang melihat ada kampung di depan. Tiba di kampung tersebut jalan semakin cepat karena perut sudah berisik. namun kenyataannya kami bablas kampung tersebut ternyata bukan disitu melaikan kita harus berjalan beberapa kilometer lagi menuju Marpha Village. Ini aneh banget sih, udah order makanan kapan tau tapi gak nyampe2, ntar makanannya udah dingin lagi. Akhirnya tak terasa lebih dari 3 jam kami berjalan dan tiba di Marpha Village. Masuk kedalam kampung kita akan melihat jalanan dan bangunan yang terbuat dari batu dan dikapur putih membuat suasana semakin dingin. Disini pun terdapat rumah Ekai Kawaguchi yang terkenal sebagai bhiksu Jepang penganut Tibetan Buddhism yang pertama kali melakukan hijrah ke Nepal dan Tibet pada masanya.

Selesai muter2 dan makan sore di Marpha Village kami kembali pulang ke Jomsom. Sore itu begitu dingin menambah keletihan yg kami sudah dapatkan sebelumnya. Tripple pun bilang kita harus berjalan kaki menuju Jomsom, Seriusan itu jauh banget! berapa belas kilometer kami harus berjalan mana keadaan udah mulai gelap lagi. Biasanya masih ada public bus yang melewati daerah ini menuju jomsom tapi terakhir jam 4 sore, kala itu kami sudah jam 5 sore. Untungnya ditengah perjalanan ada jeep nganggur dan dengan tawar menawar akhirnya bersedia menghantarkan kami kembali ke Jomsom. Oiya saya baru ingat siapa yang bayar itu jeep ya? karena kami tidak mebayar sepeser pun untuk jeep itu, hiihhi, Tripple yg baik hati itu kali yak.. Setibanya di hotel kami bersiap santap malam dikarenakan tidak adanya restoran yang decent disekitar area Jomsom ini. Saya merekomendasikan untuk makan di hotel ini karena menunya lumayan lengkap dan lumayan enak khususnya Chicken noodle dan Chicken Chilli (bagi penyuka pedas) rasanya bikin nagih..

Day 7 (Jomsom)

Setelah semalaman bergelut dengan dinginnya kamar (gak ada heater) saya pun harus bangun pagi demi mengejar sunrise di pegunungan annapurna. Pengorbanan yang tidak sia2 harus berperang melawan diginnya pagi saat itu karena pemandangan yang luar biasa didapatkan dari gelapnya malam muncul seberkas cahaya emas. Ditambah di hotel itu terdapat coffee shop terkenal, Java Coffee namanya jadilah saya ditemani kopi hangat sambil menikmati sunrise dari atap hotel tempat kami menginap.

Setelah sarapan hari ini kami dijadwalkan untuk pergi ke Muktinath menggunakan Jeep karena jaraknya yang cukup jauh. Perjalanan dari Jomsom ke Muktinath sekitar 1.5 jam, dengan kondisi jalan tidak beraspal. Jadi siap siap aja kantung plastik kalau mau muntah karena jalan yang ajlut2an. Meskipun jalanan tidak dalam kondisi baik, pemandangan selama perjalanan dapat membius kita untuk tidak merasa tersiksa. Keindahan alam yang luar biasa ditawarkan selama perjalanan ini. Kami sempatkan untuk berhenti beberapa kali untuk mengabadikan tempat ini. Sesampainya di area parkir kami menuju Muktinath Temple. Tak disangka sangka bahwa keadaan fisik saya membuat saya tidak bisa melanjutkan ke temple tersebut dan saya memutusnkan untuk nongkrong di Bob Marley Cafe yang terkenal di kawasan itu. Muktinath sendiri terletak di kaki Thorong la Pass sebuah pass yang terkenal bagi para trekers dan tertinggi di rute Annapurna trek, tak heran banyak restoran kece dan hotel di area ini karena dijadikan base bagi para trekers sebelum atau sesudah mengunjungi Thorong La Pass. Ketingginggian Muktinath sendiri adalah 3.710mdpl, tak heran kenapa saya merasa begitu capek karena kandungan oksigen yg begitu tipis ditambah kondisi fisik saya yang sudah lebih dari 2 minggu jalan2. Muktinath temple merupakan kuil suci bagi para penganut baik Buddha maupun Hindu dan sering dikunjungi para jamaah nya dari mancanegara sekalipun. Setelah teman saya yang lain mengunjungi Muktinath Temple kami pun kembali ke hotel.

Day 8 (Jomsom)

Pagi ini merupakan jadwal kami kembali ke Pokhara, namun kabar buruk menghampiri kami. Kami dapat berita bahwa penerbangan kami ditiadakan karena keadaan cuaca di Pokhara yg diselimuti kabut tebal ditambah angin kencang di Jomsom. Meskipun begitu kami tetap berharap pesawat kami tiba dan dapat menghantarkan kami pulang karena kalau tidak jadwal kami akan sedikit rusak. Jam 11 siang pun tiba dan tidak ada perubahan bagi penerbangan kami, tetap dibatalkan. Setelah jam 11 tidak akan ada lagi penerbangan dikarenakan angin di kawasan Jomson begitu kencang, hal itu sudah menjadi kodrat di kawasan Jomsom musim apapun. Pihak hotel pun memberi kita beeberapa opsi untuk kembali ke Pokhara yaitu melalui jalan darat, naik public bus atau sewa jeep. Masing masing punya kelebihan dan kekurangan. Public bus murah tapi kita harus siap dengan kondisi bus yg tidak aman melewati jalanan yang berbahaya ditambah kita harus beberapa kali pindah kendaraan untuk sampai ke Pokhara. Sewa jeep Mahal banget hampir sama dengan harga tiket pesawat dan durasinya pun sama aja dengan naik bus 11 jam untuk sampai ke Pokhara, buset tua di jalan dah, mending jalanannya bagus?! Akhirnya kami memutuskan untuk tinggal sehari lagi di Jomsom. Oiya biaya menginap di Om's Home Jomsom ini 20USD /org/night. Kami pun diharuskan untuk membeli tiket pesawat baru untuk keesokan harinya seharga 117 USD, first flight (Tara Air) dan kami akan mendapatkan refund untuk penerbangan kami yang dibatalkan ananti di Pokhara.

Hari ini kami habiskan untuk beristirahat saja di dalam kamar, abisnya mau trekking udah capek kemana mana jauh. Sore harinya, Tripple pun menghibur kami dengan mengajak ke tempat di atas bukit yang keren untuk melihat matahari terbenam. Setelah puas melihat sunset kami pun kembali ke hotel dan lagi2 Tripple menghibur kami dengan memberi kami minuman lokal yang enak banget yang dia sudah pesan dari teman nya di Marpha village, memabukan sih iya tapi sama sekali tidak membuat kami hang over keesokan hari nya hahaha..jadi pengen pesen (Perlu disensor gak sih nih?) Di malam itu kami habiskan dengan bersendau gurau sambil mendengar curhat colongannya si Tripple mengenai kekasih lamanya yg dikenal semasa kuliahnya di Australia yang kebetulan orang Indonesia hahaha..

Day 9 (Jomsom - Pokhara - Kathmandu)

Pagi ini kami kembali dijadwalkan untuk pulang ke Pokhara pada penerbangan pertama jam 7 namun lagi lagi penerbangan kali ini di tunda, bukan di batalkan sih.. Kami pun berhasil terbang jam 9 (2 jam delay). Penerbangan pulang jauh lebih mulus kala itu, tidak ada pesawat terombang ambing oleh angin, Alhamduliilah bangettt.. Kami pun tiba di bandara Pokhara dan sudah dijemput oleh Kola, yang punya hotel Double Tree. Duh emangnya servis orang Nepal ini wahid banget. Oiya jangan heran ya kalo untuk mengambil bagasi disini tidak perlu tuh masuk ke terminal, tinggal ambil aja di trolley abis turun dari bagasi pesawat nanti juga deteriakin hehe.. Praktis dan efisien! Kami bersama Kola pun kembali ke Double Tree Hotel untuk mengurus Full refund dari pesawat yg telah dibatalkan sebelumnya. Setelah urus ini itu dan sarapan kami pun bersiap siap menuju Kathamndu dengan mobil sewa yg di atur oleh hotel ini seharga 19.000NPR sudah termasuk AC, lebih murah ketimbang pesan di Kathamndu. Kami pun terpaksa berpisah dengan Kola sang pemilik hotel dan staff2 nya yang ramah itu. Sebelum kami menaiki mobil van si Kola menyempatkan untuk mengalungi kami satu persatu sebuah selendang dan memberi tanda di dahi kami yg dipercayai membawa keberuntungan. So sweet!! benar2 seperti keluarga sendiri jadinya, baik bangettt!

Kali ini perjalanan dari Pokhara ke Kathamndu lebih cepat dari sebelumnya, 6 jam sudah sampai. Kami pun menginap di Nepalaya Hotel yang terletak di tengah tengah kawasan Thamel. Setelah chek in, kami langsung mengabiskan malam itu dengan berjalan2 di Thamel dengan membeli lagi beberapa souvenir yang mungkin terlewatkan.

Day 10 (Kathmandu)

Hari ini merupakan hari terakhir kami berada di Nepal. Berhubung flight kami malam hari, jadi kami masih bisa seharian menghabiskan waktu di Kathmandu. Agenda saya hari ini adalah mengunjungi sebuah toko outdoor yang terkenal Marmot (gak ada di jakarta), lalu dilanjutkan ke Dwarika untuk makan siang, lalu mengunjungi Boudhanath dan diakhiri dengan mengunjungi Kathmandu Durbar Square. Kami menyewa sebuah sedan dari pihak hotel dengan membayar 5000NPR. Kebetulan saya dan teman2 saya berbeda tujuannya untuk hari ini sesuai kebutuhan masing2.

Karena perjalanan dimulai cukup siang jadi kami cepat2 saja ke toko Marmot yang berada di sekitar Thamel tepatnya di jalan Durbar marg, setelah selesai lanjut ke Dwarika's Hotel. Konon katanya hotel ini adalah tempat menginap selebritis yang sedah berziarah ke Nepal untuk belajar Tibetan Buddhism, salah satu aktor terkenal Hollywood yg menjadi langganan hotel ini adalah Richard Gere dan masih banyak lagi pesohor dunia yang menginap disini. Penasaran kami dibuatnya, saya dan Rudy pun memutuskan untuk makan siang di tempat ini meskipun yg lebih terkenal adalah paket dinner nya. Tak mengecewakan memang selain makanannya enak suasana hotel ini pun begitu indah, mirip kampung kecil dengan arsitektur khas Nepali yg didalamnya terdapat stupa2 dan taman yang begitu asri menyegarkan. Kayaknya kalo menginap di hotel ini jadi males keluar deh soalnya emang keren banget. Selesai makan siang pun kami buru2 pergi ke Boudhanath. Tempat ini merupakan tempat reliji Tibetan Buddhism terbesar di Nepal, disini akan banyak dijumpai para biksu yang sedang bertawaf mengelilingi Stupa terbesar di Nepal. Harga tiket masuknya 250NPR. Stupa ini sendiri dikelilingi oleh toko2 yang menjual kerajinan khas Tibetan karena pada tahun 1950an banyak pengungsi dari Tibet yang menetap disekitar stupa ini. Selesai mengunjungi Boudhanath kami menuju Kathmandu durbar square. Karena waktu sudah sore kami memutuskan hanya mengambil foto sejenak area ini tanpa membayar tiket masuk yang kalau harus dibayar 500NPR hehehe.. Kathmandu durbar square sendiri areanya tidak seluas dan sebagus Patan durbar square. Selesai dari tempat ini kami langsung buru2 pulang ke hotel karena saya belum mengemasi barang bawaan saya.

Setibanya di hotel sayapun cepat2 berkemas karena kebetulan saya belum melakukan web check in Air Asia. Karena itu saya harus datang lebih cepat ke bandara dibandingkan teman saya yang lain yang sudah melakukan web check in. kami pun kembali menyewa mobil dari hotel seharga 1500NPR untuk airport transfer.Untungnya sang supir sudah mahir melewati jalan tikus di Kathmandu, karena kalau lewat jalan utama macetnya minta ampun, bisa bisa telat sampai airport. Betul saja sesampainya di airport antrian kendaraan yang mau masuk mengular panjang, dengan ahlinya sang supir menyerobot masuk dan kami sampai di aiport dalam waktu 45 menit dari normalnya 1,5 jam (kalo macet). Peringatan buat kawan2 yang mau ke Nepal lewat jalur udara, sediakan waktu yang lebih di bandara ini karena agak semrawut. Ambil antrian untuk warga asing jangan ikut ngantri dengan warga lokal karena antriannya memang beda dan jumlah warga lokal jauh lebih banyak dibanding turis. Untungnya counter check in air asia saat itu sepi banget jadi saya bisa lebih bernafas tenang. Setelah check in kami pun menuju ke bagian imigrasi, lucunya disini barisan laki laki dan perempuan dipisah (di Uni Emirate Arab gak gini2 amat deh hehehe). Akhirnya kami pun boarding tepat pada waktunya. Goodbye beatiful Nepal.. Thanks to all the friendly and nice Nepalese people, I'll be back surely..

Tips tips sebelum dan selamap perjalanan di Nepal:

  • Bawalah "Buff" atau masker untuk menghindari menghisap debu selama perjalanan di Nepal.
  • Perlu nggak pre arrange sewa mobil, bikin permit, book pesawat dan aktifitas lainnya sebelum kepergian? Menurut saya tidak perlu, karena ketika kita sampai disana khususnya di Thamel banyak tour agent yg menawarkan harga yang kompetitif dibanding pre arrange via internet. Bahkan pihak hotel pun dengan senang hati akan membantu mengatur segala kebutuhan kita disana dengan harga yang kadang lebih murah daripada tour agent. Tapi kalau pergi nya high season mungkin ada baiknya pre arrange untuk hal2 yang pasti aja.
  • Kalau pergi ke Jomsom atau Lukla sediakan hari ekstra karena tidak ada jaminan kita bisa ke sana sesuai dengan itinerary yg telah kita buat karena berhubungan dengan kendala cuaca ekstrim yang tidak bisa diprediksi.
  • Kartu kredit tidak begitu lumrah sebagai alat pembayaran disini khusunya untuk pembayaran di toko atau agent kecil. Namun US dollar diterima secara luas disini.
  • Kapan waktu terbaik untuk mengunjungi Nepal? September hingga awal November dan April hingga awal Juni. karena langit yang cenderung lebih bersih dibanding bulan2 lainnya