ETAPORAMA
DSC_0398.jpg

STORIES

stories about traveling, music, lifestyle by etaporama

Trekking di New Zealand

Rute Trekking ke Earnslaw Burn

Rute Trekking ke Earnslaw Burn

Terlepas dari mudahnya akses untuk menikmati keindahan alam di New Zealand. Trekking di New Zealand merupakan agenda wajib yang dilakukan para pelancongnya. Selain akan terpana akan keindahan alam yang berbeda dari gambar yang teresebar pada umumnya, pengalaman trekking akan merubah cara pandang kita menikmati sebuah anugrah Tuhan, semakin kita berkorban semakin dalam kesan yang akan membekas. Bukankah itu tujuan kita traveling, demi mendapatkan kesan yang begitu mendalam agar dapat menghibur isi otak yang penuh dengan segala kekhawatiran?

New Zealand tidak membatasi para pelancongnya untuk mencoba segala jenis trekking, mulai dari paling ringan hingga paling berat. Semua informasi trekking dapat dilihat melalui situs ini. Namun sebagai orang awam yang belum pernah melakukan Trekking tanpa pemandu sebelumnya saya lebih dulu mengukur kapasitas kemampuan saya dalam melakukan trekking. Jangan sampai di tengah perjalanan, fisik dan mental ternyata tak mampu lagi melanjutkan dan tidak ada yang akan menolong, namanya juga tanpa pemandu. Oleh karena itu beberapa trekking yang saya pilih termasuk dalam kategori Easy-Walking Track. Istilah easy itu bagi penduduk lokal New Zealand yang sudah terbiasa dengan hiburan alam bebas, bagi saya warga perkotaan yang sehari2 mengendarai kendaraan bermotor rute tersebut lumayan menyita stamina. Berikut beberapa walking track yang saya lakukan selama perjalanan di New Zealand kali ini:

  • Putangirua Pinnacles Rock, Martinborough - North Island.

Kategori: Easy – Walking Track (2 sampai 4 jam pulang pergi).

Hal yang memotivasi saya untuk mengunjungi tempat ini adalah karena merupakan salah satu lokasi shooting film Lord of the Ring dalam sequence Paths of the Dead.

Terburu buru bangun dari kasur campervan yang nyaman, kami segera melakukan trekking pagi itu. Tanpa membawa peralatan trekking lengkap yang ada hanyalah kamera dan air minum perjalanan dimulai dengan melewati semak belukar. Awan menggulung tebal memayungi awal perjalanan kami menuju Putangurua Pinnacles rock. Perlahan kami membaca tanda arah yang tertancap di setiap beberapa puluh meter menunjukan kemana harus berbelok. Sesekali menemui kubangan air dan sungai kecil membuat sepatu sneakers yg saya pakai agak lembab, ya itu lah salah satu kebodohan saya bukannya memakai sepatu trekking khusus anti air yang tertinggal di mobil. Lepas dari jeratan semak belukar akhirnya kami tiba di hamparan bebatuan yang merupakan riverbed (dasar sungai yang mengering). Kami berjalan di tepian riverbed itu sampai kami melihat sebuah persimpangan dimana kami harus menanjak ke arahnya. Terlihat di kejauhan formasi batuan batuan menjulang berpuluh puluh meter tingginya. Rasa penasaran akan kemistisan wilayah ini memacu saya untuk terus mendaki batuan2 kecil yang sewaktu waktu bisa longsor terutama jika hujan lebat. Untung saja cuaca saat pendakian mulai cerah, mengusir sedikit rasa cemas kami. Keletihan terobati saat tiba di Pinnacles rock. Formasi batu yang menjulang ini terjadi akibat erosi berjuta juta tahun lamanya dan sempat di suatu zaman pada saat es di kutub mencair wilayah ini berada di bawah permukaan air laut namun timbul kembali pada zaman ice age (sekarang ini).

Puas di situs ini kami berniat untuk melanjutkan ke situs berikutnya namun setelah sampai di riverbed kami pun patah semangat melihat destinasi selanjutnya yang masih jauh dan harus mendaki ratusan meter lagi. Akhirnya kami putuskan untuk kembali ke campervan demi melanjutkan perjalanan kami yang lain.

  • Rocky Mountain (Diamond lake), Wanaka - South Island.

Kategori: Easy to Medium – Walking Track

- Diamond Lake circuit track return: 45 min; 2.5km

- Diamond Lake Lookout return: 1 jam; 2km

- Lake Wanaka Lookout return: 2 jam; 5km

Mulanya niat kami kesini hanyalah bermalam di campground yang tidak jauh dari kota Wanaka dan dengan gratis tentunya. Tidak tahu bahwa terdapat rute trekking disini namun keesokan paginya saat menyiapkan sarapan , saya melihat sebuah papan hijau bertuliskan trekking route khas Department Of Conservation, New Zealand. Sejenak saya berpikir tidak ada salahnya mencoba hal diluar rencana. Saya pun mengajak rekan saya untuk ikut menjajal trekking ini namun dengan bimbang dia lebih memilih untuk mengumpulken energi untuk trekking yang lebih besar, ujarnya. Baiklah, dengan modal nekad kali ini saya pergi sendiri saja.

Tidak pernah senekad ini sebelumnya membuat kadar cortisol saya meningkat, memerintahkan tubuh ini untuk segera buang air besar. Rasa cemas pergi sendiri, lelah telah menanjak bukit lenyap dengan keinginan besar untuk segera ke toilet. Untungnya di papan informasi disebutkan bahwa ada toilet umum dekat danau. Terdengar jorok? Mungkin, tapi pengalaman seperti ini patut diingat sebagai pengalaman yang indah. Coba bayangkan, pagi hari buang hajat diatas gunung dengan fasilitas toilet standar hanya ditemani kicauan burung dan udara segar-dingin berkabut, Surga!!

Keluar dari toilet jiwa raga ini kembali pada keadaan semula. Keadaan dimana ingin menikmati kedamaian mencoba berdiskusi hanya dengan alam. Pepohonan rindang membentuk kanopi pada jalur trekking mengarahkan pelancong mengitari Diamond lake. Seketika saya hanyut di kesendirian di tepi danau tanpa terasa waktu telah berlalu cepat. Seakan alam memberikan energi begitu besar pada badan ini, saya kembali melanjutkan pendakian menuju Lake Wanaka Lookout. Mungkin masih terlalu pagi untuk memulai trekking sampai sampai saya tidak menemukan seorang pun selama pendakian. Jalur semakin terjal menanjak dan sempit menghimpit oleh pepohonan disekitarnya. Setengah perjalanan saya berhenti di Diamond Lake lookout, melihat danau secara keseluruhan dari atas lengkap dengan awan tebal menghadang. Dengan semangat yang masih tersisa saya lanjutkan pendakian dan akhirnya sampai di Lake Wanaka Lookout. Tempat dimana kita bisa melihat keindahan kota dan danau Wanaka 180 derajat. Rasa bangga dan kegirangan mengalahkan rasa takut akan kesendirian di puncak Rocky Mountain. Melepaskan beban di pundak sembari mata berkaca kaca terharu akan keindahan alam yang Tuhan telah ciptakan. Disini pun badan mulai memberontak untuk segera diberi nutrisi yang nyata. Tiga batang snack habis saya lahap sambil melamun berharap waktu berhenti seketika. Tak berapa lama kemudian terdengar suara manusia sedang tertawa di kejauhan, mengganggu sedikit kekhusyukan, pertanda saya harus kembali ke parkiran. Selama perjalanan kembali barulah saya menemukan beberapa pelancong yang baru akan mendaki rute ini dan diantara mereka bertanya kepada saya “apakah masih jauh perjalanan nya? Apakah indah pemandangannya?” dengan lugas saya menjawab “ tidak begitu jauh dan pemandangan yang sangat luar biasa disana” berniat memberi motivasi kepada mereka.

  • Earnslaw Burn, Glenorchy – South Island.

Kategori: Advanced – Tramping Track. (8-12 jam)

Berbeda dengan trekking yang saya lakukan sebelumnya, kali ini istilahnya bukan lagi Walking melainkan Tramping. Apa bedanya? Kalau tramping itu biasanya rutenya jauh lebih panjang disertai dengan menginap. Earnslaw burn merupakan obsesi saya ketika merencanakan perjalanan ke New Zealand kali ini, berawal dari informasi yang menyebutkan bahwa tempat ini merupakan salah satu lokasi shooting film Lord of the Ring. Tidak dipungkiri bahwa gambar yang beredar di dunia maya telah mengundang saya untuk menjelajah tempat ini. Segala persiapan fisik dan mental dilakukan dengan terbatasnya informasi yang beredar di internet saya putuskan untuk melakukannya demi mendapatkan suasana di “dunia lain”.

Earnslaw Burn
Earnslaw Burn

Pagi itu saya dan satu rekan saya memulai trekking, agak telat sekitar jam 10 pagi. 20 menit berkendara dari kota kecil Glenorchy sampai tempat dimana kita parkir mobil. Awalnya agak ragu karena jalan menuju parkiran melewati ladang milik pribadi dan sesekali menyebrang sungai kecil. Namun akhirnya kami melihat ada 2 kendaraan yg sudah lebih dulu berada disana, entah mobil pelancong yang ingin trekking atau mobil yang punya lahan peternakan ini. Dengan berserah diri dan motivasi yang kuat kami berjalan perlahan penuh ragu melewati ladang ternak sampai tiba di sebuah papan yang bertuliskan “Earnslaw Burn track”. Oke tampaknya kita berjalan di jalur yang benar. Tanpa peralatan modern/GPS kami memasuki hutan hujan rindang mengandalkan tanda yang sudah ditempel oleh pihak DOC sebagai penunjuk arah. Awal perjalanan begitu terjal menembus bukit sampai sampai rekan saya harus memuntahkan isi perut yang baru saja diisi. Bukit pertama terlewati hingga bertemu dengan padang rumput, sejenak kami beristirahat padahal baru sekitar 1 jam pendakian. Kami lanjutkan perjalanan dengan hutan yang lebih lebat didepan siap menghadang. Masuk ke dalam hutan rute mulai agak ekstrem namun masih dapat dilihat jelas jejak para penjelajah sebelumnya. Dengan penuh konsentrasi saya membaca petunjuk arah yang telah tertancap di batang pohon setiap beberapa ratus meter. Tanjakan terjal kami lewati, turunan licin harus ditelusuri, seketika kami terjerembab di sebuah lembah kehilangan petuntuk arah entah harus lewat mana, harus mendaki lagi agar terlihat petunjuk arahnya. Berulang ulang hal itu terjadi, namun kami tidak patah semangat. Entah kenapa pada saat itu energi yang saya miliki begitu besar hingga tidak berkeringat ataupun ngos ngosan, disatu sisi rekan saya secara terjadwal minta beristirahat sejenak karena sudah lelah, saya pun harus bertenggang rasa. Semakin dalam kami masuk kehutan perlahan jejak kaki mulai menghilang, hanya mengandalkan isyarat dari petunjuk yang tertempel dan keberanian yang besar. Seketika kami berpapasan dengan pelancong lain yang berkata “kami harus pulang karena di sungai ketiga kami tidak lagi dapat menemukan arah menuju Earnslaw Burn” , Demotivated? Sama sekali tidak, justru memotivasi untuk membuktikan diri kalau saya bisa menembus rute ini, sebuah rute yang juga jarang dilalui oleh pengunjung lokal.

Hari semakin petang pertanda harus makan siang, dengan menu hot chocolate dan snack bar cukup membuat kami kenyang. Bukannya semakin ringan, medan kali ini semakin menantang. Berkali kali kami harus melewati sungai bebatuan yang sangat licin dengan jalur yang sangat terjal. Ketika tapak mulai menurun jangan senang dulu, ingat didepan pasti tanjakan lagi, begitu terus menerus. Mengindari lumpur sudah tidak mungkin dilakukan. Sungguh jalur pendakian yang menyita fisik dan emosi. Sudah 7 jam perjalanan ini dilakukan namun tanda2 Earnslaw burn masih hilang timbul di kejauhan, sesekali terlihat puncak gunung Earnslaw tertutup kembali oleh lebatnya pepohonan. Keadaan semakin mencekam, hari semakin gelap, pundak semakin sakit menahan beban namun kita masih berada di tengah hutan, ditengah raksasa pepohonan yang rapuh. Teman saya pun melemparkan ide untuk segera membangun tenda disini, “tidak mungkin disini, disini terlalu beresiko, lihat saja pohon pohonnya, gak takut roboh apa?” ujar saya. Teman saya menimpali “ok, kita jalan beberapa saat lagi sampai ketemu tepian sungai, kebetulan di depan terlihat sungai di pinggir track”. Sedikit ketegangan terjadi, seraya berujar “udah gila apa? Kalo tiba tiba lagi tidur ada air bah gimana? Yang ada kita hanyut!”. Ya, pada saat itu kita sedang dilanda kepanikan, keletihan tanpa petunjuk sudah dimana kita berada. “Sudah kita lanjutkan saja perjalannnya sampai ketemu padang rumput baru kita bisa bangun tenda” ujar saya. Teman saya pun membalas “emang lo tau dimana padang rumputnya?”, dengan santai dan percaya diri saya membalas “udah dekat, tenang aja”. Akhirnya dia bisa menerima keputusan saya untuk melanjutkan perjalanan penuh sensasi ini. 

ekiri kekanan mata ini awas akan ancaman, sembari melihat kesempatan dimana ada tanah dataran. Tak terasa sudah hampir pukul 6 sore, matahari sudah lebih dulu bersembunyi. Namun terlihat didepan ada titik terang , jalur semakin lapang, jantung pun berdegup kencang, pertanda ada kemungkinan segera membangun tenda. Benar saja disisi jalur track terdapat beberapa area yang bisa kita inapkan tanpa cemas akan bahaya pohon roboh ataupun air bah. Berpacu dengan hilangnya cahaya kami segera membangun tenda. Melucuti beban di pundak, sejenak saya berlari melanjutkan rute ini sampai pada suatu titik dimana sungai membentang luas dengan hutan di kejauhan. Teringat informasi di internet bahwa tidak jauh lagi sebenarnya Eranslaw burn dari sini, sekitar 4 km. Saya kembali berlari ke tenda sambil menuai canda “eh di depan udah sungai terakhir dan hutannya dikit lagi, mau lanjut aja nggak? Keliatan juga kok penunjuk arahnya.” sontak teman saya membalas dengan serius “mau jam berapa lagi sampai nya! emang lo bisa bangun tenda malem2?” melerai suasana “hehe becanda gue, besok pagi aja kali ya kalo gak capek kita lanjut” ujar saya.

Tangan mulai membeku, gelap mulai menyerbu membuat proses membangun tenda sedikit terhambat. Namun akhirnya tenda itu dapat berdiri kokoh diatas permukaan yang sedikit miring. Berusaha menghangatkan malam, kami masak di di dalam tenda tertutup. Malam semakin kelam, sejenak kepala ini menegok keluar membuat mata ini buta. Tidak ada yang bisa dilihat sedikitpun kecuali bias cahaya tenda dan tebaran bintang yang terhalang olehh gugusan tebing di sekitaran. Tak lama kemudian suara gemericik bertabu pada tenda tipis kami. Dengan penuh keraguan akan kuatnya tenda ini menahan air membuat saya terjaga sepanjang malam. Semakin derasnya hujan malam itu membuat saya cemas, takut tenda ini hanyut terbawa longsor karena letaknya yang miring. Saya hanya berdoa, cepat pagi , cepat pagi ya Tuhan… Kuatnya fisik ada batasnya mungkin saya sempat juga tertidur lelah.

Tak disadari langit berubah warna keunguan tanda malam berganti hari. Segera kami menyiapkan sarapan untuk memberi energi raga ini. Obsesi terluluh lantahkan oleh keadaan mental dan fisik di pagi itu, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanana ke Earnslaw Burn melainkan kembali pulang. Tidak hanya itu tenda, matras, sleeping bag teman saya pun terpaksa ditinggal begitu saja demi mengurangi beban di pundak kami yang sudah memar. Hujan dari semalam terus menerus mengikuti perjalanan kami pulang. Motivasi kali ini sudah berbeda, saya hanya ingin tidur di kasur hangat, mengeringkan badan yang sudah mengeriput. Berlari saya melewati rute trekking ini dengan seringkali terjungkal, tak apa yang penting cepat sampai! Bukannya lebih mudah, namun beberapa penunjuk arah menghilang begitu saja, banyak sekali pohon roboh melintang menghadang rute trekking ini. Beberapa kali kami kehilangan arah membuat perjalanan pulang begitu meletihkan. Sejenak kami beristirahat ditepian mata air sambil melepaskan dahaga langsung dari tangan Tuhan, sungguh kesegaran surgawi! Ancaman datang silih berganti, mulai dari debit air sungai meningkat, kabut tebal menggulung dari atas gunung hingga lumpur yang semakin gembur. Tidak ada satupun kami menemui manusia selama perjalanan pulang membuat suasana semakin mencekam. Berdoa dan konsentrasi hanya itu yang bisa kita lalukan di tengah suramnya hutan. Waktu berlalu sampai akhirnya kami bertemu padang rumput kembali, pertanda jalan pulang sudah dekat! Tempat dimana teman saya kemarin semaput! Semakin dekat dengan tujuan semakin kencang saya berlari, tak tahan membendung air mata melihat mobil menunggu setia. Melepaskan emosi sesaat berteriak kencang sambil berdansa, merayakan keselamatan dengan mengengguk sebotol wine.

 

Tanya: Apakah saya kapok untuk naik gunung?

Jawab: Tidak sama sekali, justru bikin nagih.

Tanya: Apakah ingin kembali ke Earnslaw Burn?

Jawab: 100% ingin kembali! Ya saya harus menaklukannya satu waktu!