ETAPORAMA
DSC_0398.jpg

STORIES

stories about traveling, music, lifestyle by etaporama

Perjalanan Dramatis ke Ladakh

Menyambung cerita perjalanan sebelumnya di Leh, tiba waktunya dimana kami harus menjelajah lebih dalam lagi dalam rangkaian perjalanan di Ladakh. Setelah 2 hari di Leh sekalian proses aklimatisasi, pada hari ke-tiga kami memulai perjalanan penuh petualangan dengan anggapan semua orang sudah beradaptasi pada kondisi di ketinggian dengan baik. Tujuan pertama adalah Khardong La Pass yang mereka klaim sebagai jalanan tertinggi di dunia (5,539m dpl) yang bisa dilewati kendaraan bermotor, meskipun masih diragukan keabsahannya (sumber Wikipedia). Namun apalah artinya sebuah predikat, yang jelas selama perjalanan menuju tempat ini pemandangan tersaji begitu spektakuler, dinding batuan terjal tajam mengimpit jalanan di sisi lainnya jurang yang menyajikan lembah tertutup salju dikelilingi barisan gunung bertumpuk membuat mata kami sulit terpejam. Mungkin sulit terpejam selain terpesona juga was was atas kondisi jalanan yang kami lewati. Namun supir lokal Ladakh yang mahir dan percaya diri mampu menaklukannya, membawa penumpang 12 orang dalam kendaraan yang kami tumpangi selamat sampai tujuan.

Dangerous Road

Setibanya di Khardong La Pass pemandu lokal memberitahu untuk berada disini dalam kurun waktu tidak lebih dari 15 menit. Bukan karena diburu jadwal tetapi kandungan oksigen yang sangat tipis pada ketinggian tersebut berbahaya bagi orang yang terbiasa menghirup kadar oksigen 20%. Sebagian dari kami berhambur keluar kendaraan untuk berfoto atau sekedar menikmati pemandangan sekitar. Namun beberapa teman memutuskan untuk tetap berada di dalam kendaraan karena kondisi fisik yang tidak begitu mumpuni akibat tekanan udara dan kadar oksigen rendah pada ketinggian seperti itu. Betul saja salah satu teman kami menderita serangan Acute Mountain Sicknes dengan gejala yang lumayan memprihatinkan seperti muntah lebih dari dua kali. Tak lama kemudian pemandu lokal menyuruh kami segera berkumpul untuk melanjutkan perjalanan ke tempat yang lebih rendah. Lagi lagi pemandangan spekakuler tak henti hentinya disajikan, tiap kelokan memberi kejutan tersendiri sampai sampai kami lelah untuk menyebut “wow” lagi. Balutan pegunungan salju tak lama berubah menjadi padang pasir keemasan yang gersang tak lama lagi berubah menjadi lahan subur penuh dengan pohon Poplar nan hijau diselingi dengan beberapa sungai glacier yang dramatis. Keanekaragaman lansekap di Ladakh begitu lengkap tersaji sekaligus unik.

Kami berhenti sejenak untuk makan siang dengan menu vegetarian yang saya pikir sama saja ragam dan rasanya. Keterbatasan hidangan makan saat itu menjadi kendala dikarenakan musim pancaroba membuat ketersediaan daging-dangingan sangat minim apalagi di luar kota Leh bisa dibiang nihil. Disaat teman-teman menikmati makan siangnya, saya menemani salah seorang teman yang terserang AMS setelah dari Khardong La dengan harapan keadaannya segera membaik. Namun kenyataanya mengharuskan teman saya tersebut harus segera ke rumah sakit terdekat agar mendapat penanganan yang lebih intensif. Setelah makan siang kami semua menuju RS yang berada di Nubra Valley. Setibanya saya dan pemandu lokal kembali mengurus administrasu untuk pasien. Setelah semua urusan selesai saya sebagai tour leader dan teman saya yang terserang AMS memutuskan untuk tetap di rumah sakit dan teman teman lainnya melanjutkan perjalanan menuju Hunder Valley untuk menikmati aktifitas Camel Ride dan Diskit Monastery.

Karena saya tidak ikut ke Hunder Valley dan Diskit Monastery jadi beberapa cerita ini saya kutip dari cerita teman-teman yang berkunjung kesana. Diskit Monastery ini adalah biara tertua dan terbesar di Lembah Nubra. Terletak di atas bukit, menghadap ke desa Diskit dan juga sungai Shyok di bawahnya. Di ruang utama biara, kita bisa menemukan patung Buddha beserta beberapa lukisan kuno. Meskipun didedikasikan untuk Buddha, kita juga dapat menemukan tempat suci lainnya yang didedikasikan untuk dewa-dewa Hinduisme di sini. Pastikan untuk mencapai lantai atas biara untuk mendapatkan pemandangan yang indah sekitarnya. Dalam perjalanan ke Hunder dari Diskit, kami melewati gurun pasir putih layaknya serpihan kaca. Sangking mengkilapnya bukit pasir ini dapat mencerminkan warna langit di atasnya dan pada malam hari gugusan bintang juga merupakan tontonan yang menakjubkan untuk dilihat. Kami menikmati safari unta di sini yang dikenal sebagai unta Baktria, sebuah jenis unta berpunuk 2 yang dapat bertahan hidup dalam cuaca-36/+36 derajat celcius. Konon unta ini dipakai sebagai sarana transportasi dalam perdagangan China dengan India.

Setelah dari dua tempat tersebut teman-teman menjemput saya dan seorang teman di RS untuk menuju penginapan di Nubra Valley. Penginapannya sendiri sejenis tenda namun memiliki fasilitas layaknya kamar hotel atau disini lebih dikenal dengan istilah Glamping/Glamour Camping. Tepatnya nama tempat kami menginap adala Nubra Valley Flower Camp. Sesuai dengan namanya, jika musim panas akan banyak sekali bunga-bunga bermekaran di hotel ini juga di lingkungan sekitar.

The Ivevitable Pangong Lake

Hari yang ditunggu-tunggu sebagian teman datang juga yaitu dimana kami akan mengunjungi Pangong Tso. Setelah melewati beberapa hari di Ladakh saya bertanya kepada beberapa teman, apa yang membuatnya ingin pergi ke Ladakh? Ada yang bilang karena baru dengar nama tempatnya, ada juga yang paling lantang menjawab karena Pangong Tso atau danau Pangong yang ditampilkan dalam film 3 Idiots. Tampaknya film drama komedi tersebut banyak menyihir penontonnya untuk berkunjung ke tempat ini ya.. Meskipun tidak cukup memiliki filosofi yang mendalam layaknya beberapa danau suci di Tibet, danau ini telah menjadi primadona Ladakh karena keindahannya. Perjalanan menuju Pangong Tso dari Nubra Valley merupakan salah satu rute paling indah di Ladakh. Disitu kita akan membelah Tangtse Gorge sebuah ngarai yang dalam lengkap dengan sungai glaciernya, melewati indah nya Syok valley dengan padang lumut membentang. Sesekali kami bertemu dengan perempuan lokal nomaden yang sedang menggiring hewan ternak nya. Tak hanya itu kami pun beruntung banyak bertemu dengan hewan liar khas dataran tinggi seperti Kyang dan Pheya sejenis marmot berukuran besar tapi bergerak sangat lamban. Namun di tengah perjalanan setibanya di Tangtse salah satu titik tertinggi dalam perjalanan tersebut satu orang teman kami dan pendampingnya harus segera dievakuasi ke Leh karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan untuk menetap di Pangong Lake pada ketinggian 4,250m dpl.

Akhirnya setelah melewati perjalanan lumayan panjang, di kejauhan mulai tampak genangan air biru yang enunjukan itu lah Pangong Lake. Yang tadinya sepi suara di dalam kendaraan, seketika itu semuanya mulai berenergi kembali di tengah sesaknya dada untuk bernafas hahaha. Tiba di Pangong Lake kami segera menuju penginapan, mirip seperti di Nubra Valley yang beratapkan tenda namun karena cuaca di sini lebih ekstrim -2˚C dengan angin yang lumayan kencang tanpa dilengkapi pemanas ruangan membuat pemandu lokal kami berpikir untuk memberikan alternatif penginapan yang bangungannya terbuat dari kayu sehingga tahan akan terpaan angin khususnya pada malam hari. Tapi setelah berdiskusi kami tetap ingin tinggal di tenda tersebut karena posisinya yang lebih ke pinggir danau dengan menyisati untuk tidur sekamar berempat ketimbang berdua untuk menghindari dinginnya kamar yang berlebihan. Meskipun sore itu cuacanya mendung justru menambah daya magis dari danau tersebut. Kami habiskan sore itu untuk berfoto dan menikmati murninya alam sekitar Pangong Tso, birunya danau dan jernih airnya dikelilingi pegunungan berdegradasi emas kemerahan dapat mengobati tekanan kami warga ibukota yang haus akan sentuhan alam. Fakta bahwa ini adalah danau asin tertinggi di dunia menguatkan hipotesis saya bahwa ini merupakan cerukan laut yang terangkat akibat benturan lempeng benua.

Pagi hari kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Leh. Seketika hujan es ringan menyambut namun tak lama kemudian jendela langit terbuka mengizinkan cahaya matahari menyinari danau tersebut. Mendapat cuaca yang berbeda lagi lagi kami berhenti di sekitar Pangong lake karena banyak spot foto yang belum kami kunjungi hari sebelumnya termasuk ikon skuter yang digunakan dalam film 3 idiots. Perjalanan kembali ke Leh menurut saya lebih mengerikan ketimbang perjalanan melewati Khardung La Pass. Saat itu kami melewati Chang La pass di ketinggian 5,360m dpl. Pekatnya awan dan jalanan yang sangat licin akibat es yang membeku dengan jurang di samping membuat drama perjalanan kian menghantui. Tiba di puncak kami berhenti sejenak untuk menikmati snack di salah satu café di atas sana ditemani music top 40 yang sudah lama kami tidak dengar di Ladakh hahaha.. Sekitar 6 jam perjalanan saat itu kami tiba di Thiksey Monastery yang dikenal sebaga Little Potala karena arsitekturnya yang menyerupai Potala Palace di Lhasa, Tibet. Bedanya disini kendaraan dapat menuju ke bagian atas sehingga lebih mudah untuk pengunjung mencapai puncak biaranya menikmati pemandangan desa dan pegunungan sekitar. Kami bertemu dengan salah seorang biksu yang mendiami biara ini dan dia memberi kami sebuah gelang yang sudah “diisi” mantra. Kami pun bertemu dengan dua orang teman yang hari sebelumnya dievakuasi ke Leh, dengan senyum sumringah terlihat teman kami ini sudah pada kondisi prima layaknya perempuan habis belanja bulanan setelah mendapat perawatan di rumah sakit di Leh. 

What to Expect in Delhi

Hari ini kami harus mengejar pesawat sekitar jam 7 pagi untuk kembali ke New Delhi. Padahal masih ingin berlama lama di Ladakh tapi apa daya realitas menunggu dengan cemas di Jakarta. Karena Pesawat kami dari Delhi ke Jakarta sekitar jam 11 malam kamis habiskan waktu seharian di ibukota India itu. Dengan mengikuti Delhi city tour tampaknya apa yang kami dapatkan di Ladakh berbanding terbalik dengan yang disajikan oleh kota ini. Bunyi klakson bertubi tubi tak mau mengalah, kemacetan dan debu di sekitar merupakan pemandangan lumrah disini membuat “zen” yang sudah kami pupuk di Ladakh kacau jadinya. Untungnya kami mengunjungi Dili Haat sebuah pasar kerajinan yang menurut saya hanya ini tempat yang dapat menghubur selama berada di kota Delhi. 

Seperti yang pernah saya sebutkan pada cerita perjalanan sebelumnya. Perjalanan ke Ladakh merupakan perjalanan penuh berkah yang harus setidaknya dikunjungi sekali dalam seumur hidup. Pemandangan alam yang spektakuler dan kearifan lokalnya tidak begitu saja mudah diraih. Tantangan dan pengorbanan harus dilalui membuat kesan perjalanan ini lebih mendalam ketimbang perjalanan liburan ke destinasi major di dunia. Mungkin karena diantara teman harus saling peduli dalam perjalanan ini membuat hubungan diantaranya kian dekat. See you guys in another adventure! Special thanks to Mba Juliana yang sudah berkenan beberapa fotonya digunakan pada blog ini :)

PS: Rangkaian perjalanan seru ini diselenggrakan oleh @etaporamaxplore yang bekerjasama dengan sumber daya lokal Ladakhi dalam misi melestarikan kelangsungan hidup warga lokal Ladakh.