ETAPORAMA
DSC_0398.jpg

STORIES

stories about traveling, music, lifestyle by etaporama

Tibet

DSC_0526-1.jpg

Hello semuanya..Saya telah memulai campaign untuk sebuah penggalangan dana bertujuan memproduksi sebuah pictorial book berjudul Tibet -Beyond Reverie- (Menembus Angan), sebuah buku yang mayoritas berisikan foto dari perjalanan saya ke Tibet dengan tambahan deskripsinya. Dana yang terkumpul via Kickstarter akan dijadikan modal untuk mencetak photobook secara mandiri dengan kualitas mumpuni. Kalian sebagai penyumbang dana (backer) akan mendapatkan imbalan/rewards sesuai paket yang dipilih. 

Caranya mudah: •klik link berikut https://www.kickstarter.com/…/tibet-beyond-reverie-menembus… •sign up menggunakan email atau pop up facebook. •pilih reward yang diinginkan. •masukan data kartu kredit kalian.

Note: -dana tidak akan ditarik sebelum campaign ini berhasil memenuhi target/goal. - teman2 dari Indonesia yg ingin menjadi backer/donatur silahkan menghubungi jaringan pribadi saya (jika ada permintaan khusus). - data pribadi, alamat pengiriman dan permintaan khusus (jika ada) akan dikumpulkan pada saat survey berlangsung yaitu sehari setelah masa kampanye selesai dan jika terdanai penuh.

I really wish that you all can involve in this project. Thank you very much in advance to the backers!

I'm very pleased if you can repost this campaign on your social media.

Cheers!!

Apa yang ada di benak saya ketika merencanakan perjalanan ke Tibet (China) adalah sebuah perjalanan yang menantang fisik karena harus berhadapan dengan kondisi alam pegunungan Himalaya yang tidak begitu ramah. Namun pada kenyataannya lebih daripada itu, tempat ini menawarkan sejarah budaya yang begitu kaya, sampai2 fokus saya bercabang ketika berada disana. Perjalanan kali ini agak berbeda dari perjalanan2 saya sebelumnya karena dilakukan oleh jumlah orang yang lebih banyak daripada biasanya (kami pergi ber 6 yg biasanya saya lakukan berdua dengan sahabat traveling saya Rudy atau maksimum 4 orang dengan sahabat saya sejak kecil, Yane dan sepupu saya, Kak Lia). Jujur agak sulit merencanakan sebuah perjalanan dalam jumlah anggota yang banyak dikarenakan berbagai hal, terutama waktu. Namun kali ini perencanaan berjalan begitu mulus karena semua orang mempercayakan 100% kepada saya hahaha..jebakan batman... Saat itu saya pergi bersama Rudy dan 4 orang sahabatnya yang belum saya kenal sebelumnya (kak Nday, kak Mey, kak Tipa dan kak Seno). Sengaja menyebutnya "Kak" supaya berkesan saya paling muda sendiri :p hahaha.. Sungguh menyenangkan berkenalan dengan teman2 baru apalagi kalau punya hobi yang sama dan kebetulan sahabatnya Rudy ini seru semuanya dengan ciri khas karakter masing-masing yang saling melengkapi.

Baiklah saya akan mulai memperinci mengenai detail perjalanan saya seperti perjalanan2 yg sudah saya ceritakan sebelumnya. Kali ini kami memulai dengan perjalanan dengan mengunjungi Tibet terlebih dahulu selama 8 hari, lalu di lanjutkan dengan Nepal 10 hari . Kebiasaan wisatawan pada umumnya adalah Nepal terlebih dahulu kemudian Tibet dan kembali ke Nepal, dengan alasan berbagai macam. Namun menurut saya perjalanan seperti itu tidak efektif berdasarkan waktu terbatas yang saya miliki. Kalau dari Indonesia tidak ada penerbangan ke Lhasa (Tibet) jadi saya harus mampir ke kota Chengdu dulu, kota besar terdekat menuju Lhasa dan menginap 3 malam disana.

Tibet Tour

Oia pada saat pengurusan visa China jangan menjelaskan kalau kita mau ke Tibet bisa2 gak dikasih nanti visanya, bilang aja mau jalan2 di China selama kurun waktu yg meliputi Tibet. Alasannya karena situasi politik di Tibet yang membuat kawasan ini perlu penyaringan ketat untuk bisa masuk. Nah, ketika sudah dapet visa China baru deh lempar visa tersebut ke travel agent yg akan ngurusin perjalanan kita di Tibet karena dia juga harus mengurus Tibet Permit dan harus melampirkan visa China, gak bisa ujug2 langsung buat Tibet permit. Untuk mengunjungi Tibet saat ini harus mengikuti tour, tidak boleh pergi tanpa guide tour jadi agak susah buat backpacker-an. Tapi gak usah takut ada beberapa paket tour dari agent di Tibet yg ramah sama dompet juga kok.

Baiklah saya akan mulai bercerita mengenai perjalanan saya disana dari hari kehari yang saya jalani dr tanggal 30 Oktober sampai 18 November 2014 (bulan terbaik ke 2 tempat ini menurut cuaca yg telah saya alami, gak ada hujan sama sekali dan langitnya bolong terutama di Tibet), mudah2an gak bosan bacanya hahaha..

Chengdu-Miyaluo 

Malam dini hari kami tiba di Chengdu dan menginap di hotel Xiangyu yg letaknya di komplek Airport jadi gak begitu jauh dari bandara karena pagi2nya kami udah tour ke kawasan Miyaluo – Bipenggou National Park. Harga hotelnya termasuk yg paling murah di airport sekitar Rp. 400K (2org), tapi jangan harap untuk bisa membayar dengan credit card (Cash CNY only) dan staff nya pun nggak bisa bahasa inggris namun fasilitas nya OK banget dengan free antar jemput ke bandara. Pada saat kami tiba di airport Chengdu kami kebingungan karena harus menelfon hotel untuk minta dijemput dan kala itu gak ada satu pun yg bisa bahasa inggris, untungnya ada seorang wanita dari car rental yg baik banget mau membantu menelfon hotel tempat kami menginap untuk dijemput dan akhir nya mobil penjemput pun datang. Masalah berikutnya adalah ketika kami check in di hotel Xiangyu, semua staff malam itu sama sekali gak bisa bahasa inggris jadi terpaksa pake aplikasi translator, mana kita gak ada yg bawa cash Yuan pula kartu kredit internasional pun gak bisa dipakai di hotel itu. Akhirnya ada seorang tamu baik hati yang mau menukarkan uang CNY nya dengan Euro yg saya miliki, yang sengaja saya simpan buat survival kit.

Miyaluo

Pagi hari kami berangkat menuju Miyaluo menggunakan jasa tour yg kami dapat melalui synotrip.com dengan tour guide nya bernama Daniel. Miyaluo sendiri adalah sebuah area perbukitan yang terkenal ketika musim gugur tiba karena pepohonan disana yang berwarna warni. Jarak antara Miyaluo – Chengdu sekitar 5 jam perjalanan. Selama perjalanan kita disuguhi pemandangan yang luar biasa, jalanan yang diapit oleh bukit bebatuan yang menjulang tinggi dan sungai2 yang begitu jernih. Cuaca di Miyaluo itu beda banget lho dengan di Chengdu, kalo di Chengdu itu seringnya berawan, berkabut dan lembab sedadangkan di Miyaluo itu cerah banget langitnya biru banget dengan sedikit awan, suhunya pun jauh lebih dingin dibanding Chengdu yang pasti karena ketinggian Miyaluo jauh diatas Chengdu sih dan gak polluted. Dalam perjalanan pun kami singgah di Wenchuan sebuah kota yg terkenal dengan kejadian gempa dahsyatnya pada tahun 2008 yg menewaskan 16.000 manusia dan ribuan hilang. Namun sejak kejadian tersebut kota kecil ini dibangun oleh pemerintah dengan cepat dan membuat kota ini begitu indah dengan mempertahankan arsitektur2 tradisional nya. Penduduk disini kebanyakan merupakan suku Han, Qiang dan Tibetan. Oya meskipun kota ini kecil, disini merupakan titik terakhir kita untuk ke ATM dan beli groceries sebelum sampai di Miyaluo karena itu pedalaman banget. Selesai mengunjungi dan makan siang di kota ini kami menuju Taoping Qiang Stockade, sebuah area perkampungan untuk menjaga kesalian suku Qiang. Setelah mengunjungi tempat ini kami mengunjungi Miyaluo Scenic Area. Ketika sampai di tempat tersebut kami bertanya tanya dimana Miyaluo nya? Karena kami tidak menemukan sebuah tempat yg didedikasikan sebagai sebuah scenic area. Ternyata tour guide kami bilang kalo selama sepanjang jalan tadi itulah Miyaluo. Perjalanan yang banyak ditemui pepohonan berwarna kuning dan merah. Loh kita kira ada sebuah taman besar gtu.. Akhirnya kami pun menuju Miyaluo Village, sebagai persinggahan terakhir kami sebelum menuju hotel untuk bermalam. Jadi intinya jangan berharap banyak sama Miyaluo Scenic area, bagus sih pohonnya tapi gak se menawan pohon2 autumn di Jepang atau Amerika (kayak pernah aja) dan juga posisinya di pinggir jalan gtu jadi harus pinter2 markirnya kalo gak bisa ketabrak hehe. Selesai foto2 kami menuju arah balik ke Gurgou dan menginap disana. Gurgou merupakan sebuah kampong kecil tempat persinggahan para turis karena banyak penginapan di dalamnya. Dan serunya malam hari waktu itu ada Autumn festival jadi para penduduk local merayakannya di sebuah lapangan dengan bernyanyi, berdansa sambil barbekyu.

Miyaluo - Chengdu

Oya saya mau cerita sedikit ttg pengalaman menginap di penginapan local di Gurgou, sebut saja hotel. Di Hotel ini kami disuguhi makanan local khas Tibet karena yg punya orang Tibet. Makananannya langsung dibuat sendiri dan kala itu saya memesan sup mie dicampur daging yak, enak menurut saya karena pedas dan panas. Hati2 kalo kegigit Sichuan pepper karena rasanya bikin lidah mati rasa, semacam mint tapi menyegat banget di lidah. Pagi hari pun kami disuguhi lagi sarapan khas Tibet waktu itu saya pesen sup mie basic yg dicampur soy sauce, gak se enak ramen atau udon di Indonesia sih. Kamar hotel nya pun lumayan nyaman karena kasur nya ada heater yg mana pada saat itu suhu -2C. Tapi jangan coba2 buat lolompatan dikasur ya karena keras banget kayak kayu rata2 kasur disana seperti itu sih, keras banget. Setelah sarapan kami lanjut perjalanan menuju Bipenggou national park, nah disini katanya epic banget pemandangannya karena ada sungai yg dikelilingi pohon maple yg diujungnya terlihat gunung ygang diselimuti es. Namun sayang sekali pada saat itu antrian tiket menuju national parknya mengular butuh berjam2 baru dapat tiket dan setelah dapat tiket harus mengantri lagi naik bus menuju area nya yg telah disediakan. Akhirnya kita memutuskan untuk balik ke Chengdu dan menikmati pemandangan di perjalanan saja. di perjalanan pun kami sempat berhenti di Tibetan stockade.

Sore hari pun kami tiba di kota Chengdu dan bertemu teman2 kami yg menyusul sebelum esok hari kami ke Tibet. Di Chengdu kami mengunjugi Jinli Ancient street, sebuah pedestrian yang dipenuhi dengan tea house dan jajanan2 khas Sichuan lainnya, malam yang begitu meriah dihiasi lampion2 cantik. Kami pun menyempatkan untuk makan malam disini dan mengadakan meeting dengan tour agent kami, Yuki) untuk membahas persiapan untuk perjalanan selama di Tibet khususnya, kami diberikan obat herbal untuk mengatasi AMS (acute mountain sickness) selama dan permit untuk memasuki Tibet.

Day 1 (Mendarat di lhasa)

Kami tiba di Lhasa ibukota Tibet sekitar pukul 10 kurang setelah 2 jam perjalanan udara dari Chengdu. Selama berada didalam pesawat tak henti2nya saya memandang keluar jendela pesawat karena pemandangan yg luar biasa, hampir seluruh perjalanan ditemani pegunungan2 tandus yang diselumuti salju tipis.

Ketika kami turun dari pesawat ada perasaan aneh yang saya rasakan selain terkesima dengan pemandangan airport yg dikelilingi pegunungan yaitu perasaan yang begitu lelah dan jantung terasa berdegup kencang. Namun saat itu perasaan lelah dapat saya abaikan karena sedang euphoria mendarat di Lhasa dengan mulus ditemani cuaca yang begitu sempurna. Meskipun kami turun dari terminal domestic namun mata para sekuriti tidak luput dengan kedatangan kami sehingga kami dipanggil untuk ke kantor imigrasi untuk menunjukan Tibet Permit, untungnya permit tersebut sudah kami pegang. Setelah urusan imigrasi selesai kami segera keluar untuk menghirup udara dingin nan segar. Kita pun disambut dengan ramah oleh tour guide kami yang bernama Lobsang. Tour guide kami ini merupakan penduduk asli Tibet tepatnya berasal dari Shigatse, kota kedua terbesar setelah Lhasa. Setelah berkenalan kami pun menuju area parkir dan agak kaget tentunya karena kami menggunakan mini bus padahal kami cuma ber 6 ditambah 1 guide tour dan 1 supir. Positifnya ruang di dalam kendaraan lebih besar negatifnya kendaraan tersebut jadi kurang lincah karena kebesaran. Tapi yasudah tanpa piker panjang kami menikmati perjalanan menuju hotel di Lhasa untuk taruh barang.

Oya saya mau kasih info penting sedikit. Untuk perjalanan ke Tibet saat ini tidak diperkenankan untuk berjalan sendiri tanpa tour guide. Jadi sebelum menuju ke Tibet kita harus mengatur dan menentukan jauh hari tour guide yang akan kita gunakan. Dalam tour tersebut kita sudah diatur dari tempat menginap, durasi di Tibet, permit2 selama di Tibet (banyak banget permitnya) dan kegiatan2 khusus lainnya. 

Setibanya nya di hotel di Lhasa kami dipersilahkan untuk beristirahat oleh tour guide kami dan beliau menyarankan untuk full istirahat, kalaupun mau jalan2 disekitar hotel aja, intinya tidak ada kegiatan untuk hari ini karena sengaja disediakan waktu untuk Aklimatisasi. Aklimatisasi sendiri artinya adalah proses penyesuaian tubuh kita terhadap perubahan ekstrim kondisi/cuaca khususnya lingkungan diatas 3000mtr yang mana kadar oksigennya tipis sekali.

Day 2 (Aklimatisasi di Lhasa -Potala Palace - jokhang temple)

Hari ini kegiatan kami merupakan full walking tour mengunjungi tempat2 suci di kota Lhasa. Setelah sarapan pagi kami menuju Potala Palace yg letaknya tidak begitu jauh dari hotel tempat kami menginap, Thangka Hotel. Hal yang menarik dari Potala Palace ini adalah kami melihat begitu banyak kerumunan orang mengitari istana ini searah jarum jam tanpa henti. Ternyata orang2 ini merupakan jamaah yg biasanya datang dari luar kota Lhasa yang sedang melakukan ritual ibadahnya. Untuk memasuki Potala Palace ini kita tidak diperkenankan membawa air minum dengan alasan keamanan, lah kayak mau naik pesawat aja untung handphone boleh dinyalain hehe.. Benar saja, ketika kami baru naik satu tingkat ke Potala Palace jantung rasanya seperti habis lari marathon dan kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke puncak karena gak kuat hahaha…Bukan capek karena jauh tapi karena tipis oksigen nya.

Setelah selesai dari Potala kami menuju ke Jokhang Temple. Dengan alasan ingin merasakan kendaraan local khas Tibet kami memutuskan untuk naik becak, padahal sih capek aja males jalan hahaha.. Jokhang temple merupakan titik pusat kota Lhasa dan merupakan kuil tersuci dan tersakral bagi penganut Tibetan Buddhism. Kuil ini dikelilingi oleh Barkhor Street sebuah rute untuk para Jemaah mengelilingi Jokhang temple dan juga disini banyak sekali terdapat toko2 souvenir khas Tibetan. Pada tahun 80an Jokhang ini sering dijadikan tempat protes bagi para pendukung Dalai Lama namun sejak tahun 2008 tempat ini ditutup oleh kepolisian China untuk berdemo karena mengundang kericuhan.

Selesai dari Jokhang Temple kami tidak melewatkan kesempatan untuk berbelanja oleh2 di Barkhor Street dan mengunjungi coffee shop untuk menikmati sunset di kota Lhasa.

Day 3 (Lhasa - Ganden Monastery - Sera Monastery)

Pagi hari kami berkendara menuju Ganden/Gaden Monastery yg jaraknya 70 km dari Lhasa, sekitar 2 jam perjalanan. Kenapa lama? Karena di Tibet itu kecepatan mobil sangat dibatasi dan kalo ketangkep melebihi batas maksimum, tanpa belas kasihan SIM sang supir langsung dicabut, segitu galaknya. Hmm.. it’s a bit tricky though karena supir nya orang Tibet dan polisinya orang Tiongkok, taukan maksudnya apa.. Selama perjalanan ke Ganden Monastery kita akan disuguhi pemandangan yg tidak biasa indah, perbukitan tandus yang curam, sungai besar yang jernih dan pohon2 yang sudah menguning karena musim gugur. Highlight dari perjalanan ke Ganden ini adalah kita akan melewati Kyichu Valley sebuah rute perbukitan dari ketinngian 3500an menuju ketinggian 4200m yang berliku liku, seruuuu.. Tiba di Ganden Monastery beberapa teman saya begitu terharu karena tidak percaya akhirnya bisa sampai ke tempat yang sangat menakjubkan ini. Salah satu monastery/biara yg letaknya tertinggi di dunia 4200m diatas permukaan laut dan salah satu yang terbesar juga. Lagi lagi biara ini begitu besar ditambah udara yg lebih tipis dari Lhasa membuat gerak kami semakin terbatas. Sedikit cerita sejarah deh, jadi biara ini didirikan oleh Gelukpa atau Yellow Sect (salah satu sekte Tibetan Buddhism) pada tahun 1409. Sekte terbagi 3 yaitu, yellow hat sect, red hat sect dan black hat sect. Sekte yang terbesar adalah yellow hat sect dan Dalai Lama adalah salah satu pemimpinnya. Black hat sect memperbolehkan monks nya untuk menikah yang lain tidak.

Setelah mengunjungi Ganden Monastery kami kembali ke Lhasa untuk mengunjungi Sera Monastery. Namun salah satu teman kami menderita AMS yg cukup parah sehingga dia lebih menilih untuk tinggal di hotel saja. Tujuan kami ke Sera Monastery adalah untuk melihat debat para monks. Acara debat ini rutin dilakukan setiap hari dari jam 3 sampai 5 sore kecuali hari minggu. Seru dan rame banget liat para monks berdebat dengan para seniornya, meskipun kami tidak mengerti apa yg mereka perdebatkan. Debat ini dimaksudkan agar para junior menguasai dengan dalam isi dari scripture2 Buddhism. Selesai acara debat pun kami kembali ke hotel sembari jalan2 sekitar hotel buat beli souvenir.

Day 4 (Yamdrok Lake - Gyantse - Shigatse)

Hari ini merupakan awal dari perjalanan overland tour kami, pagi hari kami memulai perjalanan dengan rute: Yamdrok Lake, Gyantse dan menginap di Shigatse. Total perjalanan hari ini sekitar 10 jam. Bagi kalian yg mungkin akan pergi ke Tibet dan melakukan tour yang sama, perlu dicatat perjalanan hari ini merupakan perjalanan dengan pemandangan terindah yg akan kita dapat selain perjalanan menyebrangi Himalaya. Jadi sebaiknya kamera di charge penuh dan pastikan memory nya cukup untuk foto ratusan atau bakan ribuan karena emang keren banget selama perjalanan. Siang hari kami tiba di Yamdrok Lake. Cuaca hari ini begitu cerah dan terik namun sangat dingin, kami hampir tidak melihat awan selama perjalanan, oleskan sunblock sesering mungkin deh hahaha.. Yamdrok Lake merupakan salah satu danau air tawar terbesar dari tiga danau suci yang ada di Tibet. Ketinggian danau ini yaitu 4441m diatas permukaan laut, ajaiiib..

Setelah mengunjugi Yamdrok Lake kami menuju ke Karo La Pass. Sebelumnya kami sempatkan berhenti makan siang di Lhsa Restaurant tepatnya di kota kecil Nagarze. Biasanya kota2 kecil di Tibet ini kering banget sering badai debu. Setelah makan siang kami lanjutkan perjalanan ke Karo La Pass untuk melihat karo la glacier lebih dekat. Selama melakukan overland tour di Tibet kita akan menemui banyak Pass atau La, yang artinya adalah puncak gunung yang dapat diakses. Setibanya di Karo La Pass kami disambut oleh 4 gadis Tibetan sedang bernyanyi. Dibalik niat mereka yg menginginkan tips dari turisnamun apa yang mereka perbuat cukup membuat kami bahagia ketika kami sedang kehabisan nafas haha, oiya ketinggian Karo La Pass ini 5560mdpl dengan ketinggian ini membuat oksigen di udara semakin tipis.

Kami lanjut perjalanan menuju kota tua Gyantse dan berkunjung ke Khumbum Monastery. Harusnya kami menginap di kota tua ini namun melihat keadaan yg tidak begitu memadai akrinya tour guide kami melanjutkan perjalanan ke Shigatse, kota terbesar kedua di Tibet. Di tengah perjalanan kami sempatkan untuk mengunjungi ladang Barley. Barley merupakan salah satu sumber kehidupan utama bagi masyarakat Tibet. Tour guide kami disitu membeli tepung Tsampha yg akan dibuat sebagai makanan utama. Akhirnya kami sampai pada pengujung hari dan menginap di hotel Tashi Choten hotel, Shigatse. Hotel ini merupakan hotel terbaik selama kami berada di Tibet, karena kasurnya empuk, kamarnya luas, kamar mandi bersih layaknya hotel bintang 4 deh hehehe.

Day 5 (Old Tingri)

Hari ini kami bisa bangun agak siangan karena menunggu tour guide kami mengurus Alien’s Permit untuk kami bisa masuk ke Everest base camp yang dikeluarkan oleh PSB (People’s Security Bureau). Aklo gak ada permit ini kita tidak akan diperbolehkan untuk memasuki area tertutup ini (Everest Base Camp). Setelah pengurusan izin selesai kami segera melanjutkan perjalanan menuju Tashilumpo Monastery. Karena sudah kebanyakan mengunjungi monastery tour guide kami menawarkan untuk pindah haluan mengunjungi tempat kelahirannya di Shegar. Kampung ini terletak 40km dari Shigatse, oiya ada juga kota bernama Shegar tapi yang satu ini adalah sebuah kampung kecil. Akhirnya kami tiba di tempat kelahiran Lobsang, tour guide kami dan disambut oleh adik nya yang masih tinggal disini, Kami diajak untuk mengunjungi rumah tempat tinggal mereka yang masih sangat tradisional. Di dalam rumah itu sekaligus sebagai kandang kerbau miliknya. Sebagian penduduk disini bekerja sebagai petani barley dan peternak kerbau, agak jarang menemukan Yak karena biasanya Yak hidup di area pegunungan yang curam. Beruntung kami bisa mengunjungi tempat ini sehingga kami tau gaya hidup local Tibetan.

Setelah mengunjungi kampung Shegar kami melanjutkan perjalanan ke Old Tingri untuk menginap disana. Di tengah2 perjalanan kami berhenti di sebuah spot dekat New tingri karena disitu kami bisa melihat pemandagan Himalaya dengan puncak Everestnya begitu jelas meskipun agak jauh. Selama perjalanan saya mengamati begitu tandusnya pegunungan yg ada di Tibet ini, jarang sekali ditemukan pohon rindang dan rerumputan hijau, yang ada hanyalah hamparan pasir dan rumput kering yang membuat tempat ini sering sekali mengalami badai pasir. Sebelum memasuki old tingri kami harus berhenti di beberapa check point dan yang terkahir kami harus turun dari mobil karena harus cek passport dan permit lainnya. Dengan penjagaan yang sangat ketat kami pun menuju pos security untuk diperiksa dokumen2 kami mana sore itu dingin sekali -2C. Akhirnya kami lolos pemeriksaan dan bisa sampai di Old Tingri pada malam hari sekitar pukul 8 malam. Saya lupa nama hotelnya tapi menurut tour guide saya itu hotel terbaru di Old Tingri, meskipun baru tetap saja tidak ada pemanas ruaangannya.

Day 6 (Everest Base Camp)

Pagi ini kami melanjutkan perjalanan yang kali ini menuju Everest Base Camp. Jarak dari Old Tingri ke Everest Base camp sebenarnya tidak terlalu jauh sekitar 70 km namun karena keadaan jalan yg belum di aspal membuat perjalanan ini cukup lama sekitar 4-5 jam perjalanan. Sebenarnya ada jalan yg sudah bagus dari New Tingri namun pada saat ini jalan nya sedang ada perbaikan besar2an jadi gak bisa dilewati. Pemandangan yang luar biasa selama perjalanan meskipun jalannya rusak. Kami sempatkan untuk berhenti seketika untuk ambil foto dan pada saat itu dari kejauhan ada seseorang berlari kearah kami menyebrangi sungai yang sebagian sudah menjadi es. Anak kecil tersebut akhirnya menghampiri kita dan hanya tersenyum2 manis saja entah apa yg diinginkannya. Dengan melihat kondisi pakaiannya yg hanya seadanya dan sepatu yg sudah bolong kami pun iba melihatnya. Kami tak bisa membayangkan dia hidup di kondisi yg ekstrim dingin dengan pakain seadanya dan rusak pula L akhirnya kami berikan dia buah2an dan makanan yg kami bawa dari kota. Lucunya dia hanya tersenyum2 manis aja gak bilang Tho Jay Che (Terima Kasih) juga. Hahahha..

Kami pun melanjutkan perjalanan menuju Everest Base camp sudah gak sabar pengen lihat Everest dari dekat. Akhirnya kami pun tiba di Rongbuk Monastery guesthouse untuk menaruh barang2 kami. Setelah makan siang dari guest. house tersebut kami melanjutkan perjalanan ke EBC yg jaraknya hanya 8km dari Rongbuk Monastery. Kalau disaat summer mobil pribadi tidak diperkenankan untuk menuju area ini melainkan harus menaiki bus tour yang sudah disediakan dengan membayar 15 CNY. Setibanya di Everest Base Camp (5150mdpl) kami pun terharu akan kemegahannya, sebuah gunung yang mempunyai kekuatan besar dan sangat mistis ditemani hembusan angina yang begitu dingin membuat perasaan kami campur aduk. Kalo kehabisan naps sih jelas tapi karena saya terlalu bersemangat saya pun menanjaki sibuah bukit agar bisa melihat Everest lebih dekat keatas. Sungguh perasaan yang luar biasa seperti tidak ingin meninggalkan tempat ini. Namun lama kelamaan kami pun tidak bisa menahan dingin yang begitu menyengat dan oksigen yang begitu tipis dan memutuskan kembali ke guesthouse dan menikmati sunset dari Rongbuk Monastery. Sungguh luar biasa pemandangan sunset di puncak Everest, perlahan lahan cahaya emas menyapu lautan es di puncak Everest sungguh beruntung di kala itu langit begitu bersih karena biasanya kalau sudah sore kata tour guide kami puncak Everest tertutup oleh kabut.

Setelah menikmati sunset kami melanjutkan untuk makan malam di tempat kami menginap. Pada saat kami kesana terbatas sekali tempat makannya dan hanya ada di guesthouse kami menginap. Akhirnya kami pun harus tidur di guesthouse ini yg menurut saya pengalaman luar biasa menyiksa. Selain tempat tidurnya yang keras, udara yang sangat dingin meskipun sudah 4 lapis selimut karena tidak ada heater dan juga toilet yang menurut kami agak tidak beradab. Malam itu kami benar2 tidak bisa tidur karena udara yang sangat tipis dan dingin yang benar2 diluar batas normal kami. Dengan mata terbelalak kami selalu melihat jam berharap pagi dating agar kami bisa keluar secepatnya dari tempat ini.

Day 7 (Everest Base Camp - Zhangmu Nepal Border)

Jam bergerak sangat lambat malam tadi membuat kami tidak tahan untuk segera keluar dari tempat ini. Berhubung sudah jam 6 pagi kami segera membangunkan tour guide kami untuk melanjutkan perjalanan yang awalnya direncanakan pergi jam 7.30. Berhubung jam 6 pagi masih sangat gelap kami menunggu setengah jam agar setidaknya di awal perjalanan sudah muncul matahari. Untungnya mobil kami bisa langsung di starter, biasanya mobil2 disini harus menunggu lama untuk bisa dijalankan karena olinya pada beku katanya. Karena semalaman kami tidak tidur selama perjalanan balik ke Tingri kami pun tertidur. Dari Tingri kami melanjutkan perjalanan ke Zhangmu, sebuah kota perbatasan antara Tibet (Cina) dengan Nepal. Dalam perjalanan kami ke Zhangmu kita sempatkan berhenti di Tong La Pass yang merupakan pass terakhir sebelum kami berkendara membelah pegunungan Himalaya. Disini kita bisa melihat pegunungan Himalaya begitu jelas yang membentang sangat panjang diselimuti salju abadi. Sungguh pemandangan luar biasa yang tidak kami sanga2 seperti berada di planet lain. KetinggianTong La pass sendiri 5150mdpl. Berjalan di Tong la pass ini seperti sehabis berlari marathon, pengap banget haha.. Setelah puas menikmati pemandangan Himalaya kami melanjutkan perjalanan ke Zhangmu dan tiba pukul 2 siang. Kami pun santap siang di kota perbatasan tersebut. Kota ini sangat lah ramai oleh kegiatan ekspor impor, namanya juga perbatasan ya.. Salah satu teman saya melontarkan ide cemerlang pada saat itu, “kenapa kita gak langsung ke Kathmandu aja dari sini daripada harus menginap semalam lagi disini?” Tanpa piker panjang pun kami meng-iya-kan idenya karena menurut kami masih ada waktu yg cukup untuk tiba di Kathmandu. Bagusnya lagi Tour Agent kami pun menyanggupi keinginan kami untuk langsung pergi ke Kathmandu hari itu juga dengan menyediakan mobil yang sudah menunggu di perbatasan di sisi Nepal, sungguh luar biasa servis dari Windhorsetour.com ini. Dengan tergopoh gopoh melawan penduduk local kami pun bisa melewati kerumunan manusia yg ingin menyebrangi perbatasan ini. Kami pun terpaksa berpisah dengan guide tour kami di Tibet, Lobsang. Sedih bercampur senang karena disini kami bisa bernafas dengan sangat normal, membuat tubuh kami seperti habis di-charge. Setelah perpisahan yg mengharukan kami pun berlari menuju kantor imigrasi Nepal untuk mendapatkan visa on arrival. Akhirnya kami pun sampai di kantor imigrasi Nepal dan disambut ramah oleh kepala imigrasi nya. Perjalanan Nepal selanjutnya klik disini (soon).

Akhir kata perjalanan ke Tibet ini merupakan salah satu perjalanan yang memberikan banyak sekali ilmu dan pengalaman baru. Tadinya saya tidak mengenal sama sekali apa itu Tibetan Buddhism apa itu AMS dan seperti apa rasanya, seperti apa hidup di yg begitu dingin tanpa heater dan lain lain. Masyarakat local yang begitu ramah, pemandangan yang luar biasa indah dan warna langit yang begitu biru seperti berada di dunia lain.

Tips tips sebelum dan selama perjalanan di Tibet:

  • Apakah ke Tibet bisa pergi tanpa tour guide? Tidak sama sekali! Untuk saat ini harus melalui tour agent. 
  • Apakah Tibet berbahaya seperti yang di beritakan di media? Hmm..masih percaya sama media propaganda? Go there and explore the people are just nice!
  • Urus visa China dahulu dan jangan jelaskan kalau akan pergi ke Tibet. Setelah visa China keluar ajukan Tibet permit melalui travel agent yang mengurus perjalanan selama di Tibet. Biasanya harga permit ini sudah termasuk dalam harga paket tour. 2 bulan sebelum keberangkatan sudah mulai diurus
  • Waktu terbaik untuk mengunjungi Tibet? Pertengahan September sampai pertengahan October, karena suhu nya belum terlalu dingin dan langitnya sudah bersih. Saya sendiri pergi awal November dan langitnya sangat sempurnya jarang sekali saya menemukan awan namun suhu kala itu dingin banget sih.
  • Berapa lama harusnya dihabiskan untuk perjalanan di Tibet? 10 hari cukup karena bisa aklimatisasi lebih lama. Saya sendiri 8 hari karena terbatas waktu cuti (3 hari aklimatisasi di lhasa), namun menurut saya doable.
  • Adakah perlengkapan khusus yg harus dibawa dari Indonesia? Down Jacket dalam musin apapun, kacamata hitam (mataharinya mentereng banget disana) dan Tisu basah.
  • Ingat kalian mungkin akan mempunyai pengalaman terburuk ketika berhadapan dengan toilet yg ada di Tibet khusus nya di luar kota Lhasa dan Shigatse. Akan lebih menyenangkan kalau buang air kecil di bebatuan sekalian melihat pemandangan gitu qiqiqiq…
  • Bisa internetan atau telefonan gak di Tibet? Saya aja kaget begitu mudahnya internetan dan telfonan dari Tibet menggunakan provider ini 3gsolutions.com.cn
  • Hindari mengambil foto checkpoints dan polisi kalau tidak mau di bui atau deportasi.
  • Makanan di Tibet mungkin bukan yang terbaik apalagi kalo agak sentiment sama kambing karena daging yg terkenal di Tibet ini, Yak namanya itu baunya mirip kambing dan agak kuat. Bawa Indomie atau rendang!
  • Hotel di luar kota Lhasa dan Shigatse biasanya tidak ada heater jadi kalau mau bawa sleeping bag boleh2 saja. Pinjam ke travel agent nya aja bisa kok..
  • Cara terbaik untuk mengurangi efek dari altitude sickness adalah minum air yg banyak meskipun tidak haus harus tetap minum. Ada sih obat semacam Diamox atau pun chinese herbal yg biasanya tour agent akan menawarkan tapi lebih besar efek placebo nya hahaha.. Kalau sudah akut cara terbaik adalah dengan pergi ke tempat yang lebih rendah dengan kata lain pulang ke mainland Cina haha…
  • Harus cobain yg namanya Barley Beer dari local farmer kalau bisa. Kalau pabrikan biasa aja rasanya. Btw hindari alcohol ya selama di Tibet karena akan meperburuk gejala altitude sickness hehe lhaa piye tho..
  • Sediakan uang kecil banyak 10 -20 CNY buat objek orang yg akan difoto karena biasanya mereka mengharapkan imbalan. Jangan menganggap rendah ya, tapi kalau bisa kasih aja karena hidup mereka tidak sebebas dulu sebelum 1959.

Kesimpulannya mungkin sebagian orang menganggap perjalanan ke Tibet itu ribet banget, kenyataannya adalah semua sudah akan diurus oleh travel agent mulai dari permit yg banyak itu, penginapan, transportasi dll. Trip kami secara kesluruhan mungkin sangat melelahkan dikarenakan sebagian besar waktu dihabiskan dalamperjalanan menggunakan minivan melewati danau2, glacier2 dan kuil2. Tapi saya salut dengan infrastruktur yang dibangun oleh China, jalanan mulus - membelah puncak gunung yang mengagumkan. Semua itu akan terbayarkan ketika kita melihat landscape yang begitu luar biasa indah (seperti berada di planet lain) dan kebudayaan yang begitu kental. Namun cukup jelas disini bahwa perjalanan ke Tibet tidak diperuntukan bagi orang yang faint-hearted atau yg mudah menyerah. Meskipun begitu saya berfikir untuk kembali lagi kesini dalam waktu dekat, sungguh perjalanan kami yg menyimpan begitu banyak kenangan indah tak terlupakan terutama bersama teman2 baru saya yang begitu menyenangkan.

Gak lupa untuk bilang terima kasih banget buat my new travel mates yang sudah membuat perjalanan ini tak henti hentinya tertawa meskipun dalam keadaan sesak nafas dan kondisi alam yang menyiksa, para perempuan yang begitu kuat melawan Altitude Sickness, tiada sakit hati yang ada hanya "ke-ria-an", You absolutely rock guys!! So sorry ya kalau menginap di Everest Base Camp menjadi pengalaman yang begitu menyakitkan :( hahahha... Lobsang, our friendly and smart tour guide, thanks for brought us in to your neighborhood, you have a beautiful voice when you sang Tibetan song! Yuki, Thanks so much for your arrangement and flexibility, it couldn't be our perfect trip without your assistance!