ETAPORAMA
DSC_0398.jpg

STORIES

stories about traveling, music, lifestyle by etaporama

Perjalanan Ke Russia (Saint Petersburg)

Saint Petersburg merupakan destinasi terpopuler di Russia melewati Moscow ibukotanya. Lekat dengan sejarah yang panjang dengan negara eropa di sekitarnya sehingga memiliki imaji lebih Europe-esque ketimbang kota lainnya, terlihat dari banyaknya kanal buatan yang menjalar di sini. Saint Petersburg ialah persinggahan terakhir kami dalam rangkaian perjalanan di Russia. Mengahabiskan waktu hanya 3 malam, karenanya tak banyak tempat yang ditelusuri.

Relapse

Day 1 (Tiba di Saint Petersburg)

Tiba di stasiun kereta Ladozskhi Saint Petersburg sekitar pukul 12 siang setelah menempuh perjalanan sekitar 23 jam dari kota kecil Apatity di Kola Peninsula. Karena pemberhentian terakhir dari jalur kereta ini maka kami tidak perlu begitu tergesa keluar dari dalam kereta. Namun tak diduga ada 2 orang berbaju bebas sudah menunggu di depan gerbong tempat kami turun, sekejap teman saya menyiapkan dokumen perjalanan (karena siapa lagi kalau bukan petugas imigrasi atau apalah namanya). Herannya dua orang ini begitu detail, bertubi tubi bertanya seakan kami tidak mengetahui aturan yang berlaku, sampai sampai salah satu diantara kita harus menyerahkan handphone untuk di scan nomor IMEI nya, duileh! Setelah selesai saya pun kembali balas ngerjain mereka dengan meminta tolong foto kami berulang kali bersama Sergey dan anaknya (Orang Russia yang banyak menolong dan bercerita selama di dalam kereta) hahaha..

Selanjutnya kami menuju penginapan dengan menggunakan layanan antar jemput oleh Linggo Taxi (lebih mahal dari Kiwi taxi), inget ya ada harga ada mutu – mobilnya lebih bagus, supirnya juga bisa bahasa inggris yang ujung ujungnya nawarin city tour yang kami iyakan untuk mengisi aktiitas malam ini.

Setibanya di apartemen tempat kami menginap ternyata ruangannya sedang dibersihkan. Sembari menunggu ruangannya siap ditempati kami bergegas mencari makan siang yang tujuan utamanya adalah KFC. Tentu saja resto andalan tersebut merupakan incaran kami saat traveling ketika sudah mulai bosan dengan menu lokal yang awalnya dielu-elukan enak. Dengan biaya hidup yang lebih murah dari Jakarta, harga menu KFC nya pun juga lebih murah terbukti dengan 3 potong ayam yang ukurannya lebih besar daropada disini lengkap dengan kentang dan soft drink cukup membayar 185 rubel atau kurang dari Rp 40,000,-.  Dalam perjalanan ke apartemen kami membeli buah2an yang juga terbilang murah dibanding di Jakarta

Apartemen yang kami tempati terletak di ujung jalan Nevsky Prospekt yang merupakan pusat hiburan/belanja/landmark Saint Petersburg namun dekat bus station, jadi kemana mana gampang tinggal bayar 30 ruble jauh dekat. Dibanderol 1 juta permalam oleh Airbnb untuk 6 orang, apartemen ini layaknya mansion lengkap dengan fasilitas sauna di dalam kamar mandi. Udah lah murah, mewah pula, kalau pun harus bekerja di Saint Petersbug boleh gak ngontrak disini aja, kece berat!

Kala petang kami bergegas ke sebuah landmark paling terkenal disini yaitu Church of the Saviour on Blood untuk mengambil foto sebanyak mungkin mulai dari terang hingga gelap dari berbagai sudut meskipun hasilnya ya gitu gitu aja :P. Tak terasa dingin kian menusuk, sepupu saya pun menelfon kami yang sedang asik foto untuk bersiap siap dijemput oleh Egor sang supir dari Lingo Taxi untuk city tour. Kenapa tournya malam malam? Kalo siang kata dia macet banget dan kalau malam lampunya itu atraktif, okelah. Egor pun cerita panjang lebar mengenai tempat bersejarah dari dalam mobil sambil melewatinya, satu diantara kami pun sudah terlelap entah bosan atau kelaparan. Kami pun berhenti di Saint Petersburg Mosque yang dibangun oleh orang keturunan Tatar Kazan. Memiliki sejarah yang erat dengan Khan of the Kazan menurut Egor justru banyak orang yang terbilang mampu dari kalangan Kazan karena mayoritas pedagang, tahu sendiri karakter orang Russia itu, “manja”. Setelah itu kami berhenti di dekat Peter and Paul Fortress yang merupakan cikal bakal kota Saint Petersburg. Tour ini selesai sekitar pukul 10 malam dan kami sudah kelaparan. Kebab dekat hotel kebetulan masih buka dan kami makan bersama Egor yang saat itu tidak mau sama sekali ditraktir. Gak cuma Egor saja, beberapa orang Russia yag kami temui enggan untuk dibayari makanannya, atau malah tersinggung? Entahlah disitu kita bisa mendapat nilai positifnya.

Day 2 (St Petersburg Tour)

Jadwal kami di Saint Petersburg sangatlah santai atau bisa dibilang tanpa tujuan sangking santainya baru saja keluar apartemen kami berjalan menjumpai café langsung melipir untuk ngopi dan menghangatkan badan dalam waktu cukup lama lho.. hahha lalu kami lanjutkan foto2 di depan Kazan cathedral yang lebih menyerupai benteng ketimbang cathedral.

Tak betah berlama lama diluar kedinginan, atas keinginan yang lainnya lagi lagi kami menuju sebuah toko yakni Singer House/Dom Knigi yang merupakan toko buku terbesar di Saint Petersburg yang gedungnya dimiliki oleh perusahaan mesin jahit Singer asal Amerika. Tak hanya buku segala macam cinderamata berkualitas pun ada disini.

Kalau udara dingin memang harus siap siap terus kelaparan hingga lepas dari Dom Knigi kami menuju sebuah restoran yang sudah ada list yaitu Jack & Chen. Sebuah restoran hip yang menyajikan masakan Thailand, siapa juga yang tidak suka masakan Thai?! Meskipun terbilang agak mahal jika dibanding restoran cepat saji namun demi melepas kerinduan akan makanan Asia kami menyantap dengan lahap meskipun rasanya tidak se-fantastis jika makan di negara asalnya.

Untuk menghabiskan waktu tanpa rencana ini kami menuju The Hermitage menggunakan metro namun sayang waktu itu sudah terlalu sore sehingga museumnya sudah tutup, jadilah kami nongkrong di pinggir sungai Neva sambil menikmati indahnya kerlap kerlip lampu jembatan layaknya atraksi lampu menara Eiffel.

Dalam perjalanan pulang kami mengincar salah satu kedai burger yang tampak menarik tidak begitu jauh dari apartemen kami menginap. Dengan muka kelaparan dan kelelahan sang pramusaji melayani kami dengan sangat ramah dan sedikit membuat percakapan yang ujung ujungnya mereka senang dan memberikan kita French Fries gratis sebagai “Gift From Insitutution” – katanya, entahlah maksudnya apa mereka bicara seperti itu hahaha.. mungkin KGB/FSB menyesal membututi kita dengan mengecek dokumen di setiap kota dan membalasnya dengan kebaikan lewat restoran ini, konspirasi! Hahaha..

Day 3 (Catherine Palace)

Merupakan hari terakhir kami di Saint Petersburg dan tujuan utama saat itu adalah mengunjungi Catherine Palace yang terletak di kota Pushkin, 30km dari Saint Petersburg. Berhubung letaknya jauh, meyewa kendaraan atau menggunakan taxi merupakan opsi yang mahal. Oleh karenanya kami menggunakan transportasi umum yang rutenya: naik metro hingga pemberhentian Moskovskaya lalu lanjut menggunakan Marshrutka (sejenis angkot) nomor K-342 atau K-545 menuju ke halaman Catherine Palace. Meskipun saat itu musim dingin antrian masuknya masih cukup panjang dan hanya beberapa gedung yang dibuka. Anda dapat menggunakan jasa audio guide seharga 100 ruble untuk mendengarkan informasi sejarah tempat ini. Tak hanya koleksi inetriornya saja yang menarik namun taman diluarnya pun layak untuk dinikmati seperti Alexander Park, Chinese pavilion dll. Saya bersama teman saya memburu sebuah jembatan yang sangat epic jika difoto, yaitu Krestovy Bridge. Namun cuaca saat itu tidak sedramatis ketika kami melihatnya di Instagram, keadaanya kering layaknya habis dibom nuklir tanpa salju meskipun sungai dan danaunya masih membeku. Hari berangsur senja kami pun bergegas kembali ke Saint Petersburg takut Marshrutka nya sudah tidak beroperasi. Kenyataannya kami bertemu warga lokal yang juga ingin menuju satasiun metro Moskovskaya dan mereka menyarankan untuk naik bus bersama meraka ketimbang naik Marshrutka.

Sesampainya di Saint Petersburg sebagian dari kami memutuskan untuk makan malam yang decent yakni makan Beef Stroganof di restoran bernama Stroganof atas saran dari Trip Advisor. Meskipun lelah berjalan kaki mencari alamatnya sambutan ramah oleh manajer restoran membuat kami tergugah. Setelah berbincang mengenai perjalanan kami padanya khususnya mengenai Murmansk beliau makin senang karena dia berasal juga dari Murmanskjuga, sampai sampai kami dibawa tur ke dapur dan berkeliling masuk ke semua ruangan yang menurutnya punya nilai sejarah, ya dulunya merupakan kandang tempat para bangsawan menyimpan kudanya. Tak berhenti disitu , setelah kami kekenyangan makan, segala minuman hingga kue menutup diberikan gratis sebagai “Gifts From Instution” lagi lagi! Baru kali ini ke Negara banyak banget dapet gratisannya. Makasih Russia!!

Day 4 (Kembali ke Jakarta)

Hari dimana kami kembali ke Indonesia, dengan menggunakan pesawat S7 kami menuju kembali ke Moscow untuk mengejar pesawat Vietnam Airlines menuju Kuala Lumpur via Ho Chi Minh dan berpindah pesawat lagi menuju Jakarta. Pajang yess! Namanya juga tiket promo hahaha..

See you in my next journey

Mau tanya tanya silahkan, tapi googling dulu aja deh :p