ETAPORAMA
DSC_0398.jpg

STORIES

stories about traveling, music, lifestyle by etaporama

New Zealand

Terkadang ide itu bisa datang dimana dan kapan aja, karena pada suatu ketika saya dan teman2 sedang asik ngobrol tentang traveling akhirnya salah satu teman saya nyeletuk, gimana kalo kita ke New Zealand? Saya pun penasaran untuk mendengar cerita lebih lanjutnya mengenai Negara itu. Dia bilang kalau di New Zealand ini lebih semacam perjalanan yang penuh petualangan karena alam liarnya yang begitu indah. Beberapa minggu lewat kami mulai menentukan waktu untuk pergi ke New Zealand khususnya South Island, kami putuskan untuk pergi saat Autumn/Winter season (June 6 - June 11 2013). Kenapa kami putuskan untuk pergi musim ini, karena kalau perginya Summer/Spring lebih banyak turun hujan dan kebetulan saya ini anti yang namanya jalan2 khususnya ke luar negeri tapi udaranya panas, secara di Indo ini udah keterlaluan panasnya haha.. Oia New Zealand ini adalah Negara yg terletak di Southern Hemisphere, jadi musimnya kebalik dengan negara2 yg ada di belahan utara khatulistiwa seperti negara2 di Eropa, China dan Amerika Utara. Autumn di NZ ini dimulai dari Maret-Mei, sedangkan Winter dimulai dari Juni-Augustus. Tiket

Setelah memutuskan perginya kapan, kami mulai hunting tiket dan akhirnya dapat tiket promo saat itu dengan menggunakan Qantas Airways seharga USD 960 yg kami beli lewat Dwidaya tour 3 bulan sebelum berangkat, kalo via online USD 980, lumayan lebih murah USD 20, hehe..  . Untuk harga normal tiket pulang pergi ke NZ itu rata-rata diatas USD 1000. Sebenernya ada juga maskapai yg terkesan menjual lebih murah, seperti Jetstar atau Virgin Australia, tetapi seperti kebanyakan LCC, harga tiket mereka belum termasuk biaya bagasi, makan, dan asuransi perjalanan. Khususnya untuk Virgin Australia, tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta, jadi harus ditambahkan juga biaya tiket untuk rute Jakarta-Australia.  Jika dibandingkan jumlahnya malah lebih mahal daripada tiket promo Qantas yang kami beli. Tiket yg kami beli adalah Jakarta-Christchurch-Jakarta, dengan transit beberapa jam di Sydney. Setelah urusan tiket selesai sembari menunggu proses pengajuan visa kami obervasi lebih mendalam lagi mengenai South Island, NZ. Karena keterbatasan waktu (kami semua adalah pegawai yang jatah cuti nya terbatas) kami tidak berencana untuk mengunjungi North Island, NZ. Kenapa pilihannya jatuh ke South Island, karena disana pemandangan alam liar nya lebih spektakuler, dan dengan perbandingan jumlah penduduk yang tidak lebih banyak dari domba, suasananya pun lebih sepi dan lebih santai.

Visa

Mengenai proses pengajuan visa, Kami apply untuk 5 orang, lagi2 menggunakan jasa Dwidaya tour karena beda biayanya cuma 75 ribu dibanding ngurus sendiri, karena kami juga punya kesibukan masing2. Biaya untuk pengajuan visa ini total Rp 1.575.000, 1.2jt utk embassy, 300rb utk VFS (agent yg ditunjuk embassy-mandatory), 75rb utk travel agent (optional). Oia sekarang ini banyak sekali Negara di luar negeri yang menunjuk agent sebagai pool untuk pengurusan visa, konsekuensi nya ya terpaksa harus bayar lebih dari harga yg tertera di website gov.embassy mereka. Eg: UK, UAE, Canada, Aussie, NZ pake agent Vfs kalo Prancis pake agent Tls contact. Formulir aplikasi visa NZ ini banyak banget, sekitar 16 lbr kalo gak salah dan dokumen pendukungnya juga harus lengkap. Yang bikin tegang adalah issued date visa kami masing2 berbeda harinya sampai2, 1 dari 5 orang yang akan pergi sudah keluar duluan visanya, yang 4 orang lagi belum, udah gitu salah seorang dari 4 org tersebut pake di interview pula by phone (ditanya mengenai pekerjaan dan tujuan pergi) bikin kami jadi makin was was antara disetujui atau tidak visa nya. At the end semua approved. Oia info tambahan, kalau kalian pergi sebagai keluarga inti hanya perlu membayar 1 orang, istri dan anak2nya gratis.. ya kalo keponakan atau sepupu mah bayar masing2 doong haha..apess

Campervan

OK kita ganti topic ke bagian yg tidak biasa, yakni mengenai campervan. Kami berencana untuk melakukan roadtrip keliling south island menggunakan Campervan. Karena berdasarkan research dari internet dan tanya2 teman yang pernah kesana, keliling NZ khususnya south island menggunakan campervan adalah cara yang paling efektif. Campervan merupakan kendaraan semacam caravan yg bisa diandalkan untuk sarana transportasi sekaligus akomodasi. Termasuk didalamnya ada dapur, kamar mandi dan tempat tidur yang bisa dirubah menjadi sofa dan meja makan, dengan space minim tentunya. Ada beberapa type dari campervan ini tergantung  banyaknya kapasitas tempat tidur, mulai dari 2 orang sampai 6 orang. Kami waktu itu menyewa untuk 6 orang meski diisi 5, dari provider KEA rentals. Harga sewa untuk 10 hari waktu itu NZD 1500.5, sudah termasuk insurance fully covered NZD 60/day. Saya sarankan untuk mengambil insurance ini karena bagaimanapun kita gak tau kedepannya apa yg akan terjadi dengan campervan ini apalagi di kondisi yg asing dan biasanya kalo kita ambil insurance ini kita tak perlu membayar lagi peralatan seperti GPS, handuk, bed sheet, picnic chair dll, yg mana harga tersebut sebenarnya terpisah. Pada saat booking kami diharuskan bayar NZD 250 sebagai DP dan sisanya harus dilunasi 35 hari sebelum tanggal mulai sewa, sayangnya waktu itu kami pake bank transfer jadi ada biaya transfer lagi.. Sebenarnya bisa bayar pake kartu kredit, hanya saja kami harus memberitahu informasi detail kartu kredit yg akan digunakan termasuk nomor CCV 3 digit yang ada dibalik kartu kredit tersebut via email, gile aje hari gini masih pake model begituan, Gak aman banget! Di New Zealand (hampir semua Negara persemakmuran Inggris) ini kendaraannya stir kanan sama dengan di Indonesia. Salah satu syarat untuk menyewa campervan disana adalah harus punya SIM Internasional atau melampirkan copy SIM local kita yang sudah ditranslate ke bahasa inggris.  Tetapi, waktu itu karena kami sibuk dengan urusan yang lain, kami lupa bikin translate salah satu SIM local kami yang akan dilampirkan disana, walhasil kami coba-coba sok lugu kasih SIM A salah satu teman kami yang diregistrasi sebagai yang akan mengemudikan campervan, diverifikasi oleh pihak KEA dan ternyata bisa! Nice try..hahaha

Liburan ke New Zealand tak lengkap rasanya kalau tidak menggunakan campervan, banyak plusnya kalo pake campervan, kita bisa bebas blusukan kemana aja, nginep dimana aja sampe2 di tengah hutan atau pinggir danau (yg disetujui oleh pemerintahannya ya), mau jalan tengah malem subuh kapanpun kita mau tanpa harus mikir tidur dimana.

Akomodasi

Kami booking 2 malam hotel untuk hari pertama dan terakhir, karena sangat tidak disarankan untuk langsung nyetir begitu sampai di NZ,  jetlag broh! Akomodasi hari pertama kami booking di YMCA Christchurch, dengan rates NZD 35/ orang/ malam, untuk private room. Akomodasi hari terakhir kami booking 1 kamar untuk 5 orang, di Airport Gateway Motorlodge, seharga NZD 215/ malam. Semua sudah kelar.. Itinerary udah mantep.. waktunya kita jalaan.. Ehh..tak disangka tak dinyana salah seorang dari kami ternyata terpaksa cancel dengan alasan gak boleh cuti kerja.. arrrgghh lumayan kelimpungan karena budget segalanya sudah kami hitung utk ber5. Tapi akhirnya dia setuju untuk tetap bayar patungan campervan nya, karena biaya tersebut non-refundable.

Hari Pertama (Jakarta - Sydney - Christchurch)

Malam hari jam 20.20 Qantas menuju Sydney dijadwalkan untuk take off tapi berhubung ada kendala teknis dengan mesin generator pesawatnya terpaksa keberangkatan delay sampai pukul 23.00. Yang bikin kami kecewa adalah karena kami harus sambung lagi pesawat dari Sydney ke Christchurch dan pihak bandara Jakarta tidak bisa memberi kepastian mengenai nasib connecting flight kami, kata mereka pihak Qantas Sydney yg akan ngurus, cih.. Kesan pertama saya naik Qantas sih biasa aja pesawatnya dari segi dekorasi, TV nya kecil dengan koleksi film gak banyak tapi lumayan baru2, makanannya standar, pramugarinya juga tua2 hehehe.. Sesampai di Sydney (jam 9 pagi +4 WIB) kami langsung diketemukan dengan petugas Qantas, karena kami satu2nya yg connecting ke Christchurch dan digiring sampai ke meja check in selanjutnya. Udah rejeki ini sih, karena kami ternyata dapet connecting menggunakan Emirates woohoo.. Tapi yaa tetep delay 1 jam juga dari jadwal transit yg 1 jam, jadi total nunggu 2 jam, gpp deh naik emirates ini daripada dilempar naik jetstar (1 holding dengan Qantas). Naik Emirates itu emang bener2 nyaman, dari tempat duduknya, entertainmentnya, makanannya apalagi WOW banget.. Kami pun tiba di CHC int’l airport pukul 15.00 (+5 WIB), disambut oleh udara yg segar dan dingin menyengat. Di Airport ini kami sempatkan untuk membeli SIM card untuk kebutuhan data service. Saran saya beli lah provider Vodafone yg jaringannya paling luas, ada sih yg lebih murah yakni 2degrees, tapi sinyalnya kurang kuat kalo kita mau blusukan ke daerah terpencil. Harga paket yg ditawarkan Vodafone waktu itu 50NZD (3GB data only), beli satu kita tethering deh buat rame2 hahaha.. Selepas itu kita cari airport shuttle yg sudah kita pesan sebelumnya (8.8 NZD/orang) menuju hotel kita menginap, sebenarnya sih gak beda jauh kalo naik taxi harganya 40-50 NZD max 4 orang.

Akhirnya sampai juga di hotel tempat kami menginap yaitu YMCA, yang terletak di pusat CBD, dekat sekali dengan Hagley Park. Badan udah pegel banget karena waktu perjalanan yg sangat panjang. Setelah istirahat sejenak, sekitar jam 6 sore kami pun menyempatkan untuk berjalan2 di sekitaran CBD Christchurch, jam segitu sudah gelap karena sudah masuk winter season, matahari terbenam sekitar jam 5 sore. Sepanjang jalan masih banyak sekali ditemukan sisa2 bangunan runtuh akibat gempa yg mengguncang kota ini February 2011 silam, sedih deh ngeliatnya ditambah populasi kota ini yg sedikit sekali menambah kesunyian kota tersebut. Tujuan utama kami malam ini adalah ke RE:START Mall sebuah pusat pertokoan yg terbuat dari container2 artsy dan kita berharap bisa ketemu tempat makan disitu. Setelah sampai di situ, lho.. ini tempat kenapa sepi banget, toko2nya udah pada tutup pula. Kebetulan ada petugas yg lagi jaga disitu dan kita tanya kenapa tempat ini sepi, dia bilang kalo tempat ini tuh jam 5 udah pada tutup pas weekdays, kalo weekend tutup jam 6. Di Jakarta 72 jam buka non stop lho kalo lg midnight sale :p . Akhirnya kami pun bertemu pemuda lokal dan kami menanyakan apa ada restaurant lokal yang masih buka jam segini, pemuda tersebut pun dengan ramah menjelaskan tempatnya, tapi maklum logat NZ yang dia pake itu bikin kita puyeng. Akhirnya ketemu ada satu restoran pinggir sungai gitu, tapi terlihat mahal, untungnya ada sepasang suami-istri yg baru keluar dari resto tersebut dan mereka merekomendasikan ke kami resto lain yang lebih ok, karena menurut mereka, resto yang baru mereka datangi dipinggir sungai tersebut harga nya mahal dengan porsi yang sedikit. Dengan sabar dia menjelaskan arahnya (sambil belajar mengerti logatnya) sampe2 sang istri menawarkan untuk dianterin pake mobil mereka, tapi tampak sang suami kurang menyetujui dengan alasan kita rame bener ber 4, mana cukup haha.. Basically mereka ramah banget, jarang soalnya liat bule ramah banget. Akhirnya dengan berjalan kaki sambil menikmati keindahan dan kesunyian kota ini sampailah kita di restoran yang direkomendasikan oleh suami-istri tadi, namanya Pegasus Arms. Tidak mengecewakan, tempat ini ramai dikunjungi warga lokal dan ada live music nya juga, seru pokoknya. Saya pun memesan Steak Porterhouse yg kurang lebih seharga 200ribuan rupiah, porsinya gila gede banget, lebih dari 250gr kayaknya, kalo di Jakarta bisa diatas lima ratus ribu rupiah harganya, sampe2 sodara saya gak bisa menghabiskan steak nya dan akhirnya saya juga yg ngabisin haha.. Carnivore sejati! Selesai makan dan ngopi2 kami pun pulang untuk beristirahat, semua ini kami tempuh jalan kaki aja dari YMCA, deket soalnya.

Hari Kedua (Christchurch - Kaikoura - Blenheim - Picton)

Karena jam tidurnya masih jam indo, kami telat bangun dan telat janjian untuk pick-up campervan kami, hehe..Kami segera mandi dan beberes, ditengah beberes saya dengar musik samar2 yg lagi diputar di TV, kok catchy banget lagunya! Seketika saya buka aplikasi Soundhound untuk mendeteksi lagu tersebut, walhasil ketemu dengan judul Royals by Lorde, inilah cikal bakal theme song kami untuk perjalanan di NZ. Kami check out dari hotel jam 10 pagi dan menuju ke tempat rental KEA campervan, biaya taksi nya 40 NZD dan di-refund ke KEA karena sudah masuk harga paket, lokasi rental tsb dekat dengan airport. Setibanya di kantor KEA kami langsung dilayani dengan ramah oleh CS nya. Sang CS pun menjelaskan detail2 dari penggunaan teknis campervan, kondisi jalan, tempat2 yg boleh diinepin dll. Selesai pengenalan campervan kami makan siang dulu di McD dekat situ, yg cepet aja deh ngejar waktu soalnya (9 NZD for chicken burger package). Selesai makan siang kami mampir dulu di supermarket “New World” untuk beli bahan2 logistic beberapa hari kedepan, total belanja 300NZD, belinya buah2an (salah nih harusnya nanti aja di fruit ranch), daging2an, ayam, sayur2an, beras, bumbu2, toiletries dan wine-disana murah banget! Impulsive sih, soalnya kita berpikiran untuk sekaligus beli biar waktunya gak kebuang utk belanja2 lagi di kota lain.

Setelah semua belanjaan masuk ke tempatnya masing2kami pun langsung tancap gas menuju ke tempat yg ada dalam list itinerary. Dengan mengandalkan GPS yg tersedia kami tinggal masukan alamat yg kita tuju, sang tante GPS pun akan berkometar kemana kita harus ambil arah. Ya ampun pertama kali nyetir Campervan rasanya kaki gemetar, tangan ikut keringetan karena ukurannya yg gak biasa, sebesar truck! Mana jalanannya rata-rata 2 jalur doang lagi ditambah kita gak familiar dengan rambu-rambu lalu lintasnya. Awalnya rada kebingungan juga dengan komentar2 tante GPS mengenai istilah2nya tapi lama kelamaan bisa ngeresep juga. Berdasarkan info dari CS nya KEA, GPS di NZ ini keakuratannya sekitar 99% lho. Fyi, kami membutuhkan waktu sekitar 2-3 hari untuk menyesuaikan diri menyetir campervan ini.

Tujuan pertama kita ini yaitu Kaikoura, sebuah kota kecil di pinggir pantai yg terkenal akan wisata lautnya, kalau beruntung kita bisa melihat whale (paus) berenang di sekitaran pantai kaikoura ini.  Jarak CHC – Kaikoura sekitar 180km yang kami tempuh sekitar 2 jam lebih perjalanan. Sepanjang jalan menuju Kaikoura kami tercengang akan keindahan alam yg luar biasa indahnya. Udara yang segar dan bersih, kondisi jalanan yg sangat sepi, bukit rerumputan yg hijau, pepohonan kering berwarna emas yg diakibatkan pantulan cahaya sore, semua itu membuat saya sulit berkosentrasi ketika menyetir. Karena kebanyakan berhenti untuk ambil foto tak terasa waktu sudah sore dan kami putuskan untuk tidak stop over di Kaikoura melainkan melanjutkan perjalanan Menuju Picton (160km), tempat kita akan overnight malam itu. Begitu pun perjalanan ke Picton, kali ini beda lagi tema pemandangannya, lebih banyak pemandangan pantai karena kami berjalan meyelusuri East Coast. Jalur east coast ini ternyata menghadap ke Samudra Pacific lho, wajar saja pantainya begitu indah dan jalur ini pun dilewati oleh kereta scenic dari CHC ke Nelson yg hanya beroperasi musim panas saja. Cuma harus hati2 nyetir di rute ini karena tiba2 saja abis belokan gitu akan ketemu sebuah terowongan yg rendah sekali. Tunnel tersebut berada di tepian jurang yg dibawahnya laut, kebayang kan ngerinya kayak apa, ngeri sekaligus stunning!

Perjalanan makin lama makin gelap dan perut kami gak bisa dikompromi lagi, kami harus dapat restoran segera!! Ditengah perjalanan akhirnya kami singgah di satu kota dan bertanya ke seseorang untuk tau restoran enak apa yg buka di kota ini, oia nama kotanya Bleinheim. Dia bilang ada restoran Asia enak yg letaknya diujung jalan sana, bah mentang2 muka kita asia ditunjukinnya resto asia juga kali yah haha. Gpp deh pengen juga makan yg pedes2 dan panas soalnya cuaca disana dingin banget, 8C. Akhirnya ketemu juga resto yang dimaksud, namanya Bamboo Garden yang menjual makanan thai-chinese, tapi mana parkiranya??! Kami pun kebingungan cari parkir untuk campervan kami, karena kita gak boleh parkir sembarangan dipinggir jalan. Sewaktu kami mencari parkiran, peristiwa naas menimpa kami. Atap campervan kami menabrak patio sebuah hotel yg ada disekitar resto itu yg membuat atap campervan kami ringsek, tapi patio hotel itu gak apa2 sih. Kami pun celingak celinguk, kok gak ada orang yang keluar sama sekali ya, dan hotelnya pun kok gelap banget, yaudahlah kita putuskan untuk kaboorr… akhirnya kami dapat parkiran yg gak terlihat oleh hotel tadi hehe.. Tapi tetap saja peristiwa itu membuat saya jadi benar2 down karena merasa bersalah, takut ketangkep cctv, takut dipenjara, takut harus bayar ganti perbaikan body campervan, belum tenang rasanya.  Sebelum makan saya buka klausul tentang insurance campervan yg kita ambil. Ternyata Alhamdulillah banget, kejadian macam itu di cover oleh insurance tersebut! Mulai dari over head (body atas) sampai under body ditanggung kalo rusak. Itulah kawan2 gunanya ambil insurance, karena ada satu kasus yg saya baca di blog kejadiannya sama nabrak dan ringsek, karena dia gak ambil asuransi dia diharuskan membayar 5000NZD untuk perbaikannya yg di debit dari credit card dia, padahal kata korbannya perbaikan tsb bisa dilakukan di bengkel pinggir jalan gak lebih dari 500 NZD. Akhirnya setelah membaca klausul tadi saya bisa sedikit tenang makan malam. Di Bamboo Garden kami habis 106 NZD untuk 4 orang. Selesai makan malam kami lanjutkan menuju camping ground tempat kami menginap malam ini, di daerah picton tepatnya di Mahau sounds.

Perjalanan menuju tempat ini pun sedikit menyeramkan karena selain gelap gulita gak ada lampu jalan ditambah jalanan nya yg berkelak kelok hehe.. santai aja aman kok NZ, gak ada binatang buas. Setelah sampai di camping ground kami pun segera keluar campervan untuk melihat keadaan alam sekitar, lhaa gak kelihatan apa2 ini? Totally dark! Namun ketika kami menghadap keatas.. WOWW kami diberi hadiah oleh Tuhan yg luar biasa berupa bintang2 yg begitu indah, dekat sekali dan buanyak banget, sungguh luar biasa, kami pun terharu akan keindahannya (ini nulisnya sambil berkaca kaca loh karena ngebayangin). Di camping ground tersebut ada satu campervan juga yg sudah parkir jadi gak terlalu serem hehe. Oia nama camping ground nya Ohingaroa Bay, tempat nya gratis dan hanya diperuntukan oleh kendaraan fully contained atau kendaraan yg punya toilet, tempat tidur dll di dalamnya, mobil tanpa fasilitas tsb dilarang karena di tempat tersebut tidak disediakan fasilitas apapun melainkan hanya keindahan alam. Berhubung sudah larut malam dan diluar semakin dingin 12C, kami memutuskan untuk segera tidur setelah capek terpesona di hari yg panjang ini.

Hari Ketiga (Nelson - Wharariki Beach)

Alarm berbunyi pukul 6 pagi, mengintip keluar jendela masih gelap juga. Saya bangun dari tempat tidur yg letaknya berada di atas cabin dan mencari sekantung kopi yg telah kami beli di New World. Sambil minum kopi sambil karaokean di dalam campervan, nyanyiin lagunya Lorde - Royals itu yg sudah sy download via youtube haha..biar yg lain pada kebangun denger suara jelek sy :p. Satu persatu teman saya pun ikut bangun dan mulai prepare buat sarapan untuk kita ber 4. Sekitar pukul 7 pagi saya melihat keluar dan sudah mulai terang, sy bergegas keluar untuk mengetahui seperti apa sih pemandangan diluar. WOW lagi dan lagi.. ternyata gelapnya malam tadi memberi kejutan di pagi harinya, sebuah landscape yg dihiasi danau dan gunung2 disekitarnya. Inilah yg disebut sebagai Sounds, sebuah area yg dulunya (Ice Age) pegunungan namun dikarenakan permukaan air di bumi naik akhirnya yang timbul hanya puncak2nya saja yg dikelilingi sungai atau danau. Saya menikmati pemandangan yang indah ini sambil menyeruput kopi yg rasanya unik banget. Merk kopinya Robert Harriscocok buat dijadiin oleh2 dari NZ. Tak berapa lama teman saya memanggil dari dalam campervan kasih tau kalau sarapan sudah siap, saya pun segera menyantap mie instan yg sudah dibuatkan teman saya ditambah abon cabe yg dia bawa. Sedap rasanya bisa makan makanan khas indo dengan pemandangan khas NZ haha.. Selesai sarapan kami pun beres2 dan mandi. Pengalaman mandi pertama kali di mobil cukup membuat kerepotan, selain kecil tempatnya kita harus antri satu persatu, namun jangan salah lho showernya kenceng banget, kalah deh shower dirumah juga.

Setelah semua sudah rapih dan wangi, kita segera meninggalkan tempat ini menuju pemberhentian berikutnya yaitu Nelson (107km jauhnya), sebuah kota yg terkenal sebagai kota seniman. Dalam perjalanan menuju Nelson ini pun kami mengangkut seorang hitchhiker asal Jerman, kasian gak ada yg mau ngangkut dan kebetulan tujuannya sama. Sesampainya di Nelson kita parkir di pinggir jalan yg diperbolehkan dekat i-Site sebuah pusat informasi wisata bagi turis dan berpisah dengan hitchhiker tadi yg bernama Max, karena dia juga udah janjian sama temennya seorang Arsitek asal NZ. Tidak banyak yg kami perbuat di Nelson ini, hanya beli sedikit pernak pernik dan ditambah cuacanya yang sedang hujan.

Selesai dari Nelson kita melanjutkan perjalanan menuju destinasi akhir kami hari ini yaitu Wharariki Beach via Motueka lalu Takaka (220km). Selama perjalanan menuju Motueka kebanyakan pemandangannya berupa pesisir pantai, namun sayang saat itu mendung gelap sekali dan hujan jadi gak terlihat begitu bagus lautnya. Setibanya di Motueka (terkenal sebagai Fruit Garden of NZ) kami menoleh kanan kiri, mencari tau dimana terdapat perkebunan buah yg mejual hasil panennya, akhirnya ketemu juga di pinggir jalan. Astaga..murah2 banget harga buah2an disini, satu kantong NZD 3 kurang lebih 3kg dan rasanya pun aduhai enak sekali, beda dengan buah2an import yg biasa kita temui di Jakarta. Buah2an disini adalah hasil kawin silang antara Pear dengan Apple, yang disebut Papple. Papple nya sendiri pun bermacam2 jenisnya dan disini kita diperbolehkan untuk mencicipi rasa dari buah-buahan tersebut, sampe sampe kami kekenyangan makanin testernya, jadi gak perlu deh makan siang Haha.. Saya rasa hanya bisa ditemukan disini jenis buah yg saya maksud tadi, bahkan di kota2 besar di NZ di supermarketnya pun kami tidak menemukannya. Menyesal juga beli buah di New World sebelumnya, udah harganya mahal varietasnya pun sama aja kayak yg dijual di toko buah impor di Jakarta. Selesai borong buah (kami beli 5 kantong, haha..) kami lanjutkan perjalanan menuju Takaka.

Dalam perjalanan menuju Takaka kami melewati sebuah rute (Takaka Hill) yg menurut saya mengerikan dan bikin pusing, selain ber kelak kelok tajam juga naik turun, ditambah campervan kami yg berukuran besar dan hanya 2 jalur yang pinggirannya jurang, harus pinter2 bermanuvernya deh! Setelah melewati rute yg serem tadi sampai juga kami di kota Takaka (Golden Bay). Disini kami berhenti sejenak untuk mengunjungi i-Site visitor centre untuk mengetahui lebih banyak objek2 wisata apa saja yg harus kami kunjungi di tempat ini. Pukul menunjukan waktu itu jam 15.45, menurut petugas i-Site tadi tidak banyak yg bisa kita lakukan berhubung hari sudah terlalu sore. Di i-Site ini pun petugasnya membantu kami untuk booking holiday park tempat kami meginap di Wharariki Beach, satu2nya holiday park yg ada di Wharariki beach berhubung daerahnya remote sekali. Setelah proses bayar bookingan selesai (NZD 20/org), kami lanjut tancap gas menuju salah satu objek wisata yg wajib dikunjungi yaitu Te Waikaropupu springs. Tempat ini merupakan sebuah mata air jernih yang terdapat taman indah di bawah air yang berwarna warni tanpa kita harus menyelam untuk bisa melihatnya. Sesampainya di lokasi tersebut hujan yg tadinya hanya rintik2 semakin deras dan gelap, kami pun sedikit kecewa karena tidak begitu puas menikmati taman di bawah air ini.

Akhirnya kami memutuskan untuk lanjut perjalanan menuju holiday park tempat kami menginap karena hari sudah mulai gelap. Sepanjang perjalanan mungkin jumlah mobil yg kita temui bisa dihitung jari saja, sepi! Malam yang gelap gulita, kabut tebal dan badai menyertai perjalanan kami menuju tujuan akhir malam itu. Tiba2 saja jalanan yg kami lewati sudah tidak lagi beraspal/unsealed road, kami pun terus berusaha mengandalkan GPS yg terpasang di campervan tapi tetap saja tidak ketemu holiday parknya, sempat juga kami nyasar ke sebuah peternakan kuda, waduh GPSnya mulai error dan kehilangan sinyal nih. Kami pun pasrah dan sampai suatu ketika kami balik arah dan menemukan sebuah rumah tanpa ada tetangganya. Kami beranikan untuk turun bertanya kepada pemilik rumah tersebut. Wadaww.. ternyata sang pemilik rumah udah nangkring aja di samping pintu campervan kami hirrr. Dengan nada pasrah kami bertanya holiday park tujuan kami dan dia pun memberikan penjelasan yg detail mengenai arahnya, mana suaranya serak2 neyeremin gitu lagi, err. Eh meski begitu mereka itu ramah dan helpful! Jempolan.. Akhirnya kami pun berhasil menerjang badai dan jalan tak beraspal itu ke tempat kami menginap, surga bener rasanya.

Sampai di Wharariki Holiday Parkkami pun bergegas untuk mandi dan makan malam. Yang mengagetkan adalah toilet di tempat itu, diluarnya bagus sekali dgn dekorasi kayu2 mirip spa, nah pas kita buka penutup closet buat poopnya, naujubilee..itu lobang gede banget dan keliatan semua tokai2nya tanpa ada flushnya, bah..curiga ada buaya nih di dalamnya. Saya pun memutuskan untuk poop di campervan aja kalo gini caranya haha.. Selesai urusan bersih2 badan waktunya untuk masak! Ini adalah kali pertama kami masak besar di dalam campervan. Teman saya mencoba masak beef teriyaki yang walhasil enak banget! Mungkin juga kualitas daging yg kami beli itu numero uno kali ya.. Selesai makan kami pun menghabiskan waktu malam dengan bermain kartu di dalam campervan berhubung kondisi diluar sedang badai, anginnya super duper kencang!

Hari Keempat (Warariki - Westport)

Bangun pagi badai pun sudah reda, kami pun siap2 untuk sarapan pagi. Kali ini kami masak nasi goreng di kitchen yg sudah disediakan oleh holiday park ini. Wow, menakjubkan sekali pemandangan disini, NZ selalu memberikan kejutan di saat kami bangun pagi dengan pemandangan yg tak terduga. Buka pintu campervan kami disambut oleh sekelompok burung merak yang bebas berkeliaran, tampak di bukit dari kejauhan sekelompok kuda sedang makan rumput, sungguh luar biasa liarnya alam disekitar sini. Oia, sekali kita kasih makan si burung merak ini, dia akan terus menerus mengikuti kita lho, gak galak sih cuma risih aja hehe.. Selain fasilitas kitchen, cabin, kamar mandi (hot shower bayar NZD 2/5menit), disini juga terdapat power site yg kita gunakan untuk charge battery campervan kita. Oia, harga NZD 20/org itu hanya untuk parkir di power sitenya aja ya, kalo mau tidur di penginapannya (cabin) harus bayar extra NZD 25/malam /orang.

Selesai sarapan kami memberesken isi campervan kami yg sudah sangat berantakan sekaligus buang Grey water yg sudah penuh dan mengisi clean water untuk keperluan mencuci dan mandi yang juga dapat diminum. Grey Water adalah istilah di campervan yg terdiri dari air pembuangan dr wastafel dan pembuangan kamar mandi, tidak termasuk pembuangan toilet lho. Untuk pembuangan Toilet ada tempat khusus, namanya toilette cassette, bentuknya semacam box ukuran 40 litter yg isinya bisa air kencing ataupun tinja hihi.. Tidak perlu khawatir, di dalam toilette casette ini sebelum dipakai kita simpan dulu semacam bubuk chemical yg fungsinya untuk decompising “benda2” yg masuk, jadi pada saat dibuang semua itu sudah berbentuk cairan encer berwarna biru dan tidak berbau (bau chemicals aja). Setelah semuanya sudah rapih dan bersih kami check out dari tempat ini dan menuju Wharariki Beach.

Wharariki beach ini terletak hanya 1-2 kilometer dari tempat kami menginap, yg kalau di peta terlihat di peninsula south island yang paling utara. Namun aksesnya hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki (trekking). Butuh waktu 30 menit bagi kami dari tempat parkir menuju pantai ini, selama trekking kita akan melewati semak2 dan perbukitan yang dipenuhi domba2, mirip di film2 banget deh. Perjalanan kami tempuh tanpa rasa lelah dikarenakan udara dingin dan segar, untungnyaya kalo pergi winter ya begini. Perasaan yang luar biasa tidak bisa diungkapkan dengan kata2 saat kami tiba di Wharariki Beach, hamparan pasir yang begitu luas ditemani dengan beberapa bebatuan yang megah berdiri kokoh diterjang ombak. Kami pun segera berlarian diatas hamparan pasir menuju pantainya. Sayang sekali hari itu mendung , kalau hari terang akan banyak sekali koloni seal pups/anjing laut yg  berjemur disini. Tak berapa lama rintik2 hujan pun datang ditambah angin kencang, kami pun segera memutuskan untuk balik ke campervan mengingat jalur trekking tadi lumayan panjang.  Jam kami pun sudah menunjukan jam 3an sore, wah gak kerasa kita masih harus menempuh perjalanan ratusan kilometer lagi nih.

Tujuan kami berikutnya adalah kota Westport yg berjarak 300km dari Wharariki, woof! Rute yang kami lewati untuk menuju ke Westport tidak ada pilihan lagi selain melewati Takaka hill yg saya bilang serem itu tadi, karena tidak ada jalur alternative lainnya, cape dehh. Tapi kami tidak perlu melewai Motueka lagi, karena sebelum Motueka GPS kami menunjukan jalan alternative yang menurutnya paling efisien, yeah rite efisien but quite boring! Oia di Takaka kami sempatkan untuk membuang sampah karena sudah numpuk di dalam campervan kami, sekaligus buang isi toilette cassette untuk pertama kalinya. Kami membuangnya di tempat yang telah di tentukan dan biasanya ada tandanya dimana kita bisa buang dump tesebut di public dump station. Pertama-tama rada menjijikan juga buang toilette cassette karena isinya kan sisa2 olahan tubuh kita haha.. tapi pada saat saya coba untuk memberanikan membuangnya ternyata dump tersebut tidak bau dan encer sekali dengan cairan berwarna biru, hmm legaa.. Campervan yg kami kendarai pun jadi ikutan enteng haha.. Setelah melewati Takaka kami menempuh sebuah rute sepanjang 80km yg sisi2nya hanya hutan belantara, kebayang deh bosennya kayak apa mana gelap lagi. Setelah melewati hutan belantara tadi kami pun bertemu dengan pedesaan kecil dan disitu akhirnya ada juga sebuah restoran local. Tanpa pikir panjang kami langsung parkir disitu untuk santap makan malam. Saya memesan lasagna seharga 9.5 NZD dan Pavlova 2.5 NZD (desert khas NZ) yg rasanya manis betul.

Selesai makan malam kami melanjutkan perjalanan lagi menuju Westport. Kami tiba di kota Westport pukul 9 malam dan menuju Holiday park atas saran dari tante GPS. Kenapa kami keterusan nginep di holiday park yg mana berbayar daripada di camping ground yg gratis? Soalnya berhubung kami pergi winter, heater adalah sarana ampuh biar kami bisa tidur nyenyak dan heater yg berukuran besar tersebut cuma bisa nyala kalau dicolokin ke power site atau mesinnya dinyalain yg mana akan boros solarnya. Selain itu kami juga mau hemat2 air mandi khususnya agar tidak terus menerus buang-isi yang akan mengahabiskan waktu. Akhirnya kami menginap di Kiwi Holiday park dengan harga 16NZD/orang, cukup murah dibandingkan tempat lainnya. Bahkan di camping ground milikDOC yg tidak ada fasilitasnya pun beberapa tempat mengharuskan kita bayar NZD 10/org juga lho untuk biaya perawatan lahan. Oia, sepupu saya senang sekali nginap disini masalahnya ada laundry nya haha.. Seperti biasa malam ini langit2nya dihiasi oleh bintang2 yg pekat setelah seharian ditemani awan gelap, sampai2 kita bisa melihat debu asteroid sangking jelasnya. Lagi2 salah satu teman saya terharu dibuatnya :’)

Hari Kelima (Westport - Punakaiki - Fox Glacier)

Pagi yg menusuk dinginya sekitar 5C membuat kami bangun menggigil, yaiyalah bangunnya semangat bener teng jam 6 pagi. Para perempuan pun siap2 untuk bikin sarapan, kali ini masaknya Chiken Kiev yg sudah kami beli di New World. Pas saya lihat ke dapur, Ya ampuun penuh dengan asap karena chicken kievnya kegosongan haha.. tapi yg namanya dalam keadaan terdesak tetap saja kami bisa menikmati makanan itu.

Matahari akhirnya terbit begitu cerah membuat suasana hati kami pun ikut ceria. Setelah ritual pagi kami lakukan, kami langsung menuju ke Punakaiki yg berjarak cukup dekat dengan Westport, sekitar 50km. Sepanjang perjalanan ini kami melewati pesisir pantai (West Coast) yg begitu indah. Rute ini pun dijuluki sebagai one of the most scenic drives in the world versi Wikipedia. Tak ingin kehilangan moment di tempat ini kami pun behenti sejenak di salah satu spot sepanjang jalan ini dan turun ke pantai, anehnya pantai disini airnya cukup hangat dibadingkan udara yg saat itu lumayan dingin. Perjalanan kami teruskan sampai di Punakaiki Pancakes Rocks and Blowholes. Tempat ini merupakan highlight dari itinerary kami untuk hari ini. Disini kita bisa melihat tumpukan tumpukan batu yg mirip dengan tumpukan pancakes yang diakibatkan oleh erosi, jenis batuan dan iklim mikro yang sudah berproses puluhan ribu tahun lamanya. Disini juga kita bisa melihat fenomena alam yg menakjubkan, sebuah lubang yang akan menyemburkan air laut jikalau ombaknya sedang pasang. Setelah menikmati keseruan di tempat ini kami melanjutkan perjalanan menuju Fox Glacier.

Jarak yg di tempuh dari Punakaiki menuju Fox Glacier sekitar 260km via Hokitika. Selama perjalanan ini pun tak habis2 nya mata kami dimanjakan oleh pemandangan alam yg luar biasa indahnya, disisi sebelah kiri ada sungai yg jernih dan tampak di kejauhan ada pegunungan yg dilapisi salju, lalu disebelah kanan kami pantai yg begitu liar ombaknya, sungguh mengaggumkan. Ditengah perjalanan kami pun berhenti sejenak di kota Hokitika untuk mengisi bahan bakar dan juga menyempatkan diri berkunjung ke jade factory atau pengrajin giok yg terkenal dari daerah ini. Saya perhatikan warga local yg berlalu lalang di kota ini, kebanyakan perempuan2 muda dengan mendorong kereta bayinya. Snap judgement: kota single parent kayaknya nih haha.. Oia seperti sy cerita sebelum2nya, mereka ini murah senyum sekali dan sering menyapa turis, sampai2 ketika saya foto2 ada seseorang perempuan lagi jogging sampai berhenti sejenak untuk menawarkan diri mengambil foto kami tanpa diminta, ramah banget ya.. Seusai dari tempat ini kami melanjutkan perjalanan menuju Fox Glacier. Ditengah2 perjalanan kami sempat berhenti di sebuah sungai yg indah sekali. Akhirnya sekitar jam 7 malam kami tiba di Fox Glacier dan menginap di Top 10 Holiday Park.

Cukup mewah menurut kami holiday park ini (NZD 20/orang) karena di lengkapi dengan TV lounge, business centre, kitchen yg begitu besar dan lahan parkirnya yg sangat luas. Tadinya kami ingin menginap di camping ground yang gratis, tapi melihat letaknya yg bekas sungai mengering jadi takut aja tiba2 air bah datang dan menyeret campervan kami hehe.. Malam ini saatnya masak yg well prepared, teman saya membuat steak untuk kami ber 4. Rasanya Wow..gak kalah dengan steak2 di hotel deh padahal cuma dikasih garam dan merica saja. Tapi ada hal yg bikin heboh sedapur, garlic bread kami di dalam microwave kebakar sampai hangus haha.. Setelah makan malam selesai saya habiskan malam yg dingin ini dengan nogkrong di taman sambil menyeruput wine ditemani oleh bintang2 surgawi. Fyi, cukup murah harga wine di NZ, hanya NZD 10/botol udah dapet yg enak, mau white, rose atau Riesling semua murah dan berkualitas tentunya.

Hari keenam (Fox Glacier - Wanaka)

Pagi pagi saat persiapan sarapan kami sudah dibikin panik sama pancake yg gak mau lepas dari penggorengan, kami ketakutan nanti harus ganti rugi ke pihak rental campervan karena penggorengannya rusak.. ya pasrah ajalah kalo udah begini, diapa apain gak mau bersih juga. Hari ini kami mulai perjalanan menuju Lake Matheson yang letaknya tidak jauh dari tempat kami menginap. Tadinya teman dan sepupu saya kepengen naik helicopter di Fox Glacier ini, namun kita gak bisa kejar waktunya karena itu helicopter berangkatnya pagi banget. Kami tiba di Lake Matheson kira2 jam 10an pagi dan masih dibalut oleh kabut. Jalan menuju lake ini kita harus melalui semak semak yg tertata dengan rapih dan bersih. Alangkah menakjubkannya area ini, sebuah tempat yg begitu damai dan tenang cocok untuk dijadikan sebagai tempat kita berkontemplasi, as if.. Kita pun akan tercengang dengan apa yang ditawarkan oleh danau ini, sebuah danau yg dapat mencerminkan pemandangan dibelakangnya, just like a mirror! Sulit sekali mengungkapkan perasaan di dalam hati ketika melihat tempat ini, so Surreal! Kirain hanya ada di postcard tempat ini berada. Setelah puas kami menikmati keindahan danau ini kami sempatkan untuk makan siang di café yg ada di area lake Matheson ini (Reflection Café). This absolutely a must, udah makanannya enak latar belakang pemandangannya juga menakjubkan, Mount Cook. Harga seporsi utk Seafood noodle 11.5NZD. jangan kehilangan kesempatan untuk makan diluar ruangan ya, biar dapet feelnya, halah..

Selesai dari Lake Matheson ini kami lanjutkan ke Fox Glacier site yg jaraknya juga tidak begitu jauh dari Lake Matheson. Di tempat ini kita akan melihat salah satu icon NZ yaitu glacier atau es abadi yg sudah terbentuk ribuan tahun lamanya. Luasnya Néve atau area es di fox glacier ini lebih luas daripada seluruh area kota Christchurch. Di akhir tahun 1800an ujung dari glacier ini diketahui sampai ke depan pintu masuk area ini, jarak dari pintu masuk ke glacier ini kurang lebih 2km. Tapi menurut riset baru2 ini luas glacier ini semakin bertambah sejak tahun 2000an dan semakin menjorok ke pantai. Fox glacier ini juga termasuk salah satu glacier yg posisinya paling dekat ke pantai, bayangin aja antara panas dan dingin dapat menyatu, Subhanallah. Untuk mecapai ke badan glacier ini disediakan tour leadernya dan harus bayar, karena banyak factor alam yg tidak terduga dapat terjadi seperti banjir tiba2 ataupun longsor batu. Karena kalau tanpa tour leader hanya boleh sampai 500 meter sebelum mulut si glacier ini. Waktu itu saya dan sepupu saya mencoba untuk menerobos batas yg telah ditentukan oleh pihak pengelola supaya bisa lebih dekat lagi melihat glacier ini, abisnya tanda2 batasnya juga gak jelas sih :p pembelaan hehe.. Akhirnya saya dan sepupu saya pun berhasil mendaki sampai ke badan glacier ini dan dekat sekali posisinya tanpa menggunakan tour leader meskipun ngos ngosan, yeeahh!! Sebuah prestasi yg luar biasa :p Buat kalian yg gak yakin jangan ditiru ya, ini kita lagi beruntung aja, kalo lagi apes bisa nyawa taruhannya!

Sudah puas kami seru2an di Fox glacier saatnya menempuh perjalanan panjang lagi. Kali ini tujuan kami adalah ke Wanaka via Haast Pass, untuk bermalam disana yg berjarak 260km jauhnya. Ditengah tengah perjalanan pun kami sempat berhenti sebuah sungai (lupa namanya) yang indah sekali pemandangannya. Kami tiba sekitar jam 8 malam di Wanaka. Melihat stock logistic yang sudah menipis, kami putuskan untuk mampir lagi di New World. Kali ini kami menghabiskan sekitar 129 NZD sebagai bekal makanan kami sisa beberapa hari kedepan. Jadi total belanja grosir selama di NZ ini 429NZD untuk 4 org 10 hari. Selesai belanja kami pun mencari holiday park yg sudah kami rencanakan menginap disana yaitu Aspiring Holiday Park, soalnya rating di Rankers jawara.  Akhirnya pun kami sampai di holiday park ini dan disambut dengan ramah oleh receptionist nya, menariknya kami berhasil mendapatkan diskon yg normalnya NZD20 menjadi 18NZD/org nya dengan alasan kami datangnya sudah malam dan ditambah sedang low season juga hehe.. Di holiday park ini juga disediakan free wifi, fyi di New Zealand ini sulit sekali mendapatkan free wifi, kalau pun ada itu yang berbayar dan mahal banget. Di sela sela prosesi masak saya pun sibuk untuk menelfon operator skydiving yg rencanya untuk book keesokan harinya. Saya booking di kedua tempat, di Wanaka dan Queenstown yg mana kedua2nya tidak bisa memberi kepastian apakah bisa skydiving atau tidak tergantung oleh cuaca besok.

Hari Ketujuh (Wanaka - Queenstown)

Pagi hari kami bangun dan langit tampak mendung, wah alamat gagal nih sy skydiving hari ini. Saya berniat harus hari ini bisa skydiving soalnya pas berbarengan dengan hari ulang tahun saya haha.. Setelah beberes dan sarapan sekitar jam 9.30 kami segera cabut dari holiday park ini menuju Lake Wanaka. Damai dan romantis sekali keadaan di danau ini, cocok dijadikan tempat untuk piknik, banyak juga orang yg berjalan2 bersama anjingnya disini. Sayang hari ini begitu gloomy, membuat suasana hati ikutan meredup. Dari tempat ini kami menuju Puzzling World Wanaka. Sebuah tempat rekreasi yang di dalamnya terdapat trick eye museum, labyrinth/maze park dan juga berbagai mainan puzzle. Harga tiket masuk terusannya 17.5NZD/org. Seru juga sih ini tempat apalagi labyrinth walknya, menurut datanya panjang rute labyrinth tersebut adalah 1.5km dan kebanyakan orang baru bisa keluar dari tempat itu sekitar 2-3 jam baru berhasil, waduh bacanya aja udah bikin males, akhirnya saya ketemu emergency exit dan memilih untuk keluar dari situ haha.. Bukannya pasrah lho ya tapi ngejar waktu harus ke Queenstown, alesan! Puas main2nya saya segera mencari tau ttg status skydiving hari ini. Di Kota Wanaka sudah dipastikan tidak bisa karena cuaca yg tidak mendukung, akhirnya saya telfon operator yg di Queenstown dan dia bilang kalo disini sudah bisa, Wohoo! Tanpa pikir panjang saya memaksa teman2 saya untuk buru2 ke Queenstown. Kami harus tiba di Queenstown pukul 1 siang, karena jadwal saya skydiving jam 3, sedangkan sekarang sudah pukul 11an. Akhirnya dari Wanaka kami lanjutkan perjalanan menuju Queenstown yg berjarak 100km. Selama perjalanan pun kita bakalan disuguhi oleh pemandangan2 yg begitu mencengangkan. Sampai suatu ketika kami sampai di sebuah rute perbukitan yaitu Cardrona Valley, sebuah jalan utama yg tertinggi di New Zealand. Pemandangan disini luar biasa.. kita bisa meihat kota Queenstown di kejauhan dan Lake Wakatipu nya, kami sempatkan berhenti sejenak ntuk foto2 disini.

Akhirnya jam 1an siang sampai juga di Queenstown yang indah ini sampai2 saya grogi untuk menyetir disini karena kendaraannya ramai sekali ditambah jalanan nya yang sempit. Bahagia banget teman dan sepupu saya melihat kota seperti ini, mungkin udah kelamaan ngeliat yg sepi2 kali ya hehe.. Setelah ketemu alamat skydiving tadi akhirnya kami bisa menemukan juga tempat parkir umum yg bertarif NZD 2 sampai jam 6 sore. Tanpa pikir panjang saya langsung lari ke pool NZONE Skydivingyg letaknya di pusat kota dan meninggalkan teman2 dan sepupu saya. Sesampainya di pool ini saya harus daftar dulu, oia yg lagi hamil, jantungan dan asma tidak disarankan ikut skydiving ya dan maximum berat badan 100kg tapi gak ada batasan umur. Harga yg harus sy bayar utk skydiving ini adalah NZD 329 (12000ft/4km) + NZD 200 (photograph) yg ini optional, soalnya gak boleh bawa kamera atau gadget apapun selama terbang. Harga skydiving ini bervariasi tergantung ketinggian terjunnya, mulai dari Exosfear 9000ft (NZD 269), Stratosfear 12000ft sampai Troposfear 15000ft (NZD 429). Setelah menunggu beberapa saat akhirnya mobil jemputan yang akan membawa saya ke tempat landasan skydiving sudah datang, tapi sayang teman2 dan sepupu saya gak keangkut soalnya mereka belum juga nongol, huh.. Sesampainya di landasan kita akan diperkenalkan mengenai safety precautionnya dll. Akhirnya dengan perasaan tegang yg membabi buta sampailah giliran saya untuk terbang, hanya bisa pasrah, mati ya matilah, die happily tapi hehe..Sulit diungkapkan seperti apa rasanya skydiving ini, terjun bebas dengan kecepatan 200km/jam tanpa arah, dada terasa sesak, hidung pun sakit karena kencangnya udara dingin masuk, darah ngumpul di bawah membuat selangkangan keram, namun ini sungguh euphoria luar biasa!  Sebuah pengalaman yg betul2 sekali seumur hidup, atau dua kali juga pengen hehe.. Kelebihan dari skydive di NZ ini adalah pemandangan yang spektakuler dari pegunungan alpine hingga danau2 dibawahnya menambah serunya skydive di Queenstown ini.

Lepas dari aktifitas ini saya kembali ke kota Queenstown menuju parkiran mobil karena udah janjian jam 5 sore. Namun hanya ada satu teman saya saja yg ketemu dengan membawa kantong belanjaan dan sekantong burger. Ternyata selama skydiving teman sy ini puas belanja dan beli burger ternama yg wajib dimakan kalo ke Queenstown, namanya Fergburger, harganya NZD 15/porsi, besar banget cukup untuk 2 orang, yg tiap waktu selalu antri pembeli. Oia, yg 2 orang lagi kemana? Ternyata 1 teman dan 1 sepupu saya lagi ikutan Helicopter tour. Harga untuk tour ini NZD 135/org utk 45 menit. Disitu kita akan dibawa mengelilingi kota Queenstown dari atas dengan pemandangan seperti pegunungan alpine, danau2 indah dan scenic view lainnya ditambah kita akan mendarat di puncak gunung es yg mana tidak bisa dilewati oleh mobil, menakjubkan bukan. Sy gak bisa cerita banyak ttg helicopter ini soalnya gak ikutan naik, tapi kalo dari cerita yg udah naik seru juga lho naik helicopter dipepetin ke tebing kayak mau nabrak katanya. Sudah jam 5 lewat 2 org itu belum juga datang padahal kami rencana akan malam di Skyline Restaurant untuk dinner party saya haha.. Skyline restaurant ini merupakan restoran tertinggi di kota Queenstown, di restoran ini kita bisa melihat birds eye view pemandangan Queenstown dan sekitarnya. Akhirnya mereka baru nongol jam 6 udah gelap, huh kesal rasanya, terpaksa saya batalkan dinner tsb karena buat apa kalo cuma makan tapi gak dapet viewnya dan sebagai penggantinya kami jadwal ulang untuk makan siang saja keesokan harinya :(.

Untuk mengobati kekecewaan malam ini akhirnya kami berjalan jalan di pusat keramaian di kota Queenstown dan makan malam di restoran Thai yg super enak atas saran warga local. Selesai makan malam kami pun mampir disebuah bar yg unik, namanya Below Zero Ice Bar, Sebuah bar yg terbuat seluruhnya dari es, sampai gelas dan kursinya pun dari es. Awalnya teman saya gak mau masuk karena pilek alasannya tapi setelah dipaksa mau juga, harga entrancenya NZD 20/org sudah termasuk first drink dan dipinjemin winter coat karena waktu itu suhu didalam bar ini -5C. Ternyata di dalam bar ini kami menemukan keseruan sendiri, tamu2nya sangat ramah begitu pun bartendernya sampai2 saya diberi free shot karena sedang berulang tahun. Kami pun bisa request lagu disini dan yg mengejutkan saya, teman2 dan pengunjung lain menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk saya, huhuhu terharu jadinya. Selesai dari bar ini kami menuju ke campervan dan segera mencari holiday park. Kebetulan lagi nih, ada yg ngasih brosur holiday park murah, hanya 55NZD untuk 4 orang, Holiday park termurah selama kami di NZ. Pas nyampe holiday park ini, QBox holiday park namanya, kelihatan penuh dan sempet kesulitan dapet space parkiran. Fasilitas disini tidak sebagus holiday park kami sebelumnya, ya ada harga ada barang sih ya, at least keperluan basic seperti kamar mandi, power site dll terpenuhi namun sayangnya sedikit kotor. Karena sudah larut malam kami putuskan untuk langsung tidur saja.

Hari Kedelapan (Queenstown)

Hari ini kami gak sarapan karena siangnya mau makan buffet di Skyline restaurant. Sebelum ke restoran tsb kami mampir ke i-Site visitor centre di Queenstown untuk cari informasi mengenai tour jetboat, di tempat ini juga kami booking untuk Skyline restaurant. Harga untuk makan di Skyline yaitu NZD 52/org sudah termasuk Gondola pp, karena satu2nya cara untuk mencapai tempat ini ya dengan menaiki Gondola (kereta gantung). Untuk Jetboat nya kami memilih menggunakan Shotover jetboat ride yg harganya NZD 129/org. Setelah urusan booking sudah selesai kami menuju ke stasiun gondola tadi dengan berjalan kaki karena dekat letaknya. Setibanya di Skyline restoran ternyata masih belum buka, sekitar setengah jam lagi bukanya. Sembari menunggu buka kami berjalan2 diatas restoran ini sambil menikmati indahnya pemandangan diatas kota Queenstown. Setelah restoran ini dibuka kami segera cari seat yg strategis biar dapet view yg oke. Kualitas makanannya dapat saya nilai 3.5 dari 5 karena macamnya gak terlalu banyak dan gak ada steaknya haha.. kalo dinner baru ada steaknya, itulah kalo makan malam harganya NZD 70-an , lebih mahal. Tapi saya disini puas makanin kerang nya yg fresh dan tasty banget. Overall untuk makanan+view+harga saya kasih 4! hehe..Jadi saya juga menyarankan pergi ketempat ini kalo sedang liburan ke Queenstown.

Setelah makan siang kami lanjutkan ke tempat jetboat tadi yg sudah ditunggu shuttle bus dari Shotover jetboat ride. Dalam perjalanan sang supir shuttle bus itu akan berkomentar mengenai sejarah dan informasi2 atraksi untuk spot2 yang dilewati selama perjalanan menuju shotover river.  Setibanya di sungai itu kita akan diarahkan untuk menitip barang2 yg tidak perlu dibawa dalam boat tsb (HP, Camera dll) dan akan dipinjamkan raincoat, soalnya kita bakalan kebasahan nantinya. Lengkap sudah pakai raincoat kita segera menaiki jet boat yg sudah menunggu untuk beraksi, Woof..jetboat ini langsung tancap gas 80km/jam seperti melayang dan tiba2 diputar 360 derajat membuat kami terpelanting, macam naik roller coster. Rute yg dilewati jetboat ini berupa sungai yg deras dan dangkal diantara canyon2 yg begitu dramatis. Jet boat ride ini berdurasi 25 menit penuh dengan ketegangan dan keindahan. Selesai menaiki wahana ini kita akan dikasih kesempatan untuk photo shoot sebelum kita kembali ke Queenstown. Dalam perjalanan menuju shuttle bus ternyata di dalam office nya kita akan melihat video selama kita naik jetboat tersebut berikut foto2nya dan dokumen tersebut dijual seharga NZD 60 (DVD + hard copy), untungnya kami bertiga waktu itu jadi tak terlalu berat untuk bayarnya yg kena NZD 20/org hehe..  lumayan buat dokumentasi sebagai bukti kalo kita sudah pernah naik wahana ini.

Akhirnya shuttle bus tersebut datang juga setelah kedinginan nunggu di luar, oia tenang aja tiap 15 menit ada kok shuttlenya dan kami pun kembali ke kota Queenstown. Setibanya disini kami segera meluangkan waktu untuk menikmati jalanan sekitar Lake Wakatipu dan Queenstown Mall. Sungguh menyenangkan dan damai sekali suasana di lake Wakatpu ini lengkap dengan bebek2 cantiknya, cocok untuk melamun sambil minum2 kopi. Kita juga bisa melihat street art performance dan liat orang berlalu lalang dengan peralatan ski nya (Price Cappucino NZD 4 snack NZD 9.5). Matahari pun mulai terbenam padahal baru jam 5 sore, kami segera meluncur ke Queenstown mall yg bersebelahan posisinya dengan danau ini. Buru2 kami belanja souvenir dan kebutuhan pribadi lainnya soalnya toko2 disini tutup jam 6 dan beberapa toko jam 7. Queenstown merupakan surga pusat adventure bagi tourists jadi apa2 lebih mahal dibanding kota2 lainnya dan ukuran kota ini pun kecil sekali, cukup berjalan kaki untuk mengelilinginya. Setelah selesai urusan beli beli kami lembali ke parkiran campervan kami dan kami memutuskan untuk menginap di Shotover Holiday Park yg terletak dipusat kota.

Sekali lagi kami tidak pernah booking holiday park pada trip ini dan jangan coba2 utuk menirunya kalau kamu pergi di high season macam Spring/Summer, disarankan utk booking holiday park ini setidaknya seminggu sebelum menginap kalau ingin jaminan dapat tempat! Sesampainya di meja receptionist kami cukup kaget mendengar harga yg harus kami bayar yakni NZD 24/org, akhirnya dengan basa basi ini itu saya minta diskon kebetulan sang receptionist cukup ramah (turunan Brunei) dan memberi kami diskon sehingga kami cukup membayar NZD 22/org, lumayan haha.. Meskipun diskon, penginapan tersebut tetap jadi Holiday Park termahal kami. Pada saat kami mencari spot parkiran kami yg sudah ditentukan, secara tidak sengaja campervan kami menyenggol pembatas jalan membuat body bagian bawahnya ikut tergores, haah apalagi ini Kebetulan sepupu sy cewek yg sedang coba nyetir haha.. Dengan kepercayaan diri yg tinggi bahwa hal ini akan dicover oleh asuransi, peristiwa tsb sudah kebal buat kami qiqiqiq.. Akhirnya sudah dapat parkiran dan kami siap2 masak untuk dinner hari ini chicken Kiev, garlic bread dan kawan2. Lagi2 kami membuat kehebohan di dapur karena garlic breadnya gosong (Again?) di dalam microwave membuat suasana dapur full of smoke haha.. Untungnya tamu2 lain gak ada yang complain instead mereka tetap ramah dan helpful. Oia pesan saya kalo berpergian model seperti kami ini juga harus saling membantu dengan tamu lain supaya bisa berinteraksi dengan mereka dan berbagi pengalaman.

Hari Kesembilan (Queenstown - Arrowtown - Lake Pukaki)

Pagi ini kita siapkan amunisi untuk perjalanan panjang dengan membuat sarapan spaghetti, lancar jaya pokoknya hehe. Sebelum melanjutkan perjalanan kami mampir untuk mengisi ulang paket data Vodafone NZD 50 dan juga sempatkan untuk ambil atm. Oia sy juga sempat tanya di i-Site visitor center mengenai toko music yg menjual CD di kota ini, dia bilang gak ada, kita harus ke Remarkables shopping parks and shopping center, disana akan ditemui booth CD di New World. Kenapa sy ngebet banget beli CD? Soalnya sy jadi ngefans dengan artis local NZ namanya Lorde yg sy dengar ketika sampai di Christchurch itu, yg menjadi themed song perjalanan kami di NZ haha.. Akhirnya berubah planning hari ini yang tadinya langsung ke Arrowtown hingga mampir dulu ke Remarkables parks. Dengan dipandu tante GPS akhirnya kami sampai disana dan Whoaa tempatnya menakjubkan ternyata (dekat dengan Queenstown Airport). Sebuah shopping center yg dihiasi oleh pemandangan pegunungan batu (karst) dari the remarkables, untung juga bisa kesini dan tenyata disini juga menjadi tempat bagi warga lokal Queenstown berbelanja untuk kebutuhan sehari2 ataupun sekedar makan2, karena harganya tidak terlalu touristy. Kesampaian juga saya beli CD Lorde ini yg tinggal 2 di rack, laku keras ternyata kata mbak2nya. Setelah beli CD (NZD 9) dan rose wine (NZD 15) kami lanjutkan perjalanan dari sini menuju Arrowtown.

Jarak dari Remarkables park ke Arrowton cukup dekat sekitar 30km saja. Kami pun tiba di Arrowtown yg begitu asri nan indah ini, kota ini dulunya merupakan tempat bagi komunitas pencari emas dari Cina (Chinesse Settlement) pada akhir tahun 1700an dan sekarang kota ini dijadikan sebagai tujuan wisata terutama pada saat autumn festival, karena habitat pepohonan disini beraneka ragam warnanya jika sedang musim gugur. Namun kita masih dapat menemukan penginggalan2 sejarah berupa shelter2 dari chinesse gold digger tersebut dan masih sangat terawat. Sayangnya saat itu autumn festival sudah berakhir dan hanya meninggalkan sedikit saja pohon yg berwarna warni selebihnya sudah pada rontok karena sudah masuk Winter. Setelah selesai mengunjungi tempat ini kami lanjutkan perjalanan menuju lake Pukaki via Cromwell. Dalam perjalanan ini mata dan hati kami sungguh dimanjakan oleh keindahan alamnya mulai dari pegunungan batu yang curam dan terjal, pepohonan pinus yg mengering ditambah danau2 bersih dengan pegunungan es di kejauhan membuat perjalanan ini sangat mengagumkan. Jarak antara Arrowton-Cromwell sekitar 50km. Cromwell merupakan kota yg terkenal akan prodkusi buah dan winenya dan juga merupakan daerah di NZ dengan curah hujan terendah. Kami disini berhenti sejenak untuk beli snack.

Perjalanan kami lanjutkan dari Cromwell ke Lake Pukaki 150km. Kami pun melewai rute Lindis Pass, sebuah pegunungan savanna yg berbukit bukit dan berwarna cokelat karena rumput yg mengering ditambah adanya tumpukan2 sisa salju yg bermukim disana, sungguh tak terlupakan cantiknya! Saya pun berhenti sejenak di Lindiss Pass ini demi menyalurkan rasa penasaran teman saya yg belum pernah liat salju/es, meskipun disini hanya tinggal sejumput sisa2 es baginya sebuah pengalaman yg harus diabadikan haha.. Memang pada kenyataannya perjalanan kami kali ini belum sama sekali menemukan salju turun secara langsung sedangkan ini sudah masuk Winter, mungkin karena masih awal sekali winternya. Padahal salah satu motivasi kami ke NZ ini kan melihat turun salju. Fakta di NZ ini kita bisa merasakan perubahan cuaca ekstrim dalam satu hari, mulai dari angin kencang, hujan, panas hingga salju. Setelah melewati perjalanan yg panjang dan menyenangkan ini kami sampai lah di Lake Pukaki.

Sebuah perasaan yg luar biasa bisa melihat Lake Pukaki ini secara langsung meskipun sudah sore dan mulai gelap. Sebuah danau yg airnya berwarna biru turquoise sangat tidak biasa, yang diakibatkan oleh lelehan glacier dari pegunungan alpine yang ada disekitarnya. Kami memilih untuk bermalam di camping ground yg gratis untuk malam ini yang tepat berada di samping danau demi menikmati kesunyian dan kemegahan alamnya. Cukup ramai disini yang menginap sekitar 5 campervan, meskipun gratis pemandangannya mirip bintang 5 lho.. bintang 7 malah haha.. Matahari pun terbenam saatnya bulan dan bintang2 menampakan keberadannya. Tak kami sia sia kan malam tersebut untuk menikmati malam di pinggir danau, Subhanallah sebuah pemandangan yg membuat kami terharu biru, sang bintang tampak berebut tempat mengisi langit malam itu, sangat tampak banyak dan jelas sampai2 debu asteroid pun tampak jelas dengan mata telanjang (Stargazing). Sambil minum wine untuk menghangatkan badan dan mendengarkan musik, sya melamun di pinggir danau yg dinginnya tidak karuan, benar2 pengalaman yg begitu sulit dilupakan. Makan malam ini pun dipersembahkan oleh mie goreng telor yg simple karena kami terlalu sibuk untuk menikmati malam yg super indah ini.

Hari Kesepuluh (Lake Tekapo)

Meskipun pagi itu mendung namum pegunungan alpine disekitar danau ini begitu jelas terlihat dan Nampak mendominasi daerah ini, sungguh pemandangan yang menakjubkan. Usai puas menikmati pemandangan di Lake pukaki ini kami pun mencari makan untuk sarapan yaitu fresh Salmon! Ada satu tempat yg cukup terkenal disini yaitu Mckenzie Salmon farm sebuah peternakan salmon tertinggi di NZ, namun sayang sekali pada saat kami menuju tempat ini akses jalanan nya sedang ditutup karena sedang ada perbaikan besar, rusak akibat longsor. Akhirnya kami segera mencari alternative Salmon farm lainnya dan ketemulah di kota Twizel yg berjarak hanya 8km dari Lake Pukaki ini, yang sudah kami lewati sebelumnya dari arah Cromwell. Namanya High Country Salmon Farm, ternyata tempat ini mempunyai review yang bagus pula di Rankers. Disini kami pun memesan Sashimi box yg harganya NZD 24/400gr yg kami habiskan berdua seorang berarti kena NZD 12/200gr. Sebenernya ada pilihan yg lebih murah NZD 15/kg tapi itu kita harus beli ikan utuh yang belum dipotong potong dan belum dapat soy sauce nya, repot aje! Oia ikannya langsung diambil dari penangkarannya sesaat setelah kita pesan, boleh aja sih ambil yg sudah ada tapi saya ingin yg benar2 fresh. Masalah rasa? Jangan ditanya deh, super duper tasty! Manis, kenyal dan dingin mirip makan ikan dari dalem kulkas haha.. ya soalnya kan air penangkarannya juga dingin banget jadi bukan karena disimpan di lemari es lho ya, The best sashimi ever! And cheap as well.

Setelah kenyang makan Sashimi kami lanjut perjalanan menuju Lake Tekapo dan langsung menuju ke holiday parknya biar gak rugi bayarnya dari siang hehe.. Twizel-Tekapo 60km. Sampai di holiday park saya pun segera check-in dan harus bayar NZD 20/org. Lagi lagi saat itu saya minta diskon dan dikasih deh NZD 18/org qiqiqiq.. baik banget ya mereka. Sebenernya diskon NZD 2 tadi sih buat bayar kamar mandinya yg harus bayar NZD 2 untuk 10 menit air panas. Setelah proses registrasi selsai kami segera menuju ke Astro Café @ Mt. Jhon. Ini merupakan salah satu café dengan pemandangan terbaik di NZ karena letaknya tepat berada di puncak Mt. Jhon disini juga terdapat observatory deck yang kalau malam diadakan tour untuk stargazing. Lagi lagi pemandangan yg luar bisa dari atas café ini, kita seakan2 dikelilingi oleh pegunungan alpine yg dibawahnya dihiasi dengan danau2 indah. Sambil ngopi sambil ngelamun liatin kreasi Tuhan semesta alam yg begitu menakjubkan. Di NZ ini kita akan bingung deh mau makan dengan view apa karena banyak pilihannya. Selesai dari Astro café kami menuju ke Chucrh of the Good Shepherd yg merupaka icon NZ di sekitar tekapo ini. Gereja ini biasa digunakan tuntuk acara pemberkatan, karena pemandangan nya yang luar biasa menakjubkan. Setelah dari sini kami kembali ke Tekapo Holiday park.

Di kompleks holiday park ini juga terdapat hotel2 backpackers yg cukup terjangkau harganya. Selain itu disini juga menjadi pusat hiburan karena adanya pemandian air panas, ice ring dan tube park (if snow persisted). Karena udah kedinginan juga saya langsung memilih untuk nyobain Hot spring nya, NZD 24/org (mandi +sewa celana) tidak termasuk handuk lho ya, bawa sendiri atau kalau mau sewa bayar lagi NZD 4. Hmm..sungguh luar biasa mandi di tempat pemandian air hangat ini, selain suhu air yang hangat ditambah pemandangan alam sekitar yg menakjubkan. Ada 3 level suhu di pemandian ini dari rendah, sedang dan tinggi. Saya waktu itu langsung memilih suhu tinggi karena kedinginan banget. Nyoss.. panas banget sampe2 saya lemas dibuatnya. Bolak balik minum-nyelam, sekitar 1 jam 30 menit saya disini sampai matahari terbenam, puas banget pokoknya. Selasi mandi air panas kami kembali ke holiday park untuk makan malam dan beristirahat. Sedikit kerepotan masak disini, selain pengunjungnya ramai ukuran dapurnya pun kecil. Seperti biasa saya suka sekali makan di luar ruangan meskipun dingin menyengat, sengaja biar keinget terus dinginnya hehe. Sambil makan steak yg sudah dibuat teman saya, saya juga perhatikan keadaan disekitar yg begitu gelap. Ternyata menurut informasi yg ada bahwa lampu2 eksterior yg berada di sekitar Tekapo-Pukaki itu harus menghadap kebawah ke dasar tanah, tidak boleh kearah atas dengan tujuan menghilangkan polusi cahaya buatan dimalam hari yang akan mengurangi indahnya langit malam, Wahh keren ya peraturannya. Tak heran mengapa semalam langitnya begitu indah dan jelas. Selesai makan kami pun beristirahat  yg kali ini di temani oleh hujan deras, pantas saja tadi sore begitu dingin dan mendung.

Hari Kesebelas (Lake Tekapo - Chirstchurch)

Pagi pun masih gelap jam 6, dan masih terdengar suara rintik hujan dari dalam campervan kami, huh. Tapi kok kedengarannya macam suara retak retak. Saya curiga sesuatu pasti ada yang aneh terjadi diluar campervan kami. Pada saat saya keluar, ternyata oh ternyata.. Salju turun lebat sekali WHOAA..! euphoria yg begitu luar biasa menyambut datangnya heavy snow. Saya dan teman2 saya pun segera menikmati kejadian yg sudah kami harapkan di trip ini. Sebuah anugrah yg luar biasa yg diberikan Tuhan di detik2 terakhir perjalanan kami menggunakan campervan di NZ. Dari gelap sampai terang saya terus memandangi turunnya salju yg begitu indah ini, maklum tinggal di indo gak pernah liat salju hehehe.. Suhu dingin pada saat turunnya salju tidak begitu menyakitkan dibanding dengan sebelum turun salju. Selesai sarapan dan mandi tak terasa waktu sudah jam 10 pagi dan masih turun salju sedangkan kami harus mengembalikan campervan ke tempatnya di Christchurch. Tak tega rasanya meninggalkan moment yang berharga ini. Akhirnya kami segera putuskan untuk pergi meninggalkan Tekapo dan langsung menuju Christchurch (230km).

Waduh tak disangka di dalam perjalanan kami mengalami beberapa slip karena jalanan yang tertutup salju, ngesot sana sini, terpaksa pelan sekali jalannya 40km/jam maksimum, sebenernya bisa sih pasang snow chain tapi repotlah udah mau pulang ini. Selama perjalanan pikiran kami diselimuti perasaan menyesal, semacam tidak ingin meninggalkan Negara yang begitu indah ini, orang yang sangat ramah, alam yang menakjubkan. Huh.. Akhirnya salju berhenti dan digantikan oleh hujan yang tidak begitu lebat, kali ini campervan kami bisa ngebut lagi. Kami sampai di Christchurch ukul 1 siang setelah nyasar sana sini di kotanya, GPS kami sempat error! Haha.. Sesampainya di Christchurch kami langsung check ini di Airport Motel  (Airport Gateway Motorlodge) yang jaraknya dekat sekali dengan CHC airport sebelum kami mengembalikan campervan kami yg batas waktunya jam 3. Di motel ini kami turunin semua back pack dan beres2 campervan karena harus dikembalikan dalam keadaan bersih kalau tidak nanti didenda. Di motel ini, Tak disangka pula kamar yg diberikan begitu besar, 2 lantai, 7 tempat tidur, dapur, ruang keluarga dan home theatre! Sungguh diluar harapan kami sebelumnya. Ternyata kami dikasih upgrade kamar gratis dari 2 bedroom economy ke 3 bedroom executive! Makasih Aiport Gateway motorlodge atas upgrade nya!! Ditambah free wifi. Pokoknya meyenangkan sekali menginap di motel ini (Bisa disebut hotel bintang 5).

Selesai beresin campervan kami segera mengembalikan campervan nya ke KEA rental. Lumayan tegang nih pas ditanya How was your campervan?! Haha dengan sok tenang sy jawab iya ada accident kecil sampai atap mobilnya penyok. Dengan santai dia jawab oh kamu kan full cover insurance jadi tenang aja akan semua itu, yg diperlukan cuma isi kronologi yg kamu inget aja. Woke saya jawab haha.. saya isi kronologisnya gak jujur2 banget saya bilangnya sih nabrak pohon. Eh petugasnya malah nanya pohonnya gak apa2 kan? Haha.. Oia kami pun mengembalikan campervan ini dengan kondisi tanki solar kosong, karena kami sudah bayar dimuka untuk solar sebanyak 100ltr dimuka dengan diskon 5 cent perliter. Setelah urusan administrasi selesai kami diantar oleh pihak rental menuju Christchurch CBD, karena kami mintanya kesitu dan dengan gratis tentunya. Kami di drop off di sekitaran Re:START Mall yang kala itu hujan gerimis. Di pusat perbelanjaan ini kami beli2 souvenir dan kebutuhan pribadi lainnnya, tidak ada yg begitu special di pusat perbelanjaan ini melainkan bangunannya saja yg terbuat dari beberapa container yang ditumpuk. Selepas belanja kami pun menuju New world untuk beli oleh2 coklat yg harganya relative murah dibandingkan tempat2 lainnya hanya saja harga rokok 1 bungkus disini sekitar NZD 20 atau IDR 160rb, kalau di Indo bisa dapat 1 slove nih udah gitu cara jualnya mirip jual barang terlarang. Rokok tidak di display di etalase melainkan mereka akan kasih list merk2 yg dijual atau mereka akan tanya mau rokok merk apa dan kita akan digiring ke pintu kantornya dan dikasih barangnya disana tanpa harus kelihatan pengunjung lain, hal ini masih menjadi teka teki bagi saya kenapa harus seperti ini ya jualnya haha.. Selepas dari New World kami kembali ke motel untuk menikmati suasana kamar yg lega dan packing packing tentunya karena besok kami akan berangkat jam 6 pagi dari airport.

Hari Keduabelas (CHC -JKT)

Merupakan hari terakhir kami di Negara ini. Pagi pagi buta jam 4.30 airport transfer sudah menunggu diluar untuk mengantar kami ke airport, jaraknya dari hotel ini hanya 5 menit. Setiba di airport kami segera wrap plastic backpack kami (NZD 8) dan check in. Melewati pintu imigrasi pun lancar sekali meskipun orang di belakang kami harus bongkar isi tasnya karena anjing pelacak mencium sesuatu (biasanya bahan makanan mentah). Pesawat pun ontime jam 5.30 kita sudah boarding. Seperti dalam perjalanan pergi, kali ini pun kami transit dulu di Sydney airport selama 5 jam 40 menit, sungguh berasa lamanya mana tidak boleh keluar sama sekali lagi benar2 terkungkung di dalam airport ini (no smoking rooms at all). Setelah mendekati waktu boarding kami segera menuju boarding gate dan ternya pesawat yg ke Jakarta delay sampai 4 dengan alasan serupa yakni kerusakan mesin. Saya jadi berpikir Qantas ini kenapa sering ada masalah dengan mesinnya ya, jangan2 kurang di maintain dengan baik, hiii jadi males naik Qantas lagi. Dikarenakan delaynya cukup lama kami diberi kompensasi berupa voucher sebesar NZD 30 yg bisa dipakai untuk makan dan belanja di toko2 tertentu di dalam airport ini. Saya manfaatkan untuk membeli buku di Lonely Planet, untungnya mereka mau terima voucher tersebut. Akhirnya panggilan untuk penumpang ke Jakarta pun terdengar kami pun segera menaiki pesawat karena capeknya bukan main, antara capek, kesel nunggu sama harus menghadapi realitas pahit lagi di Jakarta haha.. Akhirnya kami sampai dengan selamat di Jakarta dengan membawa kenangan yg begitu indah.