ETAPORAMA
DSC_0398.jpg

STORIES

stories about traveling, music, lifestyle by etaporama

South Korea

Short Trip to South Korea Rencana pergi ke south korea bagi saya awalnya tidak masuk dalam bucket list traveling saya, karena saya prefer Jepang, namun berhubung ada sahabat yg ngajakin pergi tergoda juga jadinya ikutan dan kebetulan waktu itu ada promo Early Bird Garuda yang memasang harga tiket 350 USD/ orang. Walhasil dengan sigap saya dan sahabat2 saya memburu tiket itu untuk kepergian bulan November 2012, kami beli sekitar bulan April-Mei, pokoknya 6 bulan sebelumnya. Memang disengaja untuk perginya saat Autumn (Nov 2 - Nov 7 2012) karena pengalaman kalo pergi Autumn itu masih low season (Hotel, tour, dll. turun harga) ditambah udaranya dingin (a must!) dan pepohonan yang berwarna warni, sebuah pengalaman yang gak bakal didapat di Indonesia hehehe.. Sembari menunggu kepergian kami sampai ke pengurusan Visa, tiap hari kami observe via internet mengenai tempat2 yg bagus utk dikunjungi disana. Oia, ini adalah salah satu kunci suksesnya kita kalau mau liburan itu berkesan, harus prepare jauh2 hari. Mungkin kawan2 ada yang beranggapan namanya liburan ya Expect the Unexpected lah.. Namun menurut saya, berhubung saya kalo liburan gak bisa terlalu lama (1-2 bulan kayak orang bule) jadinya harus well planned dan harus ada plan A-B-C. Meskipun udah well planned tetep saja ada miss nya..

Akhirnya kami sampai pada tahap pembuatan Visa untuk tourist South Korea atau Republic of Korea. Biaya yang kami keluarkan untuk mengurus visa waktu itu Rp350K, legally 30 USD aja sih, berhubung kami ngurus lewat travel (Dwidaya tour) yaa lebih-lebih 50rb gpp lah itung2 ongkos bensin, So far pembuatan visa nya mudah dan cepat (3 harian jadi) selama dokumennya lengkap ya. Perjalanan kali ini kami tempuh dalam waktu 5 hari efektif, cukup singkat sih memang, mengingat jatah cuti yg udah menipis hehehe..

Hari Pertama

Perjalanan dimulai jam 12 malam tanpa delay by Garuda Indonesia - One thing that Indonesia can be proud of :p Sampai di Incheon int’l airport jam 8 pagi (Jam 6 pagi WIB). Fyi, Incehon airport ini merupakan World’s Best airport versi Skytrax lho hmm..bagus sih tapi gak tau juga bedanya sama Changi ya.. sama-sama bagus dan easily accessible. Setibanya di airport tanpa kendala melewati immigrasi kami menuju ke Speed Train (AREX/Airport Railroad Express) yang menghubungkan airport ini dengan beberapa station di Seoul. Oia di lobby tempat kami merokok sempet ketemu sama om Dalton Tanaka lho, sempet ngobrol juga tapi bikin maluu soalnya awalnya pake bahasa Indonesia kirain dia bisa haha.. Oia saran saya untuk download aplikasi JIHACHUL yg sangat berguna banget buat jadwal kereta/subway dan fungsi2 lainnya. Harga tiket AREX ini ke downtown Seoul sekitar 3700 won atau Rp.35K (harga 2012). Waktu itu kami belinya T-Money card yg kami top up sampai 30.000 won dan bisa kami pakai untuk naik train,bus, dan belanja di convenience store di kota Seoul. Dari Incheon kami menuju hotel tempat kami menginap di kawasan Ewha University dengan nama station yg sama, kalo menggunakan MRT harus interchange dulu di Hongik University Station untuk kemudian melanjutkan ke line 2 . Waktu tempuhnya lumayan singkat kurang dari 1 jam mengingat Incheon ini jauh letaknya dari Seoul. Kami menginap di salah satu budget hotel di kawasan Ewha ini, namanya Shinchon Hostel. Kenapa kami memilih daerah ini instead of Myeongdong (Shopping area) karena disini terkenal akan student marketnya dan juga banyak cafe2 yg sering dipakai untuk shooting drama korea haha.. Well I’m not a Korean fanboy actually. Setiba di hotel kami langsung mandi dan bergegas keliling tourist attraction di kota Seoul mumpung masih belum kesiangan. Kami mulai dengan mengunjungi Gyeongbokgung Palace. Lucunya selama perjalanan banyak banget dipinggiran jalan entah toko atau pagelaran musik nyetelnya lagu gangnam style, bahh!!! Bosaann..

Emang yg namanya rejeki gak kemana ya.. setiba kami di Gyeonbokgung pas banget lagi ada pergantian penjaga istana, pertunjukan yang sangat menarik perhatian. Dan kagetnya kami berlima disuruh salah satu coordinator upacara menjadi pemberi sinyal kepada pengawal2 tersebut untuk berganti shift, 2 kali teriak gagal, katanya kurang kenceng, yang ketiga baru deh pengawal itu mau bergerak sampe suara kita abis hahaha.. Lupa sih disuruh teriak apa, bahasa korea gitu lah pokoknya. Lucu!

Karena hari udah siang dan tentunya lapar ditambah udara yang dingin menusuk sekitar 8C, kami segera mencari tempat makanan yg sudah kami incer sebelumnya, yaitu Samgyetang. Info: Samgyetang adalah salah satu menu makanan khas Korea, tampilannya semacam hot pot yg berisi ayam utuh yg disumpelin nasi di dalamnya dengan kuah/broth ginseng. Hanya ada satu tempat di Seoul ini yang terkenal menjual Samgyetang enak, karena info dari temen2 yg udah pernah ke Seoul rata2 bilang Samgyetang itu gak enak, ya no wonder karena mereka gak ke tempat yg kami tuju ini sih.. OK, kami pun segera mencari restoran tersebut, nyasar sana sini - kaki udah gempor – dinginnya menusuk, banyak orang juga gak tau pasti lokasinya, akhirnya kami bertemu dengan seseorang wanita baik hati yang ngasih petunjuk lokasi restoran itu sampai dianterin ke depan pintunya padahal jalannya lumayan jauh lho haha… Oia warga Korea ini memang terkenal sangat ramah dan helpful. Ciri khasnya: kalau kita nanya sebuah alamat mereka pasti akan membuka gadget mereka, Samsung pastinya, dan buka aplikasi GPS, semua begitu hahaha… Pokoknya lokasinya gak jauh2 banget dari Gyeonbokgung palace ini kok, bisa jalan kaki aja. Kesan pertama yg kami dapat dari restoran ini adalah sebuah rumah tradisional korea yg cantik, didalamnya ngantri orang beli buat dibungkus..dalam hati ini pasti enak. Akhirnya kita dapet seat juga dan memesan menu andalan tempat ini. Ada beberapa jenis ayam yg dijual, yg paling mahal adalah jenis Ayam Hitam, kita pesen yg medium aja, 1 whole chicken harganya 15.000 won. Nama restorannya yaitu Tosokchon. 1 set makananan dikasih desert gratis yakni Soju, sejenis minuman keras khas Korea yg rasanya mirip obat batuk, se sloki aja udah lumayan bikin teller hehehe…

Dari Tosokchon kami lanjutkan perjalanan menuju Namsan Tower menggunakan subway. Dari sini kita bisa melihat kota Seoul ditambah citylight nya. Tapi untuk menuju ke atas bukitnya kita harus naik Gondola dulu seharga 8000 won. Oia kami juga sempet keteteran nyari alamat station gondola ini sampai sampai kami diantar salah seorang warga local ke station tsb, baik banget yaa padahal dia kelihatan lagi ada keperluan juga sama temen2nya, mana jalanannya nanjak banget lagi.. fyuhh.. Di Namsan Tower ini terdapat tourist attraction lainnya yaitu gembok cinta. Jadi kalau kalian lagi pacaran atau dah married gak ada salahnya naro gembok disitu juga plus nama kalian supaya langgeng mitosnya, Amiin.. Selesai dari Namsan Tower kami menuju ke Cheonggyecheon Stream, karena disini lagi ada lantern festival. Lantern festival ini diadakan setiap tahun biasanya Autumn bulan November, pas banget dah. Lantern atau lampion hiasnya kreatif2 deh karena ditaruh di atas aliran sungai kecil gitu.. Sudah puas kami berjalan dari ujung ke ujung sungai akhirnya kami menyudahi perjalanan untuk hari itu.

Hari Kedua (Nami Island)

Perjalan hari ini kami mulai pagi hari ke Nami Island, padahal menurut plan itinerary kami hari ini harusnya kami ke Suwon plus shopping spree di Seoul city namun melihat weather forecast yg menunjukan kalo beberapa hari kedepan di Nami akan terjadi hujan, kita meumutuskan untuk mempercepat kepergian ke nami, mumpung hari ini cerah sumringah. Dari tempat hotel kami menginap kami menaiki subway menuju Nami island ini dengan beberapa kali interchange, 1 atau 2 maks, lupa juga harga tiketnya soalnya langsung di deduct pake T-Money sih. Oia perjalanan ke Nami ini pasti akan menggunakan Scenic Railroad yg mana di sepanjang perjalanan ke Nami akan ditemukan stasiun2 utk spot liburan bagi turis baik local maupun asing di luar Seoul. Setibanya di Gapyeong station kami kebingungan naik apa ke Nami islandnya tersebut, karena cukup jauh kalo berjalan kaki, taxi gak ada, bus juga gak ada. Fyi, Karena pasrah gak dapet sarana transportasi akhirnya kami memutuskan jalan kaki saja sampai ke tempat penyebrangan ferry, jauh memang tapi fun dan gak bikin keringetan karena saat itu udaranya dingin banget dibawah 10 C. Di tengah perjalanan perut sudah gak bisa kompromi, akhirnya kami menemukan sebuah restoran kecil yang ramai dikunjungi warga local, kelihatan dari parkiran nya yang penuh hehehe.. dan aroma masakan yg tercium sampai keluarslrlrlrp.. tanpa pikir panjang kami mampir untuk makan siang disini, kebetulan menu yg disajikan yaitu Dakgalbi sejenis ayam yg ditumis dicampur dengan sayuran dan nasi di dalam satu wadah dengan bumbu khas Korea yang berwarna merah itu. Sumpah serapah ini makanan enak bangettt super tasty and bit spicy! Cocok buat udara dingin macam itu. Eh lucunya, karena kami kebingungan cara masaknya (karena harus masak sendiri, kita cuma dikasih bahan mentahnya aja), orang yg ada di meja samping kayaknya kasihan lihat kita, sampai akhirnya ada ibu sebelah ngebantuin kita masakin. Duh helpful banget sih orang Korea ini!!! Meskipun si ibu gak bisa bahasa inggris tetep aja dia ngoceh nanya ini itu dengan ramahnya, untung ada anaknya yang bisa bahasa inggris, akhirnya kami menggunakan jasa interpretasi dia. Eh salah satu temen saya ada yg kepincut lho sama anak nya tadi hahahha.. Harga Dakgalbi tadi per orang 8000 won.

Sudah kekenyangan akhirnya kita melanjutkan perjalanan ke Nami Island, sepanjang jalan menuju Nami Island itu macet stuck oleh kendaraan pribadi dan bus2 tour, untung juga kami jalan kaki, malah lebih cepet nyampenya. Oia, saya heran juga kenapa tempat ini begitu ramai ya.. Saya baru ingat ternyata saat itu hari Sabtu dimana banyak keluarga pergi untuk liburan. Jadi saran kalau bisa hindari ke Nami Island ini disaat weekend otherwise kita akan kesulitan cari public transport dan lama ngantri masuk ke island tsb. Sesampainya di pintu gerbang Nami Island kami menunjukan passport supaya bisa dapet diskon tiket masuk nya hehe.. kalo nggak juga gpp sih, soalnya Nami ini sebenernya punya otoritas sendiri diluar Negara Korea, semacam Negara kecil didalam Negara gitu lah. Harga tiket 8000 won sudah termasuk ferry bolak balik. Sesampainya di Nami Island kesan pertama saya adalah sebuah pulau kecil di tengah danau yg dipenuhi oleh hutan2 dan taman nan romantic, gak heran tempat ini dijadikan tempat untuk shooting drama korea Winter Sonata. Berhubung saat itu adalah autumn jadi pepohohan disini berubah warna warni daunnya, indah sekali.

Tempat ini sangat relaxing, jadi selama disini ya saya hanya menikmati duduk2 di padang rumput sambil menikmati udara yg segar dan pemandangan yang indah. Disini juga bisa sewa segway sejenis otopet bermotor seharga 13000 won ½ jam, lumayan daripada pegel jalan kaki keliling pulau. Hari pun mulai gelap kami memutuskan untuk pulang ke Seoul. Gilaa mau keluar pulau nya aja kayak antri BLT, puanjaaang buangett ada 500 m lebih, eh jangan coba coba nyelak antrian ya bisa diarak massa nanti. Keep polite, obey the rules and enjoy the moment, even though your calf might be hurt like hell after long day wandering. Tenang..di Seoul ada dijual patch anti fatigue tinggal beli di pharmacies terdekat. Kami berempat melanjutkan makan malam di area Gangnam, sementara 1 teman memilih untuk kembali ke hostel duluan karena sudah terlalu lelah. Kami makan di salah satu bar yg cukup ramai dikunjungi para kawula muda, makan nya Chicken wings & Beer, abisnya kebanyakan orang disitu pesen itu sih. Harganya lupa berapa, udah keburu mabok bir kali ya -__-"

Hari Ketiga

Hari ini kami check out dari Shichon Hostel karena sesuai jadwal hari ini kami akan ke Busan, sebuah kota kedua terbesar di Korea. Berhubung kami cuma 2hr/1 malam di Busan, kami menitipkan koper di hostel tersebut toh akan balik lagi ke hostel ini setelah dari Busan. Jadi kami hanya perlu membawa backpack saja. Harga tiket dari Seoul ke Busan ini 57000 won dengan menggunakan kereta super cepat (300km/hr) atau disebut KTX-Korea Train Express. Mahal sih memang, tapi mengingat waktu tempuh yg cuma 2 jam dan pengalaman naik train super cepat gak ada salahnya bayar lebih.

Setibanya di Busan Station kami langsung mencari bus Hop on Hop off seharga 8000 won, bus ini sudah meliputi beberapa pemberhentian tourist attraction di kota ini, termasuk pemberhentian dekat hostel tempat kami menginap yaitu Indy House. Lagilagi di bus ini kami bertemu dengan warga local yg super ramah sampe2 mereka minta foto bareng sama saya hahaha… Akhirnya kami segera check ini dulu di hostel tersebut sebelum melanjutkan perjalanan kami. Indy House ini terletak di pusat hiburan dan dekat dengan jajanan pasar di kota Busan dan juga dekat dengan pantai Haeundae. Bagi yang suka thematic hostel ini bisa jadi salah satu pilihannya karena kamar2 disini berbeda2 temanya dan berwarna warni lucu banget.

Setelah check ini dari hotel kami menuju ke Haedong Yonggungsa Temple menggunakan public bus. Temple ini berada persis di tepian laut jadi memang keren banget pemandangannya. Sayang sekali waktu itu hujan jadi kami hanya sebentar disana dan memutuskan untuk kembali ke kota Busan untuk menikmati suasana kota sambil nongkrong2 di area Gwangali Beach. Di kota ini kami sempatkan untuk mengunjungi Centum City sebuah mall yang terdapat department store terbersar di dunia yakni Sinsegae, dinobatkan oleh Guinnes Book of World Record mengalahkan Macy’s di New York. Di dalam mall ini juga terdapat museum Madame Tusssaud’s. Setelah seharian capek jalan kami kembali ke hotel. Sembari jalan kami juga sempatkan meniyicipi jajanan pasar di Heaundae night market dekat hostel kami menginap.

Hari Keempat

Berhubung 1 kamar diisi 5 orang kami sudah bangun dari subuh untuk ngantri mandi.  Hari ini kami akan melanjutkan perjalanan ke Gyeongju dan check out dari Indy House. Dari hotel kami menuju Nopo Dong bus station (masih di Busan juga) menggunakan train-orange line. Dari Nopo Dong station kami lanjutkan ke Gyeongju menggunakan bus seharga 4500 won, yang ditempuh dalam waktu 1 jam 10 menit dan tiba langsung di stasiun tengah kota. Nyaman sekali bus ini karena seatnya 2-1 jadi cukup lega bagi kami. Sesampainya di Gyengju bus station kami menuju torist information dan mencari info mengenai bus tour keliling kota ini, lokasi information centre nya tepat berada di samping bus station. Oia, Gyeongju merupakan sebuah kota kecil yg dinobatkan sebagai UNESCO World Heritage. Akhirnya kami mendapatkan tour bus dari tourist information centre ini dan diharuskan membayar 15000 won (course 3) tidak termasuk tiket masuk ke tempat atraksi lho ya.. untuk tiket masuknya kita harus nambah lagi 21000 won klo gak salah. Di dalam tour ini sudah termasuk semua tempat2 yg harus dikunjungi yg ada di dalam list UNESCO world heritage seperti: Gyeongju Bus Terminal (11:00) → Poseokjeong → Daereungwon (Cheonmachong) → Cheomseongdae → Seokguram Grotto → Bulguksa Temple → Bomun complex (pass) → Gyeongju Station → Gyeongju Bus Terminal.

Tour ini selesai pukul 6 sore. Oia kalo bisa sih kita sebelum tour ini sudah makan atau bawa snack sendiri jadi gak kelaperan tengah jalan karena gak dikasih waktu buat makan. Oia jangan kecewa juga, tour guide nya cuma pake bahasa korea, karena ini dikelola oleh pemerintahan local. Tapi overall ini recommended banget jika dibandingkan kita pergi sendiri naik public transport, karena lebih effisien dan efektif, semua tempat wisata di gyeongju basically dilalui oleh public bus nya mereka, tapi nunggu bus nya lama banget, bisa juga sewa sepeda, cuma yah kalo ke bulguksa dan sokguram grotto naik sepeda bisa gempor, karena jalanannya nanjak keatas bukit. Saya bisa bilang bahwa tour ini merupakan highlight dari perjalanan kami selama di Korea, karena disini kita bisa lihat tempat2 sejarah yg begitu indah yg masih sangat terawat dan asli. \

Setelah selesai tour kami kembali ke bus station dan mencari makan malam disana dan akhirnya jam 7 malam kami pulang kembali ke Seoul dengan menggunakan bus seharga 19500 won yang ditempuh dalam waktu 4 jam lebih dan tiba di Seoul station jam 11, sangat tepat waktu. Bus nya juga lumayan enak tapi kali ini seatnya 2-2 namun bisa reclining sampe belakang banget jadi sekalian bisa tidur nyenyak hehehe.. Tengah malam kami sampai di Seoul dan late dinner di lotteria sebelum kembali ke Hostel tempat kami menginap sebelumnya di Shinchon Hostel.

Hari Kelima

Ini merupakan hari efektif terkhir kami dalam perjalanan di Korea ini. Pagi2 kami sudah mulai menelusuri daerah Ewha University  dan Hongdae yg sebelumnya belum sempat kami jamah. Dan kita pun mengunjungi Trick Eye Museum yang letaknya tidak begitu jauh dari hotel kami. Museum ini unik sekali dari museum yg ada pada umumnya, karena didalamnya terdapat koleksi2 seni yang unik membuat mata kita tertipu jika melihatnya haha.. Harga tiket masuknya 15000 won.

Setelah selesai mengunjungi trick eye museum ini kami menuju daerah Myeongdong, sebuah shopping area dari berbagai macam brand. Oia dari museum tadi kami bertemu dengan rombongan keluarga asal Malaysia yg akhirnya ngikutin kemana kita jalan hehe dan mereka pun ngikut ke Myeongdong. Sesampainya disitu kami segera cari makan siang dan ketagihan sama yg namanya Dakgalbi tadi akhirnya kami menemukan restoran yg menjual dakgalbi namanya Yoogane. Eh tapi keluarga Malaysia tadi gak mau ikut makan kita dengan alasan takut gak halal hohoho.. yaa kalo kita sih prispinya selama gak makan babi ya gpp, susah juga kalo sampai segitunya sih nanti ujung2nya kebanyakan bawa bekel dari Indo lagi. Harga dakgalbi di yoogane pun sama seperti di Nami 8000 won per orang. Tapi kali ini temen saya pesannya extra pedas, arrggh gak terlalu enak jadinya karena terlalu pedas menurut saya. Lebih enak yg di Nami dari segi rasa dan bumbunya. Selesai makan kami lanjutkan untuk shopping spree di kawasan myeongdong, hmm.. menurut saya sih sama aja koleksi barang-barang nya dan lebih mahal ya jika dibandingkan di Bangkok atau Kuala Lumpur. Kalo temen saya sih puas banget beli kosmetik made in Korea secara kalo di Indo harganya berlipat lipat katanya udah gitu banyak free gifts nya haha..

Selesai belanja ditempat ini kami lanjut ke Insadong, sebuah kawasan yang terkenal akan jualan souvenirs nya. Disinilah saya baru bisa belanja hahaha buat oleh2 soalnya bukan buat pribadi. Ada juga barang2 modern disini kok gak melulu barang tradisional karena ada semacam mall gtu yang menujual barang2 seni modern, namanya Ssamziegil, yang ini saya suka. Selesai dari Insadong kami kembali ke hotel untuk mandi. Selesai itu kami lanjut cuci mata lagi ke Doota Mall, sebuah mall yg buka 24 jam 7 hari seminggu.. Di mall ini kebanyakan barang2 designer Korea jadi wajar aja harganya juga mahal-mahal. Kita disini sampe jam 2 an pagi gitu lah dan akhirnya kembali ke hostel untuk packing barang2 karena besok kami sudah harus pulang ke Jakarta, flightnya jam 10 pagi, kebayang deh buru2nya kayak apa, yaa mending gak usah tidur aja sekalian biar tidur pules di pesawat.

Hari keenam

Merupakan hari dimana kita harus balik ke Jakarta. Dari hostel jam 7 pagi kami naik shuttle bus ke airport di Incheon. Kebetulan juga bus stop nya berada tepat di sebrang hostel kami dan yg mengejutkannya, hostel kami memberi diskon 1000 won jika naik shuttle bus itu, yang tadinya kami harus bayar 11000 won ke airport jadi kami hanya harus membayar 10000 won saja hehehe. keren juga ini hostel. Oia saya juga belum cerita ya bahwa hostel ini menyediakan jasa penyewaan mobile wifi, jadi kita bisa bawa wifi kemana-mana tanpa harus ganti sim card. Per harinya cukup 5000 won untuk unlimited quota. Tapi setelah saya alami, Korea khususnya Seoul ini wifi friendly banget, dimana-mana kita bisa akses wifi gratis dari mulai di jalan, di dalam bus,  di subway, shopping mall dan tempat2 umum lainnya banyak banget yg nyediain wifi sampai di komplek kuburan raja yang ada di gyeongju pun menyediakan free wifi, Hebat! Satu2nya yg menurut saya Negara paling wifi friendly! OK sekian dulu cerita perjalanan Korea saya. Semoga bermanfaat dan jangan sungkan untuk post comment jika ada pertanyaan atau yg lain.. Annyeong Higaseo!!!!

 

Cheers..