ETAPORAMA
DSC_0398.jpg

STORIES

stories about traveling, music, lifestyle by etaporama

Perjalanan ke Russia (Moscow)

Perjalanan kami dari Jakarta hingga Moscow terbilang lumayan panjang, dimulai transit dan pindah maskapai di Kuala Lumpur dilanjutkan dengan transit/bermalam di Hanoi untuk melanjutkan penerbangan keesokan pagi harinya menuju Moscow. Maklum namanya juga tiket promo, yess?!! Penerbangan Vietnam Airlines dari Noi Bai Aiport Hanoi hingga Domodedovo Airport Moscow ditempuh dalam waktu 10 jam 5 menit. Namun sayangnya kala itu pesawat kami mengalami keterlambatan selama 2 jam. Kesan saya terhadap maskapai yang baru pertama kali saya naiki ini lumayan saja (6 out of 10), dari segi kenyamanan dan hiburan pesawat terbilang OK tapi kalau dari segi keramahan cabin crew dan makanan untuk orang yang berkebutuhan khusus harus diperbaiki sih agar setara kelasnya dengan maskapai Skyteam member yang lain.

Petugas militer Russia di dalam pesawat
Petugas militer Russia di dalam pesawat

Setelah makan, tidur, makan, tidur di pesawat akhirnya kami selamat mendarat di Domodedovo airport Moscow pukul 3.30 sore waktu setempat. Tak sabar ingin segera keluar pesawat, keinginan itu terpaksa tertahan karena tiba-tiba sekelompok petugas militer masuk ke dalam pesawat membawa handycam dan merekam seluruh wajah penumpang di dalam pesawat tersebut. Sebel sih, tapi adakah diantara kita berani menunjukan muka kesal kepada aparat Russia? Saya rasa nggak bakal ada yang berani hehehe.. Setelah waktu tersita, kami harus pula melewati petugas imigrasi Russia yang terkenal panjang antriannya. Alhasil kami baru keluar bandara pukul 5 sore, sudah delay pesawat ditambah banyaknya tingkatan pengecekan petugas membuat itinerary hari itu banyak terlewati.

Namun kekecewaan itu sekejap sirna ketika melihat sesosok orang bule memegang nama salah seorang dari kami untuk mengantar kami menuju apartemen tempat kami menginap di pusat kota (kiwi taxi). Ahh.. Menghirup udara segar khas musim dingin memberikan energi yang luar biasa bagi saya khususnya. Tak cukup disitu saja, di tengah perjalanan menuju parkiran kami pun disambut dengan turunnya salju menandakan kami datang di waktu dan tempat yang sesuai, Russia di musim dingin! Seperti anak kecil keluar dari sarangnya, tak berkedip mata ini memandang perjalanan selama menuju pusat kota. Jalanan yang sangat lebar bertepikan salju kotor menemani perjalanan ini.

Dari Domodedovo Airport menuju pusat kota Moscow
Dari Domodedovo Airport menuju pusat kota Moscow

Day 1 (Tiba di Moscow)

Pukul 6 sore kami tiba di apartemen tempat kami menginap yang lokasinya dekat dengan Arbat Street (pusat hiburan dan perbelanjaan kota Moscow) dan stasiun metro Barrikadnaya. Apartemen 3 kamar untuk 6 orang yang hangat ini kami pesan melalui booking.com dengan harga Rp.200,000,-/org/malam. Tak hanya relatif murah, namanya juga apartemen jadi segala perabotan rumah tangga sudah siap sedia tinggal dipakai saja. Tak ingin lama beristirahat, kami segera keluar berjalan kaki untuk cari makan malam, cari ATM dan beli groceries di daerah Novy Arbat yang tidak begitu jauh dari tempat kami menginap.

Susanna di apartment
Susanna di apartment

Dengan menggunakan aplikasi maps.me kami menemukan ATM terpercaya Citibank untuk tarik tunai yang notabene tidak satupun diantara kita yang membawa sepeser mata uang rubble. Setelah tenang pegang uang, kami segera mencari toko Megafon untuk mengisi handphone dengan sim card lokal agar tidak kena roaming. Megafon ini terkenal paling luas jaringannya dan paling murah harganya, cukup membayar 500 ruble atau kurang dari Rp. 100,000,- kita sudah bisa menikmati paket data 4gb dan telfon lokal 600 menit. Pada saat pembelian wajib untuk memberi tahu ke petugasnya ke daerah mana saja kita akan pergi selama di Russia. Karena jika tidak, sim card tersebut hanya akan aktif di kota Moscow saja. Urusan komunikasi selesai, urusan perut harus segera dituntaskan. Malam itu kami memilih untuk makan di Obed Bufet yg letaknya sederet dengan ATM dan toko Megafon di jalan  Novy Arbat. Restoran ini terkenal di kalangan warga local karena selain harganya murah pilihannya menunya juga banyak, tak heran pada saat kami datang banyak sekali warga khususnya anak muda yang sedang makan malam disini. Saya pesan nasi goreng, ikan, sayur, kue manis dan air mineral cukup bayar sekitar 250 rubble (Rp. 50,000,- /murah banget untuk ukuran makan malam di eropa). Sudah kenyang, kami pun segera menuju toserba terdekat untuk memenuhi kebutuhan groceries selama kami di Moscow seperti telur, beras, roti, jus dll. Tak afdhol rasanya kalau di Russia kita tidak beli vodka, benar saja 1 liter grey goose cuma dihargai kurang dari Rp. 300,000,- disini. Semua sudah ditunaikan dengan sempurna saatnya kembali ke apartemen. Semakin malam, suhu semakin menusuk dinginnya, berjalan sambil menggigil kedinginan merupakan pemandangan wajar disini. Untungnya kami dibekali grey goose yang terbukti tidak membuat kami hangat tapi malah sempoyongan di jalan hahaha..

Obed buffeyt, Vodka & Novy Arbat
Obed buffeyt, Vodka & Novy Arbat

Day 2 (Izmailovo - Red Square)

Entah karena jet lag atau apa kami bangun pagi itu jam 4 subuh (jam 8 pagi waktu Jakarta). Perut terasa lapar, mengingat paru goreng dan rendang yang kami bawa dari Indonesia, segera kami memasak nasi untuk menyantapnya sebagai sarapan atau bisa juga disebut sahur hihihi.. Tak bisa tidur lagi, saya pun bertiga dengan teman-teman tak ingin kehilangan momen untuk melihat suasana matahari terbit di kota asing ini. Berjalan kami sepi menelusuri jalanan yang masih terlelap ditemani suhu -12C memaksa kehidupan untuk tetap di bawah atap. Begitu penasarannya, tak sadar kami telah berjalan lebih dari 3km dan terhenti di depan sungai besar, moskwa river yang sebagian masih membeku dengan bangunan megah dihadapannya. Disini lah kami jadikan tempat untuk berfoto pagi itu.

Tak tahan bukannya semakin hangat karena matahari sudah mulai muncul malahan dinginnya sudah sampai menembus tulang, membuat kami panik segera mencari sebuah tempat hangat, kedai kopi sebutlah. Kebetulan hari itu hari minggu dan masih sangat pagi jadi akan sangat jarang kedai kopi atau restoran yang buka sepagi itu, sekitar pukul 7 pagi. Akhirnya setelah berjalan tanpa arah kami menemukan sebuah kedai kopi besar yang buka 24 jam, κoΦe xayΣ namanya atau dalam bahasa latin Coffee House. Ternyata ini adalah sebuah chain kedai kopi lokal dari Russia, kalo amerika namanya starbucks lah. Menu kopinya pun sangat variatif dan mahal, khas rumah kopi skala masal. Untuk segelas cappuccino seharga 350 rubble atau Rp. 70,000,-, ya tak mengapa lah daripada mati menggigil diluar sana. Tak terasa kami mendapat sms dari teman kami yang berada di apartemen untuk segera pulang karena sudah siang hahaha.. memang ya kalau sudah kena hangat susah banget angkat kakinya. Akhirnya kami bergegas menuju apartemen yang ternyata tidak jauh letaknya dari kedai kopi tadi. Tau gitu mendingan seduh jahe panas yang saya bawa dari Indonesia di apartemen deh daripada beli kopi mahal tadi hahaha..

Sekitar jam 11 siang kami pun sudah siap untuk jalan-jalan muterin Moscow dengan tujuan utama hari ini yaitu Izmailovo yang merupakan pusat penjualan barang2 khas Russia cocok untuk beli souvenirs, barang antik dan juga kebutuhan sehari-hari pokoknya di kompleks ini segala ada mulai dari harga receh hingga mahal, dengan kualitas massal hingga hand made. Kenapa kami memaksa untuk hari itu ke Izmailovo, karena setelah googling sebelumnya tempat ini paling cocok untuk beli oleh2 seantero Russia dengan harga jauh lebih murah dibandingkan tempat dan kota lain di Russia. Untuk bisa menuju kesana kami turun di stasiun metro Partizanskaya.

OOTD dulu yuk... :p
OOTD dulu yuk... :p

Oiya hari ini kami full menggunakan transportasi umum terutama metro jadi lah kami beli 3 days pass untuk semua jenis transportasi umum (metro, buss, trolley bus) seharga 400 rubble di stasiun dekat kami menginap, Barrikadnaya. Metro di Moscow merupakan sarana transport paling efisien mengingat jalanan yang sering macet mirip Jakarta. Bukan hanya itu saja, menjadi agenda wajib bagi kalian yang berkunjung ke Moscow untuk menikmati indahnya arsitektur stasiun metro di Moscow yang memiliki nilai sejarah tersendiri.

Akhirnya kami sampai di stasiun Partizanskaya pas jam makan siang. Keluar dari stasiun kami segera cari cemilan makan siang dan menemukan kedai kebab. Sesuai dengan namanya yang bernuansa timur tengah, di Izmailovo banyak warga yg menjual makanan khas timur tengah. Tidak begitu jauh dari tempat kami makan terlihat bangunan-bangunan cantik mirip negri dongeng yang ternyata itulah Izmailovo market. Kami terkesima akan bangunan area ini, Pasar tapi kok keren banget mirip istana dari negri dongeng ya hahaha.. Setengah hari lamanya (lama bukan karena banyak beli tapi karena nawarnya sih haha) kami habiskan dalam pasar ini untuk beli oleh-oleh ya kaos, ya matryoskhka dan tak kalah uniknya topi bulu khas Russia yang dikanl dengan Ushanka. Saya beli topi bulu yang terbuat dari bulu fox asli seharga 1500 rubble (Rp. 300,000,-), harga yang sama teman saya beli tapi terbuat dari bulu serigala.

Sudah menjelang sore kami bergegas menuju pusat kota yaitu Red Square. Dari stasiun Partizanskaya kami menuju stasiun Plotschad Revolutsii dan berjalan sejenak menuju Red Square melewati Bolshoi Theatre. Karena keterbatasan waktu yang kami miliki kami memutuskan untuk tidak memasuki Kremlin dan juga St. Basil’s cathedral. Sore itu cuaca sangat jernih dengan awan sedikit bergumul membuat cahaya biru langitnya begitu murni dengan pemandangan warna warni cantik St. Basil’s cathedral yang menjadi icon kota ini. Tak sadarkan diri kami asik berfoto di red square ini ada beberapa orang yang menertawai dan meminta foto bareng kami yang ternyata dikarenakan topi bulu (Ushanka) yang kami pakai ini. Entah apa yang membuatnya lucu tapi mereka warga lokal justru tertawa sambil berbisik-bisik melihat kami meamakainya, mirip badut apa yak?? Sore semakin dingin akhirnya kami memutuskan untuk masuk kedalam mall terbesar disini yaitu GUM dan sekalian makan malam di Stolovaya No.57 yang terkenal di kalangan warga lokal, semacam kantin khas makanan Russia. Belum selesai juga cerita mengenai topi bulu, salah seorang petugas keamanan di dalam mall ini memaksa kami menukar topi bulu yang kami pakai dengan topi bulu miliknya, hidih nehi haha.. :p Malam pun semakin larut dan dingin kami menyudahi perjalanan hari ini dengan kembali ke apartemen.

Day 3 (Metro Tour)

Hari ini merupakan hari full terakhir kami di Moscow dan berhubung banyak hutang itinerary khususnya tur statsiun metro kami putuskan untuk menuntaskannya hari ini. Lagi lagi birahi belanja belum juga terpuaskan, saya dan teman saya yang sudah mengincar salah satu brand lokal ternama Russia yaitu GJO.E menjadikannya destinasi pertama siang itu. Bukan semata-mata demi merk tapi kami mendapati kualitas jaket yang ada disini kualitas wahid banget bisa dipakai hingga -25˚C dengan model yang gak bikin kamu seperti bonken Michelin.  Fyi, selama di moscow kami tak pernah mendapati suhu diatas 2 ˚C.

GJO.E
GJO.E

Setelah puas di toko ini, destinasi kami selanjutnya adalah Moscow Cathedral Mosque yang merupakan salah satu masjid terbesar di Eropa. Untuk menuju kesini kita harus turun di stasiun Prospekt Mira, dari stasiun ini akan terlihat kubah emas di kejauhan dan berjalanlah sedikit menuju kubah tersebut di kawasan Olympic Stadium. Masjid ini dibangun pada tahun 1904 dan baru dibuka kembali pada bulan September 2015 setelah 4 tahun direnovasi pada tahun 2011 dengan salah satu alasan membenarkan arah kiblat menuju Mekah. Di dalam masjid ini terdapat pula perpustakaan dan museum, kami pun menyempatkan untuk sholat dzuhur disana.

Moscow Cathedral Mosque
Moscow Cathedral Mosque

Setelah berkunjung ke masjid ini perut terasa sangat lapar dan kami memutuskan untuk makan di restoran khas Uzbekistan yg tidak jauh letaknya dari masjid ini, namanya PanAziat Restaurant. Meskipun agak mahal untuk ukuran Russia yang terkenal murah tapi dari segi kuantitas dan kualitasnya memang mumpuni jadi ya gak kecewa lah..

PanAziat Restaurant
PanAziat Restaurant

Selesai dari kawasan ini kami berjalan kaki menuju stasiun metro Dostoyevskaya dekat dengan Russian Army Theatre. Stasiun ini merupakan salah satu stasiun metro yang wajib dikunjungi karena stasiun ini didedikasikan untuk Fyodor Dostoyevsky, salah seorang penulis ternama Rusia pada abad-19. Ilustrasi wajah dan beberapa karyanya dipajang di stasiun metro ini. Dari stasiun ini kami menuju Arbat street karena beberapa teman kami masih belum puas beli oleh2nya, mau kembali ke Izmailovo sudah tutup kalau sore. Saya dengan 2 orang teman saya pun memutuskan untuk menghangatkan diri di dalam café dekat dengat arbat street karena udah kedinginan dan kecapekan kalau hanya untuk cari oleh2 :p. Tak berapa lama sekitar pukul 7 malam kami semua sudah berkumpul kembali dan memutuskan untuk berjalan menuju Cathedral of Christ savior. Sambil berjalan diatas jembatan kami menikmati indahhnya kilauan cahaya malam kota Moscow yang indah itu. Namun entah mengapa malam itu sangat menyengat dinginnya membuat gemertak gigi kami tak terhindar. Di saat seperti inilah keberadaan Hot Pack sangat bermanfaat sebagai tindakan pertama pencegahan hypothermia karena dapat menghangatkan beberapa area tubuh khususnya tangan, kaki dan leher. Malam semakin larut kami pun bergegas kembali ke apartemen untuk beberes koper karena esok pagi-pagi buta kami harus menuju Shremetyevo Airport untuk menuju Murmansk. Untuk malam ini kami hanya makan malam cepat saji burger king saja karena udah mulai bosan dengan makanan lokal hahaha…

Sampai ketemu di cerita perjalanan kami selanjutnya di Murmansk atau yang disebut Kola Peninsula, dijamin lebih banyak petualangannya hehehe…