ETAPORAMA
DSC_0398.jpg

STORIES

stories about traveling, music, lifestyle by etaporama

Perjalanan ke Russia (Kola Peninsula)

Lovozero
Lovozero

Perjalanan ke Kola Peninsula mungkin saya anggap sebagai highlight dari seluruh rangkaian perjalanan musim dingin kami ke Russia ini. Sudah pasti terkesan akan keindahan alamnya, kawasan yang satu ini bisa dibilang jarang disentuh oleh wisatawan mancanegara apalagi dari Indonesia - berdasarkan laporan dari agen wisata yang kami gunakan disana. Sebelum bercerita mengenai perjalanan kami kesini, saya akan memperkenalkan apa dan dimana Kola Peninsula tersebut.

Apa yang melatar-belakangi saya untuk pergi ke Kola Peninsula adalah sebagai destinasi untuk menikmati aktifitas luar ruangan yang tidak begitu jauh letaknya dari Moscow dan St. Petersburg daripada harus pergi menuju Lake Baikal - yang terkenal akan keajaiban alamnya - tapi membutuhkan waktu 3 hari 3 malam (80 jam) jika menggunakan kereta api dari Moscow. 

Kola Peninsula terletak di ujung barat laut Russia dan hampir sepenuhnya berada di dalam lingkar kutub utara (arctic circle) tau yang biasa disebut laplandia (Norwegia, Swedia Finlandia bagian utara). Di semenanjung ini sebagian besar merupakan teritori Murmansk Oblast dengan ibukota Murmansk. Karena berfungsi sebagai ibukota, Murmansk memiliki fasilitas terlengkap dan menjadi penghubung kota kecil lainnya di Kola Peninsula. Berhubung jarang wisatawan asing kesini bukan berarti area ini tidak ramah terhadap pendatang, justru sebaliknya. Oleh karenanya disarankan untuk menggunakan jasa agen wisata, setidaknya untuk mengurus transportasi dan aktifitas selama disana, kenapa? Karena sarana transportasi umum yang kurang memadai antar kotanya dan sangat minim orang yang bisa berbahasa inggris. Kami sendiri menggunakan jasa agen wisata dari V-leto selama melakukan perjalanan di Kola Peninsula. Meskipun beberapa hotel dan aktifitas sudah kami atur sendiri diluar paket yang mereka punya, mereka dengan sangat senang akan membantu memenuhi keinginan kita dengan harga yang terjangkau. Untuk menuju Murmansk dapat bertolak dari Moscow atau St. Petersburg baik menggunakan kereta atau pesawat tanpa menyita terlalu banyak waktu. Kola Peninsula bisa menjadi alternatif tujuan bagi pecinta aktifitas luar ruangan setelah puas dimanjakan dengan sejarah dan budaya di kota Moscow atau St. Petersburg. Beberapa kota/desa yang patut dikunjungi di Kola peninsula yaitu:

  • Murmansk: Pusat kota sebagai hub kota kecil lainnya (Teriberka, Lovozero, Kirovsk etc), memiliki beberapa atraksi wisatawan dan juga terkenal untuk melihat Aurora Borealis pada musim dingin.

  • Teriberka: Sebuah pemukiman yang memiliki nilai misteri di pesisir Barents sea. Pengunjung akan memiliki kesan yang campur aduk setelah mengunjunginya. Tempat ini juga dijadikan tempat shooting film Leviathan 2014.

  • Lovozero: Terdapat pusat kebudayaan suku Sami. Aktifitas luar ruangan seperti snowmobile, husky sledding, kite surfing, shoe skiing dan masih banyak lagi apapun musimnya.

  • Kirovsk: Terkenal sebagai tujuan musim dingin bagi warga lokal Russia untuk berolahraga (ski, snowmobile etc) karena harganya yang relatif lebih murah dibanding tujuan musim dingin lainnya di Russia.

Day 4 (Tiba di Murmansk)

Pagi ini kami sudah harus berada di bandara Shremetyevo Moscow pukul 5 pagi untuk mengejar pesawat menuju Murmansk pada pukul 7.20 pagi. Berangkat dari apartemen di Moscow pukul 4 pagi dengan menggunakan jasa dari kiwi taxi yang sudah kami pesan jauh hari sebelumnya. Pagi ini kami menggunakan maskapai Aeroflot yang sayangnya membuat kami kerepotan, kenapa? Karena berat bagasi tidak bisa diakumulasikan sebagai group booking jadi terpaksa di depan meja check-in kami harus membongkar koper yang kami bawa agar berat koper masing2 tidak melebihi batas yang telah ditentukan. Penerbangan dari Moscow menuju Murmansk menyita waktu 2 jam 30 menit.

Shremetyevo Airport - Aeroflot
Shremetyevo Airport - Aeroflot

Akhirnya kami sampai di bandara Murmansk tepat waktu pukul 09.50, namun melihat keluar jendela membuat kami panik sendiri karena landasan terbang yang tertutup salju untungnya sang pilot lihai mengendalikannya membuat kami semua bertepuk tangan saat mendarat dengan selamat.

Murmansk Airport
Murmansk Airport

Kami pun mengantri untuk mengambil bagasi namun kejadian naas menimpa kami, salah satu teman kami ditegur oleh pihak berwenang tak berseragam untuk menunjukan dokumen perjalanan kami. Karena merasa ada yang tidak beres kami segera menelfon tour guide lokal (V-leto) kami yang sudah menunggu untuk menjemput kami dan akhirnya Oleg (nama tour guide) datang menghampiri sekaligus bernegosiasi dengan pihak berwenang itu tadi. Setelah perdebatan alot antar mereka kami pun tetap digiring ke kantor imigrasi yang ada di bandara tersebut. Entah apa yang dilakukan dengan dokumen perjalanan kami, mereka sibuk menelfon kesana kemari dan kami menghabiskan waktu 2 jam lebih di kantor tersebut dengan percuma. Akhirnya mereka pun melepaskan kami tapi dengan syarat harus mendaftar ulang di kantor imigrasi di pusat kota Murmansk. Untung sekali ada Oleg sehingga dia pun kembali mengurus kami di kantor tersebut, coba bayangkan jika kami datang tanpa ada satu orang pun yang bisa berbahasa Russia? Bakalan di deportasi kayaknya hahaha..

Urusan legalitas dokumen selesai kami pun segera mencari makan siang yg kali ini makan di Obedbanket. Setelah makan selesai kami menuju hotel tempat kami menginap 2 malam di Murmasnk yaitu Mini Tri Zaytsa hotel.

Atas: gedung imigrasi diambil dari semak2, gak berani terang2an hehe.. Bawah: Lunch di Obedbanket.
Atas: gedung imigrasi diambil dari semak2, gak berani terang2an hehe.. Bawah: Lunch di Obedbanket.

Karena kecapekan dari semalam belum cukup tidur ditambah kejadian tidak mengenakan di bandara membuat mood kami berantakan dan memutuskan untuk beristirahat seharian di hotel ini, lagipula nanti malam kita sudah buat janji dengan Oleg untuk tour mengejar Aurora Borealis. Badan sudah segar kembali sekitar jam 7 malam kami berjalan kaki ke pusat kota Murmasnk untuk cari makan malam. Bingung mau makan dimana akhirnya ketemu McDonald’s yang merupakan McD paling utara dimuka bumi ini.

Tak berapa lama Oleg pun menyusul beserta Aleksei yang akan menemani kami beberapa hari kedepan. Kami pun memulai pemburuan Aurora Borealis menembus dinginnya malam itu. Kasihan melihat kita kedinginan Oleg pun memberikan minuman khas Murmansk berupa cloudberry yang difermentasi untuk menghangatkan badan kami yang rasanya mirip obat batuk. Waktu pun berlalu sekitar 4 jam namun hanya sedikit semburat Aurora yang terlihat. Oleg pun menawarkan untuk berkendara lebih jauh lagi berharap ada keburuntungan lebih besar namun kami menolak karena sudah sangat larut dan terlalu dingin sehingga kami memutuskan untuk pulang ke hotel sekitar pukul 1 dini hari.

Day 5 (Teriberka)

breakfast at the hostel

breakfast at the hostel

Setelah menyantap sarapan yang disediakan hotel ditambah rendang yang masih awet kami bawa, kami bersiap-siap untuk menghabiskan waktu seharian berpetualang menuju Teriberka. Berjarak sekitar 130 km dari Murmansk perjalanan ini ditempuh dalam 3 jam yang normalnya 2 jam dikarenkan kondisi jalan yang licin akibat tumpukan salju. Selama perjalanan kami hanya bisa ternganga akan pemandangan yang luar biasa anehnya, hanya hamparan pasir putih yang menyilaukan sejauh mata memandang.

Jalan menuju Teriberka.
Jalan menuju Teriberka.

Ada pun sekelompok orang yang memanfaatkan kondisi tersebut, mereka melakukan kite surfing. Kita mungkin pernah melihat orang berselancar menggunakan parasut diatas lautan namun kali ini dilakukan diatas hamparan padang salju, sungguh luar biasa tantangannya. Ingin merasakan lembutnya hamparan salju ini kami pun dengan bodohnya loncat dan berguling-guling di atasnya. Setelah puas kami melanjutkan perjalanan ke Teriberka.

Kami pun tiba di tujuan sekitar pukul 12 siang. Teriberka sendiri terdiri dari New dan Old Teriberka dan yang kami kunjungi saat itu adalah Old Teriberka, meskipun jarak dua pemukiman itu tidak jauh. Di Old Teriberka sudah jarang sekali penduduk yang menetap membuat banyak bangunan-bangunan yang ada jadi terbengkalai. Tempat ini sangat cocok sekali bagi pemburu fotografi demi mendapat suasana kelam dan dramatis.

Dahulu sekitar 1940-an pemukiman ini sangat berkembang pesat menjadikannya pusat perikanan dan budidaya reindeer namun setelah tahun 1960-an pemerintah memutuskan untuk memindahkan pelabuhan perikanan dan budidaya reindeer ke daerah lain yang membuat tempat ini ditinggalkan penghuninya. Tidak hanya bangunan rongsok yang terdapat disini, pemandangan laut lepas Barents sea menuju kutub utara juga dapat dinikmati dari tempat ini.

Saking sepinya kami kesulitan untuk cari tempat makan disini, untungnya Aleksei local guide kami telah berbincang dengan penduduk lokal dan mendapati sebuah toserba kecil dan restoran yang masih buka meskipun rintangan salju tebal harus kami lewati. Di restoran ini kami memesan steak daging reindeer dengan saus cloudberry juga salmon steak yang ikannya ditangkap di laut lepas Barents Sea. Secara umum rasa daging reindeer itu mirip ati dengan aroma yang khas tapi ketika ditambah saus cloudberry rasanya jadi enak bangeeeettt… Kalau salmonnya jangan ditanya karena ikannya seger banget.

Reindeer Steak
Reindeer Steak
Beer 2x ukuran normal sekali tenggak ludes. KZL!
Beer 2x ukuran normal sekali tenggak ludes. KZL!

Akhirnya kami sudahi untuk menikmati kampung kecil yang meninggalkan kesan campur aduk ini dan kembali ke Murmansk. Lelah seharian berjalan kaki di udara yang sangat dingin membuat kami kehilangan tenaga untuk cari makan malam di luar yang tadinya berniat makan di Terassa Lounge yang paling trendi di Murmansk haha, akhirnya kami putuskan masak indomie di hotel saja.

Day 6 (Lovozero)

Cuaca pagi ini sangat berbeda dengan kemarin yang sangat cerah, pagi yang lumayan mendung menandakan tidak lama lagi akan turun salju. Sekitar jam 8 pagi kami sudah dijemput oleh Aleksei untuk menuju Lovozero dan meninggalkan hotel kami di Murmansk. Perjalananan darat dari Murmansk menuju Lovozero berjarak 160km dan ditempuh dalam waktu 3 jam kala itu. Destinasi pertama kami hari ini adalah Sami Village yang terletak di Lovozero. Merupakan agenda wajib bagi wisatawan yang berkunjung ke Kola Peninsula untuk mendatangi tempat ini. Disini kita tidak hanya bisa belajar mengenai budaya suku Sami yang hidup di dalam lingkar kutub utara tapi juga mengikuti permainan khas suku Sami seperti tug of the pole, sami football etc.

SAMI VILLAGE LOVOZERO
SAMI VILLAGE LOVOZERO

Ketika kami sampai di Sami Village kami dipersatukan dengan tamu lainnya yang berasal dari Russia. Untuk mempererat hubungan antar pengunjung, kami diikutsertakan dalam beberapa permainan khas suku Sami. Pertama-tama kami bertanding melawan tamu dari Russia dalam lomba tug of the pole semacam tarik tambang lalu dilanjutkan dengan Sami football yang lebih mirip dengan American football namun bedanya bola yg digunakan terbuat dari gulungan kulit reindeers. Kedua permainan tadi dimenangkan oleh kami tim Indonesia, wuiih bangganya bak mendapat medali emas kejuaraan olimpiade hahaha..

 

Acara lalu dilanjutkan dengan penjelasan mengenai kepercayaan Shamanism yang dianut oleh suku Sami. Kami dipersilahkan untuk berinteraksi dengan simbol-simbol dewanya agar mendapat manfaat darinya seperti, kesehatan, kemakmuran cinta dan keluarga. Masing masing simbol dewa memiliki cara berinteraksi tersendiri apabila permohonannya ingin dikabulkan, ada yang dipeluk, disentuh dengan telapak tangan, hingga ditempelkan ke jidat dan sebagai pelengkap diharapkan untuk melemparkan koin kalau bisa koin yg berasal dari negara asal. Percaya gak percaya sih..

Setelah selesai, sesi berikutnya kami diajak untuk berinteraksi langsung dengan reindeer yang merupakan keahlian utama suku Sami dalam membudi-dayakannya. Hal yang perlu diperhatikan ketika berhadapan langsung dengan reindeer adalah agar posisi tangan kita tidak berada di atas kepalanya, karena reindeer selalu penasaran dengan bau tangan kita dan kalau dia sudah berdiri tanduknya dapat mencelakai kita.

Selanjutnya kami dipersilahkan menikmati aktifitas seru seperti reindeer sledding yaitu seluncuran yang ditarik dengan beberapa reindeer dan juga banana boat yang kali ini ditarik oleh snowmobile diatas salju yang padat - banana boat over the sea is so last year hihihi.. Dua aktifitas seru tersebut membuat kami ketagihan ingin coba lagi dan lagi tapi ya kasian reindeernya juga sih sudah ngos-ngosan dan muka kita yang sudah memerah akibat kedinginan. Selesai aktifitas tadi kami lanjutkan untuk makan siang dengan menu sup ikan salmon untuk mengembalikan tenaga kami yang sudah habis sambil berfoto ria menggunakan jubah khas suku Sami.

Tak cukup hanya dengan aktifitas yang padat di sami village, hari ini kami lanjutkan perjalanan menuju danau lovozero dengan tujuan akhir tempat kami menginap di Yulinskaya Salma Touristic Center. Setibanya di tepian danau kami bertemu dengan penjemput yang akan mengantar kami ke Yulinskaya Salma, kami ber-6 ditambah Aleksei diharuskan menggunakan pakaian tebal sejenis coverall yang beratnya kira-kira 5kg sendiri. Setelah memakai pakaian tersebut kami dipersilahkan untuk menaiki sebuah gerobak kayu, iya beneran gerobak! Gerobak tersebut ditarik oleh snowmobile dan akan melintasi danau beku demi mencapai tujuan tempat kami menginap. Apa yang terjadi saat itu ketika perjalanan berlangsung adalah perasaan tersiksa tiada akhir. Gimana tidak tersiksa, saat itu sedang terjadi hujan salju ditambah kecepatan snowmobile 60 km/jam membuat angin dingin bercampur es tajam menghempas sekujur tubuh kami diatas gerobak terutama wajah kami.

 

Kami tidak bisa melihat apapun selama perjalanan yang ada hanya pemandangan putih kelabu dan saking kedinginannya membuat kami sedikit berhalusinasi, tak henti-hentinya kami berkomat kamit mengucap doa sepanjang jalan agar selamat sampai tujuan. Ditengan perjalanan gerobak yg kami tumpangi berhenti, ternyata posisi duduk kami salah, harusnya membelakangi snowmobile bukan justru menghadap depan dan saya juga diberikan sarung tangan yang saat itu saya tidak pakai karena saya pinjamkan ke teman saya yang tidak punya. Sungguh perjalanan 40 menit -yang terkesan tak berujung- menerjang badai diatas danau beku yang tidak akan terlupakan menuju Yulinskaya Salma. Saya pun mengucap syukur dengan lantang ketika selamat sampai di tempat kami menginap setelah melewati cobaan yang begitu berat hahahha.. No it was actually awesome!

Kami pun disambut dengan hangat oleh pemilik penginapan tersebut bernama Natalya. Dia meminta kami untuk menghangatkan badan dekat perapian di dalam hotel tersebut sembari menunggu makan malam yang sedang dipersiapkan. Setelah badan agak lebih hangat kami pun tak sabar untuk bermain di pekarangan hotel yang pemandangannya luar biasa indah dikelilingi perbukitan yang diselimuti salju diatas hamparan danau luas yang membeku ditambah dengan adanya lavvu, sejenis tenda semi permanen khas suku sami.

Waktu makan malam pun datang, Natalya menjelaskan fasilitas dan aktifitas yang terdapat di tempat ini, seperti Banya (sauna ala Russia), barbekyu area, snowmobile, memancing, hiking, shoeskiing dan masih banyak lagi. Malam ini kami memutuskan untuk mencoba Banya untuk relaksasi badan yang terasa beku kedinginan. Banya ini sebenarnya mirip dengan sauna namun yang membuatnya berbeda adalah penggunaan batang daun herbal yang ditepuk ke badan dan juga di tengah-tengah proses sauna diharuskan kita untuk terjun ke kolam es sebagai terapi kesehatannya. Hanya saya saja yang berani terjun diatas tumpukan salju dalam keadaan setengah telanjang, rasanya jantung mau lepas! Tapi rasa segar setelahnya membuat malam itu pulas tidurnya.

Day 7 (Lovozero – Kirovsk)

Sebelum hari begitu terang, saya bersama seorang teman saya berburu foto sunrise yang kesiangan dari pekarangan hotel ini ditemani oleh dua anjing penjaga yang sangat suka bermain. Setelah 2 hari bermain dengan anjing German Shepherd yang penurut ini saya baru mengerti kenapa orang bisa sayang banget sama anjing. Ada kalanya pagi itu saya terjatuh terpeleset karena licinnya salju, kedua anjing itu dari kejauhan langsung lari mendekati saya hanya untuk memastikan kalau saya baik baik saja, awh so sweet.

Akhirnya waktu sarapan pun tiba, Natalya pun kembali menawarkan aktifitas yang ingin kami lakukan yang saat itu dan kami meilih untuk mengendarai snowmobile diatas danau Lovozero yang masih beku. 15 menit tiap orang mencoba mengendarai snowmobile ini tapi sayangnya kami tidak diperkenankan berkendara sendiri karena katanya kalau keluar jalur beresiko terinjak es yang sudah lunak dan kejeblos deh ke dalam danau. Sebenarnya kami masih ingin mencoba aktifitas lain seperti shoeskiing namun sayang waktu yang kami miliki terbatas karena setelah jam makan siang kami harus menuju destinasi selanjutnya yaitu kota Kirovsk. Ada sedikit penyesalan kenapa kami hanya menginap semalam disini. Meskipun hotel ini jauh dari peradaban namun keindahan alam, aneka fasilitas dan aktifitas yang mereka miliki minimal dapat dinikmati dalam waktu 2 malam, sedangkan kami hanya semalam, terlalu cepat!

aktu perpisahan pun tiba, gerobak kayu yang ditarik dengan snowmobile sudah menunggu. Kali ini posisi kami ditukar dengan gerobak yang lebih nyaman dan kebetulan lagi cuaca pada hari itu sangat cerah membuat perjalanan menyebrangi danau beku selama 40 menit ini jauh lebih nyaman. Pokoknya kali ini layaknya menumpang mobil mewah sedangkan kemarin mirip naik bajaj haha..

Tujuan kami setelah menyebrangi danau lovozero adalah ke sebuah keluarga bernama Svetlana Nikolavna yang memelihara banyak sekali anjing Siberian husky yang ditur oleh agen wisata kami V-leto. Siberian husky yang mereka miliki sengaja dirawat untuk mengikuti kompetisi adu kekuatan dan kecepatan dan sering mendapat gelar juara. Selain diperkenankan untuk bermain bersama husky ini kami juga dipersilahkan untuk mengendarai kereta luncur yang ditarik oleh hanya 2 siberian husky, terbukti bahwa tenaga mereka sangat besar. Kami diberitahu mitos/legenda dari warna mata husky ini mata biru ini biasanya husky yang sering terpapar sinar di area salju dan cenderung galak, sedangkan husky mata coklat itu simbol dari api dan penjaga setia dan yang menarik ketika warna sebelah mata biru sebelah lainnya coklat, biasanya husky ini diperlakukan lebih spesial karena keunggulannya berkompetisi serta setia kepada majikannya.

Setelah puas bermain seluncur bersama husky di Lovozero kami lanjutkan perjalanan menuju kota Kirovsk. Berjarak sekitar 180km yang kami tempuh dalam waktu 3 jam. Tiba di hotel sore hari yang telah diatur oleh agen wisata kami dan kami cukup dibuat tercengang oleh keadaannya. Oiya kenapa kami tidak memilih hotel sendiri di Kirovsk karena memang agak sulit menemukan hotel disini lewat website booking internasional, jadi kami serahkan kepada agen wisata kami di sana. Mungkin lebih tepatnya disebut sebagai dorm daripada hotel karena fasilitas yang dimiliki. Kalau dari luar tampak dorm ini seperti gudang yang tertimbun salju, tapi kami disambut ramah oleh pemiliknya (Meskipun mukanya galak, don’t judge!) dan fasilitasnya pun lengkap ada communal kitchen, shared bathroom, heated room, drying room dll. Sang pemilik pun senang karena kami adalah satu-satunya warga asing yang pernah menginap disini yang kebanyakan keluarga dari Russia yang ingin bermain ski. Dan sampai disini kami pun berpisah dengan Aleksei karena sudah selesai kontraknya.

alam ini kami sempatkan untuk berkeliling kota menikmati suasana kota yang dikenal sebagai tujuan olahraga musim dingin bagi warga Russia. Suasanya yang begitu penuh misteri menyelimuti kota ini, banyak bangunan besar yang hancur tak terawat tertimbun salju dengan sinar cahaya yang magis layaknya di dunia lain. Berjalan dari tempat kami menginap ke pusat kota yang berjarak sekitar 500meter, kami dapati restoran asia yang wanginya sangat mengundang, namanya Sushi Wok. Kami pun memesan makanan chicken wok (nasi ayam), chicken fried noodle dan miso soup yang ternyata ketika kami coba, alamaaak enak buangeettt!! Murah dan banyak pula! (Ya gurih, pedas, manis, wangi pokoknya komplit). Kami habiskan malam ini menikmati makanan yang sudah lama tak kami jumpai di Russia hahaha..

Day 8 (Kirovsk)

Pagi hari melihat keluar jendela ternyata cuacanya mendung sekali, membuat kami malas pergi keluar. Namun perut terasa makin lapar, teringat lezatnya restoran Sushi wok semalam membuat kami bergegas keluar kamar dan kembali ke restoran itu untuk makan siang. Seharian penuh berada di Kirovsk tapi kami tidak memiliki tujuan yang jelas, lagi lagi hanya berjalan keliling kota. Akhirnya kami putuskan untuk mampir ke sebuah museum bernama Apatite museum yang berisikan mengenai sejarah kota Kirovsk yang dulunya sebagai pusat tambang mineral Apatite yang diperoleh dari gunung Khibiny yang sekarang dijadikan sebagai pusat olahraga musim dingin. Ketika kami masuk ke museum ini seorang perempuan berambut pirang (Anastacia namanya) menyambut dengan ceria menggunakan bahasa inggris yang sangat fasih. Tak disangka belum perkenalkan diri dari mana kami berasal, beliau tahu kalau kami dari Indonesia, membuat kami kaget. Ternyata seantero Kirovsk sudah tersebar kalau ada 6 orang turis Indonesia di Kirovsk lagi bingung mau ngapain di kota ini hahaha.. (ini semua karena Aleksei yang menghubungi teman2nya di Kirovsk) Koleksi museum ini sungguh fantastis tak hanya jenis batuan mineral yang berasal dari Russia saja namun dari seluruh dunia juga ada. Setelah berjam-jam didalam museum ini dan badan sudah terasa hangat kami meutuskan untuk melanjutkan perjalanan keliling kota. Baru keluar sebentar sudah kedinginan lagi kami pun menuju sebuah bar bawah tanah yang ada kota itu lupa namanya. Usai dari tempat ini kami menghabiskan waktu mengelilingi kota hanya untuk berfoto-foto khususnya gedung-gedung “misteri”nya.

Sebenarnya Kirovsk merupakan surga bagi pecinta olahraga musim dingin seperti bermain ski dll. Tapi sayang cuaca saat itu mendung sekali membuat kami mengurungkan niat untuk bermain ski ditambah untuk menuju ski resortnya harus menaiki bus yang kami tidak mengerti caranya hehehe.

Day 9 (Kirovsk – overnight train to St Petersburg)

Sekitar jam 10 pagi kami memesan sebuah mobil van melalui tempat kami menginap untuk mengantar ke stasiun kereta di kota Apatity. Jarak dari Kirovsk ke Apatity tidak begitu jauh dan dapat ditempuh dalam waktu 15 menit. Dahulu sebenarnya ada stasiun kereta di kota Kirovsk namun sekarang stasiunnya sudah tidak lagi berfungsi dan pindah ke kota yang lebih besar yaitu Apatity. Sengaja kami berangkat agak pagi karena berencana di stasiun Apatity bertemu dengan Anastacia (penjaga museum Apatite) untuk ngopi-ngopi, karena hari itu dia libur dan kebetulan tinggalnya di kota itu. Namun dia baru kasih kabar siang hari kalau dia tidak bisa bertemu.

Tiket kereta kami beli melalui website RZD dengan rute Apatity 1 – Sankt Petersburg jauh hari sebelumnya agar dapat harga yang masih murah. Saat itu kami membeli dengan harga 1500 Ruble sekitar Rp. 300,000,- per orang untuk perjalanan yang lamanya 23 jam di dalam gerbong tidur, murah banget kan? (coba bandingkan tiket kereta Jakarta-Jogjakarta yang hanya 8 jam tapi harganya 300ribuan, duduk pula. Ada beberapa kelas dalam kereta jarak jauh, yaitu: 1st class sleeping compartment yang artinya 2 orang tidur dalam ruang tertutup, 2nd class sleeping compartment yang artinya 4 orang tidur di dalam ruang tertutup dan 3rd class open sleeping yang artinya tidur dalam gerbong tidur terbuka. Saat itu kami memilih 3rd class yang jelas paling murah hehehe.. 3rd class sendiri pun dibagi lagi menurut posisinya, yaitu upper, lower dan upper/lower lateral yang berarti posisinya sejajar dengan gang dalam kereta . Menurut saya posisi lateral ini agak tidak nyaman karena akan sering dilewati orang yang berlalu-lalang. Mengenai bed sheet dan selimut untuk tidur kita akan dikenakan biaya tambahan seharga 100ruble atau sekitar Rp. 20,000,- dan harus dikembalikan, kalau punya sleeping bag sendiri ya mending tidak usah menyewa. Untuk urusan makan tidak perlu khawatir karena mirip di Indonesia, di tiap gerbong dijual mie siap seduh. Bagi yang ingin makan 4 sehat 5 sempurna kita bisa berjalan ke gerbong restorasi. Untuk urusan tolet sih standar, lumayan bersih tapi saya pribadi menyiapkan untuk minum obat penahan mules supaya tidak BAB selama berada di kereta hehehe. Selama di dalam kereta kami berhasil membuat teman baru, sekelompok pria setengah baya mengajak kami berbincang mungkin aneh kali ya liat ada orang Asia di gerbong ini. Kita saling bertukar cerita selama perjalanan kami di Russia ini dan mereka juga tak henti-hentinya menunjukan foto ketika mereka sedang berpetualang di Kirovsk bersama putra putrinya. Salah satu nama dari mereka yang kami ingat adalah Sergey yang paling banyak bicara dan membantu kami dalam perjalanan kereta jarak jauh ini. Bagi kami ini adalah pengalaman pertama kali menginap di dalam kereta yang sungguh menyenangkan (karena murah). Kami tiba di St Petersburg keesokan harinya sekitar pukul 12 siang.

Tunggu postingan berikutnya mengenai St Petersburg ya..